Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Mangkir dalam Mogok Kerja yang Dikualifikasi Mengundurkan Diri

LEGAL OPINION
Question: Apa rambu-rambunya ketika perusahaan secara hukum berhak menyatakan pekerja yang melakukan mogok kerja telah masuk dalam kategori mengundurkan diri?
Brief Answer: Mangkir yang menjadi buntut dari mogok kerja, sekalipun dilakukan secara tidak sah, tidak secara serta-merta pihak Pekerja/Buruh dimaknai sebagai ‘pengunduran diri’. Terdapat beberapa persyaratan ketika pihak Pekerja dipandang melepas hubungan kerja dalam aksi mogok kerja, dimulai dari paramater:
- Apakah pihak Pengusaha bersikap kooperatif dengan menunjukkan itikad baik untuk membuka ruang dialog dan perundingan atas tuntutan pihak Pekerja ?
- Apakah pihak Pekerja/Buruh yang melakukan mogok kerja dan mangkir dalam rentang waktu tertentu, telah sesuai dengan lamanya mangkir minimum sebelum jatuh dalam kategori mengundurkan diri ?
- Serta apakah ada surat panggilan kembali masuk bekerja bagi para pelaku mogok/mangkir kerja secara patut dan layak ?
PEMBAHASAN:
Ilustrasi kasus berikut dapat memberi cerminan, lewat putusan Mahkamah Agung RI sengketa PHK register Nomor 749 K/Pdt.Sus-PHI/2015 tanggal 14 Januari 2016, perkara antara:
- 47 orang pekerja, sebagai Para Pemohon Kasasi dahulu Para Tergugat; melawan
- SALAM PASIFIC INDONESIA LINES, selaku Termohon Kasasi dahulu Penggugat.
Perselisihan hubungan industrial berujung PHK ini, berawal dari mogok kerja yang tidak sah yang dilakukan oleh Para Tergugat selaku Pekerja pada tanggal 7 Oktober 2014 sampai dengan 14 Oktober 2014 (selama 7 (tujuh) hari) dan selama itu, Para Tergugat telah tidak masuk bekerja/mangkir. Terhadap tindakan mangkir demikian, Penggugat telah memanggil para Pekerjanya ini sebanyak 2 (dua) kali secara patut dan tertulis, akan tetapi Para Tergugat tidak memenuhi panggilan agar kembali masuk bekerja.
Terhadap gugatan pihak Pengusaha, Pengadilan Hubungan Industrial Jakarta Pusat kemudian memberikan putusan Nomor 293/Pdt.Sus-PHI/2014/PN.JKT.PST, tanggal 30 April 2015, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
Dalam Pokok perkara
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan putus hubungan kerja antara Penggugat dengan Para Tergugat terhitung sejak putusan ini diucapkan;
3. Menghukum Penggugat untuk membayar kepada Para Tergugat berupa uang pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak, yang seluruhnya berjumlah sebesar Rp2.000.683.750,00 (dua miliar enam ratus ribu delapan puluh tiga ribu tujuh ratus lima puluh rupiah);
4. Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya.”
Baik dari pihak Pekerja maupun pihak Pengusaha, sama-sama mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan yang mengandung kaedah hukum serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“mengenai alasan Pemohon Kasasi I (Para Pekerja) dan Pemohon Kasasi II (Pengusaha):
“Menimbang, bahwa keberatan-keberatan Pemohon Kasasi dapat dibenarkan, karena meneliti dengan seksama memori kasasi I dan memori kasasi II, dihubungkan dengan pertimbangan putusan Judex Facti dalam hal ini putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, ternyata Judex Facti telah salah menerapkan bukum dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1. Bahwa pertimbangan Judex Facti yang pada pokoknya mogok kerja dilakukan oleh Para Tergugat bukan akibat gagalnya perundingan sudah tepat karena terbukti Penggugat bersedia melakukan perundingan atas permintaan berunding Bipartit dari Para Tergugat (Vide bukti P.l s/d P. 6, T.5 dan T.6) sehingga sesuai Pasal 4 Kepmenakertrans No. 232/Men/2003 untuk menyatakan adanya gagal perundingan harus dinyatakan dengan Risalah Perundingan dan ternyata dalam perkara aquo tidak ada bukti Risalah gagalnya perundingan;
2. Bahwa pertimbangan Judex Facti yang pada pokoknya menyatakan pemanggilan yang dilakukan Penggugat 2 (dua) kali berturut-turut tidak sah karena tenggang waktu antara pemanggilan I dengan II tidak dilakukan dalam waktu 7 (tujuh) hari adalah pertimbangan yang salah karena yang dimaksud 7 (tujuh) hari dalam ketentuan Pasal 6 ayat (2) Kepmenakertrans Nomor 232/Men/2003 adalah lamanya mangkir 7 (tujuh) hari, sedangkan tenggang waktu antara Pemanggilan I dengan II tidak diatur waktunya;
3. Bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas maka diperoleh fakta hukum bahwa mogok kerja yang dilakukan oleh Para Tergugat tidak sah dan Penggugat telah memanggil Para Tergugat sebanyak 2 (dua) kali namun ternyata dalam waktu 7 (tujuh) hari lebih Para Tergugat tidak bersedia masuk kerja sehingga tindakan pemutusan hubungan kerja oleh Penggugat sah sebagaimana dimaksud ketentuan Pasal 142 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 jo. Pasal 6 Kepmenakertrans Nomor 232/Men/2003;
4. Bahwa dengan demikian kompensasi PHK terhadap Para Tergugat yang harus dibayar oleh Penggugat sesuai ketentuan Pasal 28 angka 1 kolom Mengundurkan Diri Peraturan Perusahaan (vide bukti P.412) yang masa kerjanya lebih dari 3 (tiga) tahun perhitungannya sesuai ketentuan Pasal 28 Peraturan Perusahaan, sedangkan yang masa kerjanya kurang dari 3 (tiga) tahun dengan mempertimbangkan ketentuan Pasal 26B huruf d jo. Pasal 28 Peraturan Perusahaan maka patut dan adil diberikan 1/2 (setengah) bulan upah. Renvoi Pasal 28 angka 1 Peraturan Perusahaan semula masa kerja 3 (tiga) tahun direnvoi menjadi 6 (enam) tahun tidak sah karena tidak mendapat pengesahan dari Instansi Ketenagakerjaan yang berwenang, dengan demikian hak-hak Para Tergugat sebagai berikut: ...;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, Mahkamah Agung berpendapat, terdapat cukup alasan untuk menolak permohonan kasasi Pemohon Kasasi I dan mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi II tersebut dan membatalkan putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 293/Pdt.Sus-PHI/2014/PN.Jkt.PSt. tanggal 30 April 2015 selanjutnya Mahkamah Agung akan mengadili sendiri dengan amar sebagaimana yang akan disebutkan dibawah ini;
M E N G A D I L I :
I. Menolak permohonan kasasi dari Pemohon kasasi I (Pekerja): ... tersebut;
II. Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon kasasi II PT. SALAM PASIFIC INDONESIA LINES, tersebut;
III. Membatalkan putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 293/Pdt.Sus-PHI/2014/PN Jkt PSt. tanggal 30 April 2015;
MENGADILI SENDIRI :
- Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebahagian;
- Menyatakan Putus Hubungan Kerja antara Penggugat dengan Para Tergugat sejak tanggal 15 Oktober 2014 karena dianggap mengundurkan diri sebagaimana dimaksud Pasal 6 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP.232/MEN/2003 tentang Akibat Hukum Mogok Kerja Yang Tidak Sah;
- Menghukum Penggugat membayar kompensasi PHK kepada pada Para Tergugat sejumlah: ...
- Menolak gugatan Penggugat selain dan selebihnya.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan