Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Mutasi Tugas yang Tidak Sederajat dan Akibat Hukumnya

LEGAL OPINION
Question: Apa boleh seorang karyawan menolak peralihan tugas pokok pekerjaan yang diperintahkan atasan di kantor? Apa hal terburuk yang dapat terjadi bila seorang karyawan sampai bersikeras menolak diubahnya tugas pokok yang tidak sesuai minat semula saat masuk bergabung sebagai karyawan?
Brief Answer: Alih fungsi tugas atau yang lebih dikenal dengan istilah “mutasi tugas pokok dan fungsi kerja”, kerap terjadi sebagai alat bagi pengusaha untuk tidak membuat “betah” pekerja / buruhnya. Untuk itu hukum negara memberi perlindungan atas mutasi yang sewenang-wenang demikian, sehingga harkat dan martabat setiap pekerja wajib dihormati oleh pihak pengusaha.
Pada prinsipnya unsur esensial dalam hubungan industrial berupa adanya “pekerjaan”, tunduk pada asas pacta sunt servanda, dimana objek pekerjaan mengikat para pihak ketiga pertama kali mengikat diri dalam hubungan pekerjaan. Pasal 1338 Ayat (2) KUHPerdata mengatur, objek perikatan tak dapat diubah secara sepihak tanpa kesepakatan antara para pihak.
Alih fungsi tugas yang tidak “setara”, akan dimaknai sebagai hak bagi karyawan yang berkeberatan dimutasi untuk mengajukan pemutusan hubungan kerja (PHK) disertai kompensasi berupa pesangon—yang mana berdasarkan best practice akan diberikan pengadilan sebesar 2 (dua) kali ketentuan pesangon normal—disamping tentunya, Upah Proses.
PEMBAHASAN:
Ilustrasi berikut mungkin dapat memberi gambaran, yakni putusan Mahkamah Agung RI sengketa hubungan industrial register Nomor 143 K/Pdt.Sus-PHI/2016 tanggal 11 Mei 2016, perkara antara:
- PIMPINAN PERUSAHAAN PT. TRIA SUMATERA COORPORATION / NOVOTEL SOECHI INTERNATIONAL, sebagai Pemohon Kasasi dahulu Tergugat; melawan
- ASNAN DJUMAN, selaku Termohon Kasasi dahulu Penggugat.
Pengugat merupakan karyawan di perusahaan Tergugat sejak tahun 1999. Penggugat dalam tugas kesehariannya melakukan fungsi pekerjaan sebagai karyawan bagian security, akan tetapi terhitung sejak tanggal 6 Maret 2015 tanpa alasan yang jelas Penggugat dirumahkan.
Penggugat kemudian mempertanyakan alasan Tergugat merumahkan (membebas-tugaskan Penggugat) namun tidak ada penjelasan yang jelas dan pada tanggal 11 Maret 2015 Penggugat menerima surat mutasi terhadap Penggugat dimana dalam surat mutasi tersebut Penggugat dimutasi dari petugas security menjadi petugas cleaning service.
Dengan dipindahkannya/dimutasikannya Penggugat sebagai cleaning service, Penggugat pernah mempertanyakannya kepada Tergugat mengenai pemutasiannya tersebut tetapi Tergugat hanya menjawab “kalau tidak mau perkarakan aja”; sehingga perbuatan Tergugat dikualifikasi bertentangan dengan Pasal 169 ayat (1) huruf (e) Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Saat Penggugat dipecat secara sepihak yang dilakukan Tergugat, Penggugat tidak memperoleh hak-hak normatifnya. Penggugat keberatan atas PHK yang dilakukan Tergugat secara sepihak, disamping merasa diperlakukan secara sewenang-wenang, disamping fakta bahwa Tergugat dalam menjalankan usahanya tidak menaati peraturan hukum seperti upah dibawah minimun Kota Medan.
Sekalipun telah diupayakan penyelesaiannya melalui tripartit melalui Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Medan tetapi tetap juga tidak berhasil sehingga pada tanggal 2 April 2015 Disnaker menerbitkan Surat Anjuran, dengan bunyi:
“Tergugat diharuskan membayar hak-hak Penggugat sesuai dengan Pasal 156 ayat (2), (3) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.”
Terhadap gugatan pihak pekerja, Pengadilan Hubungan Industrial Medan kemudian menjatuhkan putusan Nomor 131/Pdt.Sus-PHI/2015/PN Mdn. tanggal 6 Oktober 2015, dengan pertimbangan hukum serta amar sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa atas dasar dan pertimbanqan tersebut di atas, maka Majelis Hakim berpendapat bahwa pemutusan hubungan kerja yang dilakukan Tergugat terhadap Pengugat dengan alasan bahwa penggugat dikualifikasikan mengundurkan diri, tidak tidak sah secara hukum dan bertentangan dengan Pasal 168 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
“Menimbang bahwa oleh karena pemutusan hubungan kerja yang dilakukan Tergugat terhadap Penggugat dengan alasan bahwa Penggugat dikualifikasikan mengundurkan diri tidak sah secara hukum, dengan demikian maka hubungan kerja antara Penggugat dengan Tergugat dinyatakan tidak pernah putus:
MENGADILI :
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan Penggugat tidak terbukti mengundurkan diri;
3. Menyatakan hubungan kerja antara Penggugat dengan Tergugat putus sejak tanggal putusan ini dibacakan;
4. Menghukum Tergugat membayar hak-hak Penggugat akibat pemutusan hubungan kerja berupa uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan uang pengganti perumahan dan perobatan serta upah selama dalam proses sebesar Rp67.200.000,00 (enam puluh tujuh juta dua ratus ribu rupiah) dengan rincian sebagai berikut:
- Pesangon: 2 x 9 x Rp2.000.000,00 = Rp36.000.000,00
- Uang penghargaan masa kerja: 6 x 1 x Rp2.000.000,00 = Rp12.000.000,00
- Penggantian hak perumahan & pengobatan: 15% x Rp48.000.000,00 = Rp7.200.000,00
- Upah selama dalam proses: 6 x Rp2.000.000,00 = Rp12.000.000,00
Jumlah keseluruhan = Rp67.200.000,00 (enam puluh tujuh juta duat ratus ribu rupiah);
5. Membebankan kepada negara biaya yang timbul dari perkara ini sebesar Rp321.000,00 (tiga ratus dua puluh satu ribu rupiah);
6. Menolak gugatan Penggugat untuk selebihnya.”
Tergugat mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :
-Bahwa alasan-alasan keberatan dari Pemohon Kasasi tidak dapat dibenarkan, karena Judex Facti telah tepat dan benar dalam menilai, menimbang dan menerapkan hukumnya;
- Bahwa mutasi yang dilakukan adalah tidak mempunyai kesetaraan oleh karena sebelumnya sebagai security dan dimutasikan pada bagian cleaning service sehingga panggilan kerja untuk Termohon Kasasi ketika Termohon Kasasai tidak hadir bekerja dianggap tidak sah. Dan oleh karena hubungan tidak harmonis lagi maka pemutusan hubungan kerja dapat dikabulkan;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, ternyata bahwa Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Medan dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi PIMPINAN PERUSAHAAN PT. TRIA SUMATERA COORPORATION / NOVOTEL SOECHI INTERNATIONAL tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I
“Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi PIMPINAN PERUSAHAAN PT. TRIA SUMATERA COORPORATION / NOVOTEL SOECHI INTERNATIONAL tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan