Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Hangusnya Uang Sisa Kerja Kontrak

LEGAL OPINION
Question: Saya dipecat secara sepihak oleh manajemen. Saya ini pegawai kontrak. Saya protes dan mengadukan ini pada pihak otoritas ketenagakerjaan. Lantas atas teguran Disnaker, kemudian perusahaan memanggil saya untuk kembali masuk kerja. Apabila saya pilih untuk tak kembali ke perusahaan itu, apakah saya berhak menuntut sisa upah saya dari jangka waktu kontrak yang tersisa ke PHI?
Brief Answer: Alih-alih Anda akan mendapat upah dari masa waktu jangka kerja kontrak yang tersisa, tindakan Anda yang mungkir dari panggilan untuk kembali masuk kerja, akan dikategorikan sebagai mangkir kerja, sehingga hak normatif atas upah jangka waktu tersisa dalam kontrak, akan hangus.
Alangkah bijaknya, untuk itu SHIETRA & PARTNERS merekomendasikan agar Anda kembali masuk bekerja seperti sedia kala. Pemanggilan agar kembali masuk bekerja, sudah merupakan koreksi atas kekeliruan pengusaha yang telah memutus hubungan kerja secara sepihak. Kata kuncinya ialah: tidak membuka ruang celah pelanggaran kaidah normatif hukum.
PEMBAHASAN:
Sebagai ilustrasi konkrit, tepat kiranya merujuk putusan Mahkamah Agung RI sengketa hubungan industrial register Nomor 136 K/Pdt.Sus-PHI/2016 tanggal 25 April 2016, perkara antara:
- ASFAR ARIEF MBA, sebagai Pemohon Kasasi, dahulu selaku Penggugat; melawan
- PT. DELAPAN EMPAT SAKTI, selaku Termohon Kasasi, dahulu sebagai Tergugat.
Penggugat adalah tenaga kerja waktu tertentu/kontrak terhitung sejak bulan April 2014 sampai dengan April 2015, jabatan Executive Assistant.
Pada November 2014, timbul suatu permasalahan yang menurut pendapat Tergugat kinerja Penggugat tidak professional/dianggap tidak mampu melaksanakan tugas, yang pada akhirnya Penggugat diminta untuk mengundurkan diri oleh Tergugat, dimana Penggugat berkeberatan.
Setelahnya, gaji Penggugat yang biasa diterima pada tanggal 5 untuk setiap bulannya ternyata belum dibayar oleh Tergugat, dimana Tergugat menolak untuk memberikannya meski telah dimintai klarifikasi. Praktis, gaji Penggugat sejak bulan November 2014 sampai gugatan diajukan ke Pengadilan Hubungan Industrial Bandung, belum dibayar oleh Tergugat.
15 November 2014, Tergugat telah melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) terhadap Penggugat dengan cara pemberitahuan melalui email milik Penggugat yang disertai lampiran surat PHK yang isinya bahwa terhitung mulai tanggal 30 bulan November tahun 2014 hubungan kerjasama antara Tergugat dengan Penggugat dinyatakan sudah berakhir.
Mediator Disnaker Kabupaten Bandung telah menerbitkan Anjuran terkait sengketa hubungan industrial ini, sebagai berikut:
1. Hubungan Kerja antara Pekerja dengan perusahaan putus terhitung sejak bulan November 2014;
2. Agar pihak perusahaan memberikan sisa Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dari bulan November 2014 sampai dengan bulan April 2015 sesuai Pasal 62 Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 kepada Pekerja sebagai berikut: ...
Atas anjuran dari Disnaker, Penggugat memberikan jawaban secara tertulis yang pada intinya menyetujui anjuran. Mengacu pada Pasal 62 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, terdapat pengaturan:
“Apabila salah satu pihak mengakhiri hubungan kerja sebelum berakhirnya jangka waktu yang ditetapkan dalam perjanjian kerja waktu tertentu, atau berakhirnya hubungan kerja bukan karena ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (1), pihak yang mengakhiri hubungan kerja diwajibkan membayar ganti rugi kepada pihak lainnya sejumlah upah pekerja/buruh sampai batas waktu berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja.”
Menurut Penggugat, dikarenakan pihak yang pertama kali berinisiatif mengakhiri hubungan kerja adalah Tergugat, maka beralasan apabila Penggugat menuntut hak berupa upah sisa kontrak yang belum dibayarkan oleh Tergugat kepada Penggugat.
Terhadap gugatan tersebut, Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Bandung telah memberikan Putusan Nomor 144/Pdt.Sus- PHI/2015/PN Bdg., tanggal 1 Desember 2015 dengan amar sebagai berikut:
“Dalam Provisi:
- Menolak tuntutan provisi Penggugat;
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan putus hubungan kerja antara Penggugat dan Tergugat terhitung tanggal 30 November 2014;
3. Menghukum Tergugat membayar upah Penggugat bulan November 2014 sejumlah Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah);
4. Menolak gugatan Penggugat selain dan selebihnya.”
Penggugat keberatan hanya diberi pengadilan upah bulan November 2014, sehingga mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan hukum sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :
“Bahwa keberatan-keberatan kasasi tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi tanggal 22 Desember 2015 dan kontra memori kasasi tanggal 15 Januari 2016 dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti dalam hal ini Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Bandung tidak salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut:
“Bahwa hubungan kerja antara Pemohon Kasasi dan Termohon Kasasi berdasarkan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang berakhir pada tanggal 30 April 2015. Bahwa Pemohon Kasasi tidak masuk bekerja sejak tanggal 17 November 2014 sampai dengan 30 November 2014 selama lebih dari 5 (lima) hari kerja secara berturut-turut tanpa ada alasan atau keterangan yang sah dan Pemohon Kasasi di PHK oleh Termohon Kasasi sejak tanggal 30 November 2014 karena dikualifikasikan mengundurkan diri;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, ternyata bahwa Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Bandung dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi ASFAR ARIEF, MBA., tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi ASFAR ARIEF, MBA., tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan