Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Pidana Penyiaran Tanpa Izin dari Pemerintah

LEGAL OPINION
Question: Perusahaan kami adalah penyelenggara layanan televisi parabola berlangganan. Ada suatu pihak yang telah menyadap siaran kami, lalu mengkomersialkannya. Dari informasi, ia tidak memiliki izin penyiaran. Bisakah orang itu dituntut pidana?
Brief Answer: Setiap bentuk layanan penyiaran, wajib disertai izin pemerintah, baik layanan TV kabel berlangganan, konvensional, maupun siaran via parabola. Ancaman sanksi pidana bagi pelanggarnya telah diatur dalam undang-undang tentang penyiaran.
PEMBAHASAN:
Dalam putusan Mahkamah Agung RI perkara pidana register Nomor 2357 K/Pid.Sus/2014 tanggal 16 November 2015, dimana Terdakwa dituntut telah menyelenggarakan kegiatan penyiaran tanpa izin penyelenggaraan penyiaran, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 58 huruf b Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002.
Terdakwa berniat untuk melakukan kegiatan penyiaran berlangganan, untuk keperluan dimaksud maka Terdakwa menyiapkan peralatan berupa 1 unit parabola satelit berikut dengan 19 unit receiver masing. Peralatan tersebut ditempatkan dalam sebuah rumah. Selain dari peralatan tersebut, Terdakwa juga menyiapkan peralatan lainnya antara lain berupa 20 unit Modulator, 1 unit Passive Combiner, 1 unit Amplifier, 1 unit Power Supply, Kabel RG 6 Sling, 7 unit Couper, dan 3 unit Spliter.
Setelah peralatan untuk keperluan penyiaran dimaksud telah siap pada sekitar bulan September 2011, maka Terdakwa menawarkan kepada masyarakat umum, untuk berlangganan kegiatan penyiaran yang dilakukan Terdakwa dengan dipungut biaya pemasangan sebesar Rp200.000,00 dan iuran bulanan sebesar Rp40.000,00 untuk 19 channel.
Dari penawaran yang dilakukan, Terdakwa berhasil mendapatkan pelanggan sebanyak kurang lebih 137 pelanggan. Sekalipun pada tahun 2012 Terdakwa melakukan kerjasama operasional dengan direktur PT. PESONA VISUAL MANDIRI dalam bidang layanan siaran TV Kabel, namun selain karena izin penyiaran yang dimiliki PT. PESONA VISULA MANDIRI baru sebatas Izin Prinsip Penyelenggaraan Penyiaran dari Menteri Komunikasi dan Informatika Tahun 2013, izin yang dimiliki PT. PESONA VISUAL MANDIRI itu pun baru dikeluarkan pada tanggal 31 Januari 2013, sehingga dengan demikian kerjasama operasional dalam bidang layanan siaran TV kabel antara Terdakwa dengan PT. PESONA VISUAL MANDIRI tidak dapat dijadikan dasar untuk kegiatan penyiaran berlangganan yang dilakukan oleh Terdakwa.
Akhirnya kegiatan penyiaran berlangganan yang diselenggarakan oleh Terdakwa tersebut diketahui oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Babel, hingga akhirnya pada tanggal 10 Januari 2013 oleh Ketua KPID Babel, kegiatan penyiaran berlangganan tersebut dilaporkan ke Kepolisian Daerah Kepulauan Bangka Belitung.
Atas laporan tersebut, Penyidik dari Dit. Reskrimsus Polda Kepulauan Babel melakukan penggeledahan di tempat Terdakwa melakukan kegiatan penyiaran berlangganan, dan oleh karena kegiatan penyiaran berlangganan tersebut ternyata tidak dilengkapi dengan Izin Penyelenggaraan Penyiaran Berlangganan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 33 ayat (1) Undang-Undang R.I. Nomor 32 Tahun 2002 dan Pasal 4 ayat (1) Peraturan Pemerintah R.I. Nomor 52 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Berlangganan, akhirnya Penyidik dari Dit. Reskrimsus Polda Kepulauan Babel menyita peralatan penyiaran milik Terdakwa untuk diproses lebih lanjut.
Adapun yang menjadi putusan Pengadilan Negeri Sungailiat No. 387/Pid.B/2013/PN.SGT tanggal 25 September 2013 yang amar lengkapnya sebagai berikut:
1. Menyatakan Terdakwa WAHYUDI alias YUDI bin USMANTO telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Tanpa Izin Menyelenggarakan Kegiatan Penyiaran Televisi;
2. Menjatuhkan pidana oleh karena itu terhadap Terdakwa dengan pidana penjara selama 3 (tiga) bulan, dengan ketentuan pidana tersebut tidak perlu dijalani kecuali kalau di kemudian hari ada perintah lain dalam putusan Hakim oleh karena Terpidana sebelum lewat masa percobaan 6 (enam) bulan telah melakukan perbuatan yang dapat dihukum;
3. Menjatuhkan pula pidana berupa denda sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 2 (dua) bulan.”
Dalam tingkat banding, yang menjadi putusan Pengadilan Tinggi Bangka Belitung Nomor 41/PID/2013/PT.BABEL tanggal 16 Januari 2014, ialah sebagai berikut:
- Menerima permintaan pemeriksaan banding Jaksa Penuntut Umum tersebut;
- Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Sungailiat tanggal 25 September 2013 Nomor 387/Pid.B/2013/PN.SGT yang dimintakan banding.
Jaksa mengajukan upaya hukum kasasi karena keberatan atas sanksi yang hanya berupa pidana percobaan, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :
“Alasan-alasan kasasi tersebut tidak dapat dibenarkan, dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
“Bahwa alasan kasasi Jaksa / Penuntut Umum tidak dapat dibenarkan, putusan Judex Facti yang menjatuhkan pidana bersyarat terhadap Terdakwa karena Terdakwa terbukti telah melakukan siaran TV kabel yang belum mendapat izin dari pihak yang berwenang, sudah tepat dan benar dengan alasan :
1. Bahwa Terdakwa menyelenggarakan penyiaran TV kabel berlangganan sejak bulan Agustus 2011 dan sudah mempunyai pelanggan 130 yang dipungut iuran Rp40.000,00 (empat puluh ribu rupiah) / perbulan.
2. Bahwa penyelenggaraan penyiaran tersebut karena kerjasama dengan PT. Pesona Visual Mandiri tanggal 29 Mei 2012 padahal PT. Pesona Visual Mandiri baru mendapat Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) prinsip dari Kementerian Komunikasi dan Informatika pada tanggal 31 Januari 2013 dengan Nomor 44 Tahun 2013.
3. Bahwa karena PT. Pesona Visual Mandiri baru mendapat Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) baru 31 Januari 2013 berarti Penyelenggaraan Penyiaran yang dilakukan Terdakwa sejak bulan Agustus 2011 tidak memiliki ijin sehingga Terdakwa dinyatakan bersalah namun demikian pidana tersebut tidak perlu dijalani karena PT. Pesona Visual Mandiri akhirnya sudah memiliki izin Penyelenggaraan Penyiaran Prinsip (IPP).
4. Bahwa Judex Facti tidak salah menerapkan hukum, karena telah mempertimbangkan pasal aturan hukum yang menjadi dasar pemidanaan dan dasar hukum dari putusan serta pertimbangan keadaan-keadaan yang memberatkan dan keadaan-keadaan yang meringankan sesuai Pasal 197 ayat (1) f KUHAP.
5. Bahwa perbuatan Terdakwa menyelenggarakan kegiatan Penyiaran Televisi tanpa izin dari yang berwenang memenuhi unsur-unsur Pasal 58 huruf b Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 dan sesuai Pasal 14 a KUHP Judex Facti berwenang menjatuhkan pidana dengan masa percobaan.
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, lagi pula ternyata, putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : JAKSA/PENUNTUT UMUM PADA KEJAKSAAN NEGERI KOBA tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan