Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

RES IPSA LOQUITUR, Intuisi Hakim

ARTIKEL HUKUM
Dalam terminologi hukum, terdapat sebuah terminologi yang cukup ‘eksotis’, dikenal dengan istilah “Res Ipsa Loquitur”, yang kerap dimaknai secara harafiah sebagai “alat bukti itu sendiri yang telah mengungkapkan faktanya”. Alat bukti bisa jadi adalah benda mati yang dihadapkan jaksa atau penggugat di persidangan. Benda mati tersebut seperti belati yang memiliki bercak darah, atau dokumen palsu, sebenarnya tidak berbicara apa-apa—namanya juga benda mati, keterangan ahli bisa khilaf, dan saksi pun bisa berdusta.
Yang dimaksud dengan Res Ipsa Loquitur, tidak lain ialah dorongan intuisi hakim itu sendiri untuk mengelaborasi fakta-fakta di seputar perkara (circumtial evidences), yang dikaitkan dengan dugaan peristiwa pelanggaran hukum itu sendiri oleh pelaku.
Prinsip tersebut memberi hak bagi hakim untuk menetapkan “beban pembuktian terbalik”, akibat para posisi para pihak yang saling bersengketa tidak seimbang, semisal pihak Tergugat selaku pengusaha lebih dominan kekuatannya ketimbang sang buruh selaku Penggugat. Logika ini kita temukan ketika merujuk pemaknaan oleh Wikipedia, disebutkan: (https://en.wikipedia.org/wiki/Res_ipsa_loquitur)
“In the common law of torts, res ipsa loquitur (Latin for ‘the thing speaks for itself’) is a doctrine that infers negligence from the very nature of an accident or injury in the absence of direct evidence on how any defendant behaved. Although modern formulations differ by jurisdiction, common law originally stated that the accident must satisfy the necessary elements of negligence: duty, breach of duty, causation, and injury. In res ipsa loquitur, the elements of duty of care, breach and causation are inferred from an injury that does not ordinarily occur without negligence.
“Res ipsa loquitur is often confused with prima facie (‘at first sight’), the common law doctrine that a party must show some minimum amount of evidence before a trial is worthwhile.
“The difference between the two is that prima facie is a term meaning there is enough evidence for there to be a case to answer. Res ipsa loquitur means that because the facts are so obvious, a party need not explain any more. For example: ‘There is a prima facie case that the defendant is liable. They controlled the pump. The pump was left on and flooded the plaintiff's house. The plaintiff was away and had left the house in the control of the defendant. Res ipsa loquitur.’
“The Irish courts have applied the doctrine. In Hanrahan v. Merck, Sharp & Dohme (Ireland) Ltd. [1988] ILRM 629 the supreme court held that in cases of nuisance the burden of proof could be shifted to the defendant where it would be palpably unfair for the plaintiff to have to prove something beyond their reach. The facts concerned positioning of farm animals downwind of a chemical plant.
“In Rothwell v. The Motor Insurers Bureau of Ireland [2003] 1 IR 268 the supreme court held the burden of proof would shift when the knowledge is exclusive to the defendant, but also where it is "especially within the range" of the defendant’s capacity to probe the facts.”
Sementara itu Legal Information Centre memaknainya sebagai: (https://www.law.cornell.edu/wex/res_ipsa_loquitur):
“Res Ipsa Loquitur. Latin for ‘the thing speaks for itself.’  In tort law, a principle that allows plaintiffs to meet their burden of proof with what is, in effect, circumstantial evidence. The plaintiff can create a rebuttable presumption of negligence by the defendant by proving that the harm would not ordinarily have occurred without negligence, that the object that caused the harm was under the defendant’s control, and that there are no other plausible explanations.”
The Free Dictionary memberi pemaknaan secara lebih elaboratif, sebagai berikut: (http://legal-dictionary.thefreedictionary.com/res+ipsa+loquitur)
“Res Ipsa Loquitur [Latin, The thing speaks for itself.] A rebuttable presumption or inference that the defendant was negligent, which arises upon proof that the instrumentality or condition causing the injury was in the defendant's exclusive control and that the accident was one that ordinarily does not occur in the absence of Negligence.
“Res ipsa loquitur, or res ipsa, as it is commonly called, is really a rule of evidence, not a rule of Substantive Law.
“Negligence is conduct that falls below the standard established by law for the protection of others against an unreasonable risk of harm. In order to prevail in a negligence action, a plaintiff must establish by a Preponderance of Evidence that the defendant's conduct was unreasonable in light of the particular situation and that such conduct caused the plaintiff's injury. The mere fact that an accident or an injury has occurred, with nothing more, is not evidence of negligence. There must be evidence that negligence caused the event. Such evidence can consist of direct testimony by eyewitnesses who observed the defendant's unreasonable conduct and its injurious result.
Negligence can also be established by Circumstantial Evidence when no direct evidence exists. Circumstantial evidence is evidence of one recognized fact or set of facts from which the fact to be determined can be reasonably inferred because it is the logical conclusion that can be drawn from all the known facts. For example, skid marks at the scene of an accident are circumstantial evidence that a car was driven at an excessive speed. The reasoning process must be based upon the facts offered as evidence, together with a sufficient background of human experience, to justify the conclusion. Evidence that merely suggests the possibility of negligence is insufficient, since negligence must appear more likely than not to have occurred. This inference must cover all the necessary elements of negligence: that the defendant owed the plaintiff a duty, which the defendant violated by failing to act according to the required standard of conduct, and that such negligent conduct injured the plaintiff.
“Res ipsa loquitur is one form of circumstantial evidence that permits a reasonable person to surmise that the most Probable Cause of an accident was the defendant's negligence. This concept was first advanced in 1863 in a case in which a barrel of flour rolled out of a warehouse window and fell upon a passing pedestrian. Res ipsa loquitur was the reasonable conclusion because, under the circumstances, the defendant was probably culpable since no other explanation was likely. The concept was rapidly applied to cases involving injuries to passengers caused by carriers, such as railroads, which were required to prove they had not been negligent. Res ipsa loquitur, as it is in the early 2000s applied by nearly all of the 50 states, deals with the sufficiency of circumstantial evidence and, as in some states, affects the Burden of Proof in negligence cases.”
Untuk lebih meng-konkretkan, pemahaman ini akan lebih jelas lewat contoh kasus yang diilustrasikan oleh TransLegal berikut: (https://www.translegal.com/legal-english-lessons/res-ipsa-loquitur-2)
“The classic example is the person who has an operation, has her appendix removed, and then some time after the operation she still has pain in her stomach, goes back to the doctor, takes an x-ray and sees that the scalpel, or the surgical knife, was still inside of her when she was sewn up. This is a clear case of res ipsa loquitur. There is no reason other than negligence that a doctor would sew a scalpel into somebody’s stomach. So this would mean that if she were to sue the doctor or the hospital, all she would have to put into evidence was the fact that there was a scalpel sewn up in her stomach. That would be enough to imply that there was negligence and it would shift the burden of proof to the defendant in this case, the doctor or the hospital, to prove that there was some other non-negligent reason for leaving that scalpel in her stomach.”
Dalam implementasinya, setiap pengadilan pada dasarnya menerapkan prinsip ini meski tidak disebutkan secara eksplisit. Pengadilan Negeri Kota Madiun yang memeriksa perkara pidana, dalam putusannya register Nomor 46/Pid.B/2013/Pn.Kd.Mn tanggal 19 Maret 2013, membuat pertimbangan hukum sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa kini apakah berdasar pada alat-alat bukti sah, diperoleh fakta- fakta yang dapat membuktikan kebenaran dakwaan Penuntut Umum itu, maka dengan demikian Majelis Hakim mendasarkan pendapatnya pada azas hukum Res Ipsa Loquitur (fakta berbicara atau fakta adalah hukum);
“Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi di persidangan, keterangan Terdakwa serta barang bukti yang diajukan di persidangan, maka majelis hakim memperoleh fakta-fakta hukum sebagai berikut : ...
“Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi dan keterangan Terdakwa di persidangan serta barang bukti yang bersesuaian didapati fakta bahwa Terdakwa yang bekerja di PT INDINA PAINT Cabang Madiun sebagai Sales/marketing dan mendapat gaji atau upah dari PT INDINA PAINT Cabang Madiun, telah melakukan aktifitas pekerjaan sesuai tugas yang diberikan oleh Pimpinan Perusahaan yaitu mencari order atau pembeli atas produk Cat namun setelah terdakwa menerima uang pembayaran yang dalam kekuasaan yang seharusnya disetorkan tetapi tidak disetorkan pada Perusahaan dan dipakai untuk kepentingannya sendiri yang jumlahnya Rp.108.865.180,-;
“Menimbang, bahwa Terdakwa menerima dan menguasai sejumlah uang tagihan/setoran Rp. 108.865.180, oleh karena Terdakwa bekerja pada PT INDINA PAINT Cabang Madiun dan Terdakwa sesuai dengan wewenangnya sebagai sales pada PT INDINA PAINT Cabang Madiun , serta menerima upah atau gaji dari PT INDINA PAINT Cabang Madiun;
“Menimbang, bahwa oleh karena semua unsur dakwaan Primair Pasal 374 KUHP jo. Pasal 64 Ayat (1) KUHP terpenuhi, maka Jaksa Penuntut Umum telah dapat membuktikan dakwaannya sehingga Terdakwa terbukti bersalah.”
Contoh penerapan lainnya ialah dalam perkara gugatan perdata yang diputus oleh PENGADILAN NEGERI KLAS IB TASIKMALAYA register Nomor 39/Pdt. G/2013/PN.Tsm. tanggal 16 April 2014, yang mana Majelis Hakim membuat pertimbangan hukum yang menarik untuk disimak, sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa dengan adanya sertipikat asli tanah terperkara pada Tergugat I Rudy Wijya menunjukkan Benar adanya transaksi jual-beli antara Penggugat dengan Tergugat I;
Menimbang, bahwa terjadinya balik nama atas tanah terperkara adalah atas dasar jual beli yang dilakukan oleh Penggugat R. ENDUT SUTARNA kepada Tergugat RUDY WIJAYA, hal tersebut dikuatkan pula dengan keterangan dalam surat bukti tersebut yang menyatakan ketika dilakukan pengukuran atas tanah tersebut oleh pihak Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Tasikmalaya batas-batas tanah tersebut ditunjukkan sendiri oleh Penggugat;
“Menimbang, bahwa dengan telah terjadinya balik nama atas kepemilikan tanah terperkara dari Penggugat kepada Tergugat I dalam Sertifikat tanah sengketa maka kedua belah pihak berperkara yakni Penggugat R. ENDUT SUTARANA dan Tergugat I RUDI WIJAYA dalam melaksankan jual beli tersebut telah memenuhi syarat sahnya jual- beli atas tanah sesuai pasal 19 Peraturan Pemeritah Nomor 10 Tahun 1961, yang menyatakan bahwa setiap perjanjian yang bermaksud memindahkan hak atas tanah harus dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh dan dihadapan Pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Agraria, dan juga telah memenuhi syarat-sayarat sahnya perjanjian sebagaimana diatur dala pasal 1320 KUHPerdata/BW;
“Menimbang, bahwa akan adanya Jual Beli tanah terperkara dikuatkan pula oleh surat bukti dari pihak Tergugat I yakni berdasatkan surat bukti yang diberi tanda T-I, 1 merupakan Kwitansi pembayaran atas jual-beli tanah dan rumah yang terletak di JL. Perintis Kemerdekaan sesuai dengan Sertipikat Nomor ; AC 597423.10.18.12. 10.01037 dan AG.803241.10.18.12.01192, yang ditanda tangani oleh Penggugat R. ENDUT SUTARNA dan juga oleh isterinya YATI MULYATI, dengan nominal pembayaran sebesar Rp.: 500.000,-(lima ratus juta rupiah);
“Menimbang, bahwa jual – beli tanah sengketa dimaksud juga telah dituangkan dalam Surat Jual Beli ( T-I,2) yang juga ditanda tangani oleh Penggugat serta Isteri Penggugat serta Tergugat I dengan disaksikan oleh Namina Ninan Rusmiati dan A. Syams Hikmat ash Shiddieqie tanggal 30 Juni 2006, dan akan tersebut telah pula diterangkan oleh saksi dari pihak Tergugat I yang bernama Namina Ninan Rusmiati;
“Menimbang, bahwa atas jual-beli tanah tersebut juga diakui oleh anak-anak Penggugat yang bernama ; 1. EVI NUR, 2. HETTY HERAWATI, 3. SANDI HERMAWAN, dituangkan dalam surat pernyataan sebagaimana dituangkan dalam bukti surat yang diberi tanda T-1,3a, T-1,3b. T-1,3c.;
“Menimbang, bahwa ternyata pula berdasarkan surat-surat bukti yang diajukan oleh Penggugat aslinya ada pada Tergugat I hal tersebut terjadi adalah karena adanya levering atas tanah sengketa kepada Tergugat I. demikian juga halnya dengan keterangan saksi dari pihak Penggugat tidak cukup membuktikan dali-dalil dari gugatannya;
“Menimbang, bahwa oleh karena Penggugat tidak dapat membuktikan dali-dalil gugatannya, maka gugatan Penggugat yang menyatakan Tergugat I Rudy Wajya dan Tergugat II Harry Kristianto, S.H., MKn. telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum, haruslah ditolak.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan