Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Pembangunan Rumah secara Ilegal adalah Perbuatan Melawan Hukum yang dapat Digugat oleh Tetangga

LEGAL OPINION
Question: Ini ada seorang pemilik rumah yang memiliki posisi di hook ujung jalan komplek perumahan kami. Namun pemiliknya membangun rumah dengan menjorok ke depan jalan, sehingga bukannya membuat sempadan bangunan, justru ia memakan badan jalan yang mengakibatkan akses jalan umum menyerupai bottle neck. Pemda setempat telah kami laporkan, tapi tidak akan tindak lanjut. Yang ingin saya tanyakan, apa bisa, bila pemilik rumah itu saya gugat agar membongkar bangunannya yang telah memakan bahu jalan umum itu tanpa sempadan bangunan?
Brief Answer: Pada prinsipnya setiap peraturan negara maupun peraturan daerah yang dilanggar oleh seorang warga negara, merupakan perbuatan melawan hukum. Warga masyarakat memiliki kepentingan atas jalan umum, sehingga unsur kerugian dapat diasumsikan benar adanya. Kerugian mana timbul akibat pendirian bangunan tanpa mengindahkan kaedah mengenai sempadan bangunan yang dilakukan oleh pemilik rumah.
Untuk itu Anda berhak mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap sang pemilik rumah, meminta agar hakim atas nama pengadilan memerintahkan agar pemilik rumah selaku tergugat membongkar bangunannya, jika perlu secara paksa oleh aparatur negara.
Sayangnya, pihak pengadilan menolak untuk menerima gugatan sederhana atas kasus seperti demikian. Penulis menyatakan pada pihak panitera muda perdata pengadilan negeri di Jakarta, bahwa sengketa hak atas tanah dengan sengketa pendirian bangunan adalah dua hal yang berbeda. Memang, gugatan sederhana (small claim court) melarang jenis gugatan hak atas tanah, namun hukum agraria nasional mengenal asas pemisahan horizontal sehingga “sengketa hak atas tanah” berbeda dengan “sengketa hak atas rumah atau hal-hal terkait bangunan/gedung”. Sehingga yang dapat Anda ajukan adalah gugatan perdata pada register perkara biasa, tidak bisa mendaftarkannya pada register gugatan sederhana.
PEMBAHASAN:
Sebagai ilustrasi cukup menarik yang mungkin juga pernah kita alami, dapat kita simak putusan Mahkamah Agung RI sengketa pembangunan gedung (bukan sengketa hak atas tanah) register Nomor 204 PK/Pdt/2011 tanggal 21 Desember 2011, perkara antara:
- SUCIPTO, sebagai Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Tergugat I; melawan
- ARIES HAKIM SANUSI SIREGAR, selaku Termohon Peninjauan Kembali dahulu Penggugat;
- 1. WALIKOTA MEDAN, 2. KEPALA DINAS TATA KOTA dan TATA BANGUNAN KOTA MEDAN, selaku Para Turut Termohon Kasasi dahulu Tergugat II dan Tergugat III.
Penggugat adalah penghuni, pemilik rumah pada suatu pemukiman No.132, sementara Tergugat I adalah pemilik bangunan yang sedang dibangun di samping kiri rumah Penggugat persisnya terletak di Jalan H. Adam Malik No.130, Medan.
Bangunan tersebut dibangun secara melanggar Rooilyn (garis sepadan) dan bangunan bagian atasnya telah memasuki (menyerobot) wilayah pekarangan rumah Penggugat, sehingga pembangunan bangunan tersebut mengakibatkan rusaknya atap genteng, rabung, talang rumah dan kolam ikan serta merusak cat Mobil Penggugat sebanyak 2 (dua) unit dikarenakan percikan air semen, batu dan pasir yang mengotori bangunan dan mobil milik Penggugat.
Bangunan milik Tergugat I dinilai membahayakan jiwa dan keselamatan  Penggugat selaku tetangga yang berbatasan tembok, karena bangunan tersebut dibangun sampai dengan lantai V (lima) yang tidak layak dibangun di dalam tempat pemukiman, dan Penggugat sebagai penghuni rumah tidak mendapatkan lagi sinar matahari langsung seperti biasanya.
Perbuatan Tergugat I tersebut yang mendirikan bangunan atas kehendaknya sendiri tanpa memperhatikan keselamatan jiwa dan ketentraman tetangga, adalah merupakan perbuatan penyalahgunaan hak (misbruik van recht) sekalipun dibangun diatas tanahnya sendiri, oleh karenanya perbuatan Tergugat I tersebut dapat dikualifsir sebagai perbuatan melawan hukum.
Jauh sebelumnya, pada mula bangunan tersebut didirikan oleh Tergugat I disekitar bulan Juli tahun 1996, Penggugat sudah mengajukan keberatan terhadap proses pembangunan tersebut, keberatan mana diajukan kepada Tergugat II (Walikota Medan) melalui surat Penggugat tanggal 15 Juli 1996 dan tanggal 20 Nopember 1996.
Atas keberatan Penggugat tersebut, Tergugat II melalui Dinas Penertiban Peraturan Kota Medan memerintahkan Tergugat I untuk menghentikan pembangunan bangunan tersebut karena telah melanggar Keterangan Situasi Bangunan (KSB) yang ditertibkan oleh Tergugat III.
Atas perintah penghentian pembangunan tersebut Tergugat I mengajukan permohonan revisi (peninjauan kembali) Keterangan Situasi Bangunan (KSB) rumahnya tersebut kepada Tergugat III. Ternyata atas permohonan tersebut, Tergugat III menolaknya.
Selanjutnya atas terbitnya Surat Penolakan dari Tergugat III, Tergugat I mengajukan gugatan Tata Usaha Negara ke PTUN Medan terhadap Tergugat I I dan Tergugat III, ternyata gugatan Tata Usaha Negara Tergugat I ditolak oleh Pengadilan Tata Usaha Negara Medan No.38/G/1999/PTUN-Medan, melalui keputusan mana dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Medan melalui keputusannya tanggal 18 Desember 2000, No.64/BDG.G/PT.TUN/MDN/2000.
Ternyata pada bulan Mei 2002, Tergugat I kembali meneruskan pembangunan bangunan tersebut sampai dengan lantai V (lima), dengan berdasarkan Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tahun 2001, sehingga mengakibatkan rusaknya atap genteng, rabung, talang rumah milik Penggugat dan taman/kolam ikan serta merusak cat mobil milik Penggugat.
Padahal Tergugat III melalui suratnya telah memperingatkan dan memerintahkan Tergugat I untuk membongkar sendiri dan menghentikan pelaksanaan pekerjaan pem-bangunan bangunan tersebut, karena bangunan tersebut menyimpang dari IMB yang telah diterbitkan, dimana menurut IMB tahun 2001 adalah untuk kantor berlantai tiga, sedangkan yang dikerjakan mencapai lima lantai dengan ukuran 24,75m X 32,5m yang melanggar Rooilyn (garis sepadan) kiri kanan dan belakang, akan tetapi Tergugat I tetap tidak mengindahkan aturan hukum.
Akibat perbuatan penyalahgunaan Hak (misbruik van recht) dan melawan hukum (onrechtmatigedaad) yang dilakukan Tergugat I, Penggugat mengalami kerugian yang sangat besar baik kerugian Materiel maupun kerugian Immateriel, yang semuanya dirinci sebagai berikut:
- Kerugian Materiel :
- Perbaikan Atap Genteng dan Bangunan.
- Perbaikan atap genteng KIA warna maron seluas 115 m2 (1 m2 perlu 15 buah), total 1.725 buah X Rp 9.100, = Rp. 15.697.500,-
- Perbaikan rabung atap merk KIA warna maron sepanjang 50 m (1 meter perlu 4 buah), total 200 buah X Rp 22.000, = Rp. 4.400.000,-
- Upah membongkar yang rusak dan memasang yang baru Rp. 17.000.000,-
- Biaya lain-lain (kerusakan talang akibat tersumbat semen, cat kayu) ditaksir Rp.8.000.000,-
- Kerusakan cat mobil 2 (dua) unit (kena air semen dll) Rp. 19.000.000,-
- Kerugian Immateriel: Kerugian yang timbul akibat Penggugat telah kehilangan waktu, tenaga dan terancamnya jiwa akibat perbuatan Tergugat I sebesar Rp. 75.000.000,-
Terhadap gugatan tersebut, Pengadilan Negeri Medan telah mengambil putusan, yaitu Putusan No.483/Pdt.G/2002/PN-Mdn tanggal 3 September 2003 yang amarnya sebagai berikut :
“MENGADILI:
Tentang Pokok Perkara :
- Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebahagian;
- Menyatakan perbuatan Tergugat I yang menyalahgunakan hak (misbruik van recht) adalah merupakan perbuatan melawan hukum;
- Menghukum Tergugat I untuk membongkar bangunan yang melanggar Rooilyn (garis sepadan);
- Menghukum Tergugat I untuk membayar kerugian materil kepada Penggugat sebesar Rp.64.097.500,- (enam puluh empat juta sembilan puluh tujuh ribu lima ratus rupiah) dengan seketika dan sekaligus;
- Menghukum Tergugat II dan Tergugat III untuk mematuhi putusan ini;
- Menghukum Tergugat I untuk membayar uang paksa sebesar Rp.250.000, (dua ratus lima puluh ribu rupiah) atas setiap hari keterlambatan melaksanakan putusan ini;
- Menolak gugatan Penggugat selebihnya.”
Dalam tingkat banding, Pengadilan Tinggi Medan telah mengambil putusan, yaitu Putusannya No.205/Pdt/2004/PT.MDN tanggal 9 Nopember 2004 adalah sebagai berikut:
Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Medan tanggal 3 September 2003 No.483/Pdt.G/2002/PN.Mdn. yang dimohonkan banding.”
Dalam tingkat kasasi, Mahkamah Agung RI telah mengambil putusan, yaitu Putusannya No.1304 K/Pdt/2005 tanggal 30 Juni 2009 adalah sebagai berikut:
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : SUCIPTO tersebut.”
Setelahnya Tergugat I mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :
“Bahwa keberatan-keberatan dari Pemohon Peninjauan Kembali t i dak dapat dibenarkan, karena Putusan Judex Juris No.1304 K/Pdt/2005 tanggal 30 Juni 2009 jo. Putusan Pengadilan Tinggi Medan No.205/Pdt/2004/PT.Mdn, tanggal 9 Nopember 2004 jo. Putusan Pengadilan Negeri Medan No.483/Pdt.G/2002/PN.Medan, tanggal 3 September 2003 sudah tepat dan benar, sehingga putusan Judex Juris tersebut tidak ada kekhilafan atau suatu kekeliruan yang nyata;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, maka permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Pemohon Peninjauan Kembali : SUCIPTO tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I
Menolak permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali : SUCIPTO tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan