Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Kepastian Hukum bagi Pemilik Sertifikat Tanah

LEGAL OPINION
Question: Pihak kami membeli tanah dari seorang warga setempat, dan kini sudah dibalik-nama keatas nama kami. Mendadak, suami dari pihak penjual, mengklaim tanah miliknya telah digelapkan oleh sang istri. Bila pihak tersebut menggugat kami ini, apakah sertifikat tanah kami ini berisiko dibatalkan? Bukankah absurb, klaim-klaim semacam itu? Dimana bentuk perlindungan hukum oleh negara yang telah menerbitkan sertifikat ini?
Brief Answer: Sebenarnya tak semudah itu membatalkan peralihan hak atas tanah yang telah didaftarkan ke atas sertifikat hak atas tanah. Terdapat sebentuk kepastian hukum dan jaminan oleh negara bagi pemegangnya. Dalam kasus diatas, maka sang suami dari pihak penjual tanah hanya memiliki kapasitas hukum untuk mempidana dan menggugat ganti-rugi kepada sang istri, bukan menggugat pembatalan sertifikat yang telah dibeli dan dialihkan haknya kepada Anda selaku pihak ketiga.
PEMBAHASAN:
Terdapat perkara serupa, diilustrasikan lewat putusan Mahkamah Agung RI tingkat Peninjauan Kembali sengketa tanah register Nomor 124 PK/Pdt/2012 tanggal 27 Pebruari 2013, perkara antara:
- Empat orang warga negara, sebagai Para Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Para Pemohon Kasasi/ Para Penggugat/Para Pembanding; melawan
1. PT. Cakrawala Respati;
2. Direktur Utama PT. Cakrawala Respati;
3. Kepala Badan Pertanahan Nasional;
4. Kepala Kantor Pertanahan Kotamadya Jakarta Barat;
... selaku Para Termohon Peninjauan Kembali dahulu Para Termohon Kasasi/Para Tergugat/Para Terbanding.
Penggugat mengklaim sebagai penggarap tanah Objek Sengketa selama 70 tahun dan tak pernah menjual tanah tersebut kepada pihak Tergugat, sehingga Penggugat berkeberatan ketika Kantor Pertanahan menerbitkan Sertifikat Hak Guna Bangunan bagi pihak Tergugat. Sementara itu pihak Tergugat mengajukan gugatan balik (rekonvensi) agar dinyatakan sebagai pembeli tanah yang sah.
Terhadap tuntutan provisi dari Para Penggugat, Pengadilan Negeri Jakarta Barat telah menjatuhkan putusan provisi, yaitu putusan No. 265/PDT.G/2007/PN.JKT.BAR., tanggal 29 Januari 2008 dengan amar:
Sebelum mengadili dalam pokok perkara;
1. Mengabulkan permohonan Provisi dari Para Penggugat tersebut untuk sebagian;
2. Memerintahkan Tergugat I dan Tergugat II untuk segera menghentikan semua kegiatan penguasaan fisik, pengurukan dan pembangunan di atas tanah yang menjadi objek sengketa dalam perkara ini;
3. Memerintahkan Tergugat III dan Tergugat IV serta semua pihak yang berkepentingan atas tanah tersebut untuk tunduk dan patuh pada putusan Provisi ini;
4. Menolak permohonan Provisi dari Penggugat untuk selain dan selebihnya.
Pengadilan Negeri kemudian menjatuhkan putusan akhir No. 265/Pdt.G/2007/PN.JKT.BAR., tanggal 3 April 2008 sebagai berikut:
Dalam Konvensi:
Dalam Eksepsi:
- Mengabulkan eksepsi dari Para Tergugat;
- Menyatakan gugatan Para Penggugat tidak dapat diterima;
- Menyatakan sita jaminan terhadap objek perkara ini yang termuat dalam penetapan No.: 265/Pdt.G/2007/PN.Jkt.Bar., tanggal 14 Maret 2008 untuk diangkat;
Dalam Provisi:
- Menyatakan Penetapan Nomor 265/Pdt.G/2007/PN.Jkt.Bar., tanggal 29 Januari 2008 untuk dicabut.
Dalam tingkat banding, amar putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No.24/PDT/2009/PT.DKI., tanggal 28 April 2009 adalah sebagai berikut:
- Menerima Permohonan banding dari Pembanding I, II, III dan IV semula Penggugat I, II, III dan IV tersebut;
- Membatalkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat No. : 265/Pdt.G/2007/PN.JKT.BAR., tanggal 3 April 2008 yang dimohonkan Banding tersebut;
Mengadili Sendiri:
Dalam Konvensi:
Dalam Provisi:
- Menolak tuntutan provisi dari Penggugat I, Penggugat II, Penggugat III dan Penggugat IV;
- Menyatakan putusan provisi Pengadilan Negeri Jakarta Barat No.: 265/Pdt.G/2007/PN.JKT.BAR., tanggal 29 Januari 2008 tidak mempunyai kekuatan hukum;
Dalam pokok perkara:
- Menolak gugatan Penggugat I, Penggugat II, Penggugat III dan Penggugat IV seluruhnya;
- Menyatakan tidak sah dan tidak berharga sita jaminan terhadap tanah sengketa sebagaimana tersebut dalam Berita Acara Sita Jaminan tanggal 14 Maret 2008 No.: 265/Pdt.G/2007/PN.JKT.BAR., karena itu diperintahkan untuk diangkat;
Dalam Rekonvensi:
- Mengabulkan gugatan Penggugat Rekonvensi sebagian;
- Menyatakan Penggugat Rekonvensi adalah pembeli yang beritikad baik;
- Menyatakan Sertifikat Hak Guna Bangunan No.: 5027/Tegal Alur atas nama PT. Cakrawala Respati adalah sah dan mempunyai kekuatan hukum;
- Menyatakan Penggugat Rekonvensi adalah satu-satunya yang berhak atas tanah sengketa;
- Menolak gugatan Penggugat Rekonvensi selain dan selebihnya.
Adapun amar putusan Mahkamah Agung RI No. 2697 K/Pdt/ 2009 tanggal 30 Agustus 2010 adalah sebagai berikut:
Menolak permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi: 1). NY. Siti binti Nisan, 2).Tn. Djaya bin Dul, 3).Ny. Emur, 4). Ny. Emar tersebut.”
Penggugat mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali, dimana selanjutnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan peninjauan kembali tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa bukti PK-1 s/d PK-5 tersebut tidak bersifat menentukan karena bukti Surat Keterangan tidak membuktikan kepemilikan;
“Bahwa Termohon Peninjauan Kembali sebagai pembeli yang beritikad baik harus dilindungi karena proses penerbitan Sertifikat Hak Guna Bangunan atas nama Termohon Peninjauan Kembali oleh Badan pertanahan Nasional telah dilakukan sesuai prosedur hukum dan objek sengketa dibeli Termohon Peninjauan Kembali dari anak-anak/keluarga Pemohon Peninjauan Kembali;
“Bahwa kalaupun pihak Pemohon Peninjauan Kembali/Penggugat merasa dirugikan karena tanah/objek miliknya telah ikut dikuasai Termohon Peninjauan Kembali/Tergugat karena dijual/dialihkan oleh pihak lain, maka Pemohon Peninjauan Kembali/Penggugat dapat mengajukan gugatan ganti kerugian kepada pihak tersebut, akan tetapi hal itu tidaklah dapat membatalkan kepemilikan Termohon Peninjauan Kembali/Tergugat atas objek perkara a quo;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, maka permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Para Pemohon Peninjauan Kembali: 1. Ny. Siti binti Nisan, 2. Tn. Djaya bin Dul, 3. Ny. Emur, 4. Ny. Emar, tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan peninjauan kembali dari Para Pemohon Peninjauan Kembali: 1. Ny. Siti binti Nisan, 2. Tn. Djaya bin Dul, 3. Ny. Emur, 4. Ny. Emar, tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan