Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Salah Kaprah SAKIT sebagai Alasan Penghapus Kesalahan Pidana

ARTIKEL HUKUM
Baik berbagai artikel para akademisi hukum maupun praktik peradilan, patut kita prihatin karena telah secara melenceng dari falsafah dasar ‘alasan pemaaf’ pemidanaan. Bila kita kembali pada konsep dasar asas hukum pidana, ‘alasan pemaaf’ maupun ‘alasan pembenar’ baru dapat diakui validitasnya ketika terdapat alasan pembenar ataupun pemaaf tersebut saat suatu tindak pidana terjadi (tempus delicti)—bukan pada saat si pelaku dihadapkan ke persidangan.
Sebagai contoh, seorang algojo mendapat surat perintah dari pengadilan untuk mengeksekusi terpidana mati, maka terdapat alasan pembenar baginya untuk mencabut nyawa tereksekusi. Namun sang eksekutor yang telah terlebih dahulu mengeksekusi, tak dapat dibenarkan bila kemudian baru meminta surat perintah eksekusi, a license to kill.
Berbagai telaah teori hukum maupun praktik peradilan hingga saat ini ternyata mengalami kemunduran dalam segi konsep-konsep sederhana yang paling mendasar. Kini, berbagai Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) ‘latah’ terhadap fenomena dilepaskannya Mantan Presiden RI Soeharto dari jerat peradilan pidana, dengan alasan sang pemimpin Orde Baru yang dijungkalkan oleh aksi revolusi rakyat, mengalami penurunan fungsi kognitif.
Alhasil, berbagai tersangka dan terdakwa Tipikor kini menggunakan tren serupa: mendadak jatuh sakit, mendadak pikun, mendadak lupa, mendadak pingsan, dan mendadak demensia, mendadak lumpuh, mendadak suci. Sistem peradilan yang sehat tidak justru ‘didikte’ oleh para terdakwa.
Mindset perlu dibalik: terdakwa itu sendiri yang akan merugi bila mangkir dari jadwal sidang yang telah ditentukan, karena peradilan Tipikor selaku peradilan atas kejahatan luar biasa korupsi (extra-ordinary crime) seperti halnya kejahatan genocide, etnis cleansing, ataupun kejahatan kemanusiaan lainnya, dapat diadili secara in absentia—hadir atau tidak hadirnya terdakwa tidak menghalangi proses pencarian fakta dan penegakan hukum; karena keadilan bukan hanya monopoli hak terdakwa ataupun tersangka, namun juga adalah hak korban dan seluruh rakyat Indonesia.
Pengadilan bukan hanya mengadili dan menghukum terdakwa/terpidana. Pengadilan bukan hanya lembaga penghukum, namun lembaga pemberi dan penegak keadilan. Karena fungsinya sebagai lembaga penegak keadilan, maka ada dua pihak yang menjadi pemangku kepentingan: pihak pelaku dan pihak korban.
Dalam kedudukan kepentingan korban, pengadilan tetap harus digelar dan dibuka serta hukuman harus tetap dijatuhkan, hadir atau tidaknya pelaku, bagi para korban untuk diberikan keadilan. Jadi mengapa konsepnya bahwa pengadilan hanya untuk memberi keadilan bagi tersangka? Bagaimana dengan harkat dan kepentingan hukum para korban? Disinilah bentuk konkret ketidakadilan fungsi peradilan yang masih diadopsi oleh sistem peradilan Indonesia.
Mengapa pengadilan sejak awal diposisikan untuk berpihak pada pelaku? Bila para korban telah hadir dengan cara melaporkan tindak pidana, bersedia dan siap hadir sebagai saksi korban di persidangan, maka hakim menolak mengetuk palu keadilan hanya karena terdakwa menolak untuk hadir dengan alasan ‘mendadak jatuh sakit’?
Para korban telah lama menunggu agar dirinya mendapat keadilan. Namun mendapati dirinya bagai mengemis agar pelaku bersikap jantan untuk mau berbesar hati agar diadili. Mengapa pengadilan kemudian memposisikan diri korban sebagai ‘pengemis’?
Dalam stelsel pembuktian pidana, terdapat setidaknya 6 (enam) jenis alat bukti, yakni alat bukti petunjuk, alat bukti surat, alat bukti keterangan ahli, alat bukti saksi, alat bukti data digital/elektronik, dan sementara itu yang paling rendah derajatnya ialah alat bukti keterangan terdakwa.
Terdakwa dapat diasumsikan akan membantah dakwaan Jaksa, sehingga hakim cukup menopang analisa tuntutan jaksa berdasarkan kelima alat bukti lainnya ditambah circumstantial circumstances. Dengan kata lain, ada atau tidaknya keterangan terdakwa adalah bukan prasyarat mutlak. In absentia-nya Terdakwa dapat diartikan sebagai suatu bantahan dari Terdakwa, dan kerugian bagi pihak Terdakwa itu sendiri.
Kembali pada falsafah alasan pemaaf dalam pemidanaan, pikun / gila / tidak waras / sakit / keadaan mendesak / perintah atasan / gelap mata atau alasan apapun lainnya yang dapat dibuat secara ‘kreatif sekaligus tidak sehat’, hanya dapat diakui validitasnya bila keadaan mental tersebut menguasai jiwa terdakwa saat melakukan tindak pidana kejahatan.
Menjadi pikun / gila / rabiesnya Terdakwa saat Terdakwa baru dijadikan pesakitan di ‘meja hijau’, tidak menghapus kesalahan pidana dan tidak menjadi alasan pemaaf atas perbuatan yang telah dilakukannya. Peradilan bukan merupakan fasilitas pencuci noda dosa. Sejarah tidak bisa dihapus hanya karena dipungkiri keberadaannya.
Seseorang yang bertobat, tetap akan menanggung buah karma buruk yang telah dibuatnya saat dirinya masih dikuasai berbagai perilaku buruk. Tobatnya seseorang ialah tidak lain untuk menolong dirinya sendiri agar tidak semakin banyak rentetan buah karma buruk yang akan dipetiknya dikemudian hari.
Seorang pelaku korupsi yang menghabiskan kekayaan hasil dari ‘jirih payah’ aksi korupsi dengan mengkonsumsi dan menyantap makanan serta minuman yang tidak sehat bahkan merusak sehingga jatuh sakit dan mengalami infeksi selaput otak, sebagai contoh, adalah urusan sang pelaku itu sendiri. Tidak bisa menjadi alasan penghapus kesalahan saat dirinya kemudian ditangkap dan dihadapkan ke persidangan untuk diadili.
Sama seperti seorang pelaku kejahatan, tak pernah bertanya pada korbannya, apakah korbannya itu siap dieksekusi oleh dirinya.
Baiklah, kita anggap saja penulis yang keliru dan praktik peradilan saat ini telah benar sesuai dengan teori-teori canggih yang penulis tidak pahami makna dan kegunaan teori-teori yang kian tinggi teknikalisasinya tersebut.
Tapi bila kita mau berbicara jujur, peribahasa tua mengajarkan kita bahkan sejak bangku Sekolah Dasar: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian—bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Adalah lebih kekanakan dari kanak-kanak bila pelaku kejahatan tidak mau bersikap dewasa dan sadar hingga menjelang masa senja hidupnya. Semua orang tahu, harta tidak dibawa selepas kematian.
Lebih baik dirinya menebus kesalahan selagi masih ada kesempatan, mengikuti teladan Nazaruddin yang kemudian memilih menjadi justice collaborator, alih-alih berlagak pikun, dirinya justru membantu para penegak hukum dengan memberikan dan membuka seluruh keran informasi yang membuat Anas Urbaningrum terbukti hanya sesumbar ketika berkata lantang: “Saya akan gantung diri di Monas bila terbukti korupsi !
Penulis yakin, dalam kehidupan berikutnya, Nazaruddin tidaklah akan masuk ke dalam neraka. Ia sudah menebus kesalahannya di muka Bumi, dengan tulus dan sepenuh hati membantu penegak hukum pada akhirnya, dan bahkan kita patut mendoakannya agar beliau masuk surga nantinya. Berbagai upaya Nazaruddin sungguh menyentuh hati para penegak hukum, dimana KPK pastinya sangat mengapresiasi dirinya sebagai man of the year kala itu.
Terhadap Anas Urbaningrum, berhubung dirinya telah ingkar janji untuk gantung diri di Monas, biarlah ia membayar rangkaian kebohongannya di alam baka. Di dua alam dirinya akan mati membusuk di sel—kecuali dirinya mampu membeli ruang VIP di lapas Indonesia yang ‘serba ada’.
Para pebisnis kotor beramai-ramai menggunakan fasilitas tax amnesty. Sebenarnya peradilan menyerupai tax amnesty, yakni: kau masuk penjara dan bayar uang pengganti serta denda, maka dosamu bisa dipangkas / di-‘korting’ dikehidupan ini juga.
Sayangnya, fenomena antusiasme warga atas fasilitas tax amnesty ini tidak berbanding lurus dengan para pelaku kejahatan, terutama pelaku Tipikor, yang diharapkan agar berbondong-bondong menampilkan dirinya sebagai terdakwa agar mendapat hukuman.
Hidup senang bebas dari pidana sembari menikmati uang kotor hasil perbuatan korup, kebal hukum, imun, dikelilingi para suporter pendukung penjilat bayaran, terpilih kembali sebagai pejabat oleh rakyat lewat Pilkada (yang anehnya dipilih kembali oleh para warga pemilih yang demokratis), memiliki banyak isteri dan tidur dengan perut dalam keadaan kenyang, sementara dikehidupan selanjutnya akan membayar semua kelakuan busuk dirinya sendiri.
Sialnya bagi para pelaku korupsi, penyesalan selalu datang terlambat. Semua orang tahu itu, tapi semua orang hampir-hampir melanggar kesadarannya itu sendiri. Tiada yang lebih ironis daripada ketamakan seorang makhluk mamalia bernama ‘homo sapiens’.
Terkadang, orang dewasa adalah lebih dungu dari seorang anak kelas Sekolah Dasar yang lugu. Seperti halnya diri kita sewaktu masih di Taman Kanak-Kanak, akan menghabiskan dahulu makanan kita yang ada, sementara coklat dan gula-gula akan disantap di penghujung acara makan siang.
Orang dewasa justru sebaliknya: merusak kesehatan dikala muda, menderita penyakit dikala tua dengan menjadi benalu bagi anggaran negara untuk membiayai kesehatan warga dari pajak yang ditanggung oleh rakyat yang susah payah membangun pola hidup sehat.
Entah, kita ini layak disebut pintar atau bodoh. Atau, pintar sekaligus bodoh. Pintar-pintar tapi bodoh. Pin-pin-bo. Alam batin pelaku kebusukan memang membingungkan. Bahkan seorang manusia dapat dengan teganya menumbalkan hidup anaknya sendiri demi kepentingan pribadi.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan