Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Yurisdiksi Kewenangan Pengadilan terkait Harta Boedel Pailit

LEGAL OPINION
Question: Bila yang akan digugat ialah terkait boedel pailit, maka pengadilan mana yang berwenang memeriksa dan memutus?
Brief Answer: Pengadilan Niaga yang memutuskan perkara kepailitan, masuk dalam register “gugatan lain-lain” kepailitan. Sehingga bukan menjadi kompetensi absolut Pengadilan Negeri, namun Pengadilan Niaga.
Untuk itu perlu dianalisa terlebih dahulu, objek gugatan merupakan bagian dari boedel pailit ataukah bukan. Meski demikian SHIETRA & PARTNERS memiliki pendapat yang sedikit berlainan dari pandangan umum kalangan Hakim Niaga. Bila sengketa kepailitan masih dalam masa insolvensi, dimana hak kreditor separatis atas agunan yang diikat jaminan kebendaan masih menjadi kewenangan mutlak kreditor separatis karena agunan belum jatuh pada boedel pailit meski debitor telah jatuh dalam keadaan pailit. Dalam rezim hukum kepailitan di Indonesia, pailitnya debitor tak diartikan otomatis jatuhnya seluruh harta kekayaan debitor pailit pada boedel pailit.
Konsekuensi dari belum jatuhnya agunan yang dikuasai kreditor separatis pada boedel pailit, maka atas objek agunan yang dipersengketakan belumlah menjadi kewenangan Pengadilan Niaga maupun kurator, namun masih merupakan kewenangan mutlak Pengadilan Negeri dan kreditor separatis. Kecuali, masa insolvensi kepailitan telah lewat waktu atau bila kreditor separatis menelantarkan agunan sehingga jatuh pada boedel pailit dibawah penguasaan kurator, barulah menjadi yurisdiksi Pengadilan Niaga.
PEMBAHASAN:
Kasus dalam ilustrasi berikut menjadi contoh tren pengadilan atas permasalahan hukum diatas, yakni putusan Pengadilan Negeri Surabaya sengketa boedel pailit register Nomor 545/Pdt.G/2014/PN.SBY tanggal 29 JUNI 2015, perkara antara:
- PT. INTEGRA LESTARI (Dalam Pailit), sebagai Penggugat; melawan
- 1. SUWANDI, S.H., 2. MARDIANSYAH, S.H., 3. SUMARSO,S.H.M.H., selaku Tergugat I;
- PT. BANK NEGARA INDONESIA (Persero), Tbk, sebagai Tergugat II;
- PT. BANK INTERNASIONAL INDONESIA,Tbk., sebagai Tergugat III;
- PT. BANK CIMB NIAGA, Tbk., sebagai Tergugat IV;
- Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Sidoarjo, selaku Turut Tergugat I;
- Kepala Kantor Pertanahan Kab. Mojokerto, selaku Turut Tergugat II.
Berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya No. 06/PKPU/2013/PN.Niaga.Sby., tertanggal 30 Juli 2013, PT. Integra Lestari telah dinyatakan dalam keadaan pailit dengan segala akibat hukumnya sejak tanggal 30 Juli 2013.
Pihak kurator membantah, bahwa gugatan Penggugat terkait dengan proses kepailitan khususnya budel pailit yang dilelang oleh Targugat I di KPKLN/Turut Tergugat I dimana obyek gugatan adalah budel pailit dari PT. Intergra Lestari (Penggugat/debitor), serta yang menjadi Tergugat I adalah Kurator dari Penggugat yang dinyatakan pailit, oleh karena itu maka Pengadilan Negeri Surabaya tidak berwenang untuk mengadili perkara ini karena pokok perkara gugatan adalah mengenai harta yang termasuk dalam budel pailit seharusnya gugatan Penggugat diajukan ke Pengadilan Niaga.
Penggugat mendalilkan bahwa Pengadilan Negeri Surabaya berwenang memeriksa gugatan perbuatan melawan hukum dari Tergugat I, Tergugat II, Tergugat III dan Tergugat IV yang membawa kerugian pada Kreditor Separatis, Debitor dan Kreditor Konkuren.
Perbuatan melawan hukum yang dilakukan Tergugat I, disebabkan tidak mengurus harta budel pailit secara optimal, padahal harga lelang budel pailit semakin menurun dari semula lelang pertama sebesar Rp. 265.000.000.000,- (dua ratus enam puluh lima milyar rupiah) menjadi terjual dengan harga 118.010.000.000,- (seratus delapan milyar sepuluh juta rupiah); hal ini menunjukkan ketidak-profesionalnya Tergugat I dalam mengurus harta budel pailit sehingga tentunya merugikan pihak kreditor separatis itu sendiri—meski disaat bersamaan SHIETRA & PARTNERS justru menilai kesalahan paling utama terletak pada pembiaran / penelantaran agunan oleh pihak Kreditor Separatis sehingga jatuh pada boedel pailit.
Penulis menyampaikan, bila saja Kreditor Separatis memanfaatkan dengan baik momen masa insolvensi, maka agunan tidak akan jatuh pada boedel pailit, dan kurator tidak memiliki hak untuk mengurus ataupun memungut dari hasil parate eksekusi terhadap agunan. Sangat disayangkan, nilai agunan jatuh hingga separuh harga di tangan pengurusan kurator.
Terhadap gugatan Penggugat serta sanggahan Tergugat, Majelis Hakim membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Bahwa oleh karena eksepsi Para Tergugat mengenai kewenangan mengadili (kompetensi absolut) maka berdasarkan Pasal 136 HIR / 162 RBg Pengadilan harus mempertimbangkan terlebih dahulu eksepsi tersebut;
“Menimbang, bahwa berdasarkan surat bukti permulaan yang diajukan oleh Tergugat I, Tergugat II, Tergugat III, yaitu surat bukti bertanda T.I,1; T.II.1; TIII.I; berupa Turunan Putusan No. 06/PKPU/2013/PN.Niaga. Sby, tanggal 30 Juli 2013, dihubungkan dengan keterangan tiga orang saksi yang diajukan oleh Penggugat dapat disimpulkan bahwa berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya No. 06/PKPU/2013/PN.Niaga.Sby., tertanggal 30 Juli 2013, Penggugat / PT. Integra Lestari telah dinyatakan dalam keadaan pailit dengan segala akibat hukumnya sejak tanggal 30 Juli 2013;
“Menimbang, bahwa sebagai konsekwensi logis bahwa Penggugat (Debitor) dinyatakan Pailit pada tanggal 13 juli 2013 maka:
- Kurator (Tergugat I) berwenang melaksanakan tugas pengurusan dan/atau pemberesan atas harta pailit sejak tanggal putusan pailit diucapkan meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi atau peninjuan kembali (pasal 16 ayat 1 UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang);
- sejak dimulai pengangkatannya, Kurator (Tergugat I) harus melaksanakan semua upaya hukum untuk mengamankan harta pailit dan menyimpan semua surat, dokumen, uang, perhiasan, efek dan surat berharga lainnya dengan memberikan tanda terima (Pasal 98 UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang);
- Debitor / Penggugat /P.T. Integra Lestari demi hukum kehilangan haknya untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang termasuk dalam harta pailit, sejak tanggal putusan pailit diucapkan (Pasal 24 ayat 1 UU No. 24 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang);
- Segala tindakan Penggugat hukum harus diwakili oleh Kurator yakni Tergugat I sebagaimana ketentuan dalam Pasal 26 ayat (1) UU No. 24 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang;
“Menimbang, bahwa setelah Majelis Hakim mempelajari gugatan Penggugat ternyata gugatan Penggugat terkait dengan proses kepailitan khususnya budel pailit yang dilelang oleh Targugat I di KPKLN / Turut Tergugat I, atau dengan kata lain obyek gugatan dalam perkara a quo adalah budel pailit dari PT. Intergra Lestari Dalam Pailit (Penggugat); yang mana dalam gugatan a quo Penggugat / P.T. Integra Lestari selaku Debitor telah menggugat pihak-pihak sebagai berikut :
- Tergugat I selaku Tim Kurator PT. Integra Lestari;
- Tergugat II, Tergugat III, Tergugat IV selaku Kreditor;
“Menimbang, bahwa sesuai ketentuan Pasal 3 ayat (1) jo. Penjelasan Pasal 3 ayat (1) jo. Pasal 1 angka (7) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, bunyi selengkapnya adalah:
- Pasal 3 ayat (1) UU Kepailitan dan PKPU, yang menyatakan : “Putusan atas Permohonan Pernyataan Pailit dan hal-hal lain yang berkaitan dengan dan/atau diatur dalam Undang Undang ini, diputuskan oleh Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum debitor.”
- Pasal 1 angka (7) UU Kepailitan dan PKPU yang menyatakan : “Pengadilan adalah Pengadilan Niaga dalam ruang lingkup peradilan umum.”
- Penjelasan Pasal 3 ayat (1) UU Kepailitan dan PKPU, yang menyatakan : “Yang dimaksud dengan “hal-hal lain” adalah antara lain:
- Actio Pauliana;
- Perlawanan Pihak Ketiga; atau
- Perkara dimana Debitor, Kreditor, Kurator atau Pengurus, menjadi salah satu pihak dalam perkara yang berkaitan dengan harta pailit;
- Termasuk gugatan Kurator terhadap Direksi yang menyebabkan Perseroan dinyatakan pailit karena kelalaiannya atau kesalahannya.
“Menimbang, bahwa dengan mendasarkan pada Pasal 3 ayat (1) jo. Penjelasan Pasal 3 ayat (1) jo. Pasal 1 angka (7) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, menurut hemat Majelis Hakim maka Penggugat seharusnya mengajukan “gugatan hal hal lain” dimana Pengadilan yang berwenang adalah Pengadilan Niaga Surabaya;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, Majelis Hakim berpendapat eksepsi Para Tergugat beralasan hukum sehingga harus dikabulkan dengan demikian Pengadilan Negeri Surabaya tidak berwenang memeriksa dan memutus perkara tersebut;
M E N G A D I L I :
1. Mengabulkan eksepsi Para Tergugat;
2. Menyatakan Pengadilan Negeri Surabaya tidak berwenang mengadili perkara ini.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan