Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Dipecat Jauh Setelah Masa Kerja Kontrak Berakhir, Berhak Pesangon 2 Kali Ketentuan

LEGAL OPINION 
Question: Saya ada kontrak kerja, namun sudah lama habis masa berlakunya. Tiba-tiba sekarang bos suruh saya tidak lagi masuk kerja, katanya sudah habis masa kontrak saya. Lha, kontrak itu sudah lama habis jangka waktunya, kok baru sekarang diberhentikan seenaknya. Kira-kira seperti apa bila permasalahkan ini diproses secara hukum?
Brief Answer: Anda berhak atas pesangon dua kali ketentuan pesangon normal, yang dapat dipastikan akan dikabulkan Pengadilan Hubungan Industrial bila Anda menuntut demikian.
PEMBAHASAN:
Kasus demikian bukan dialami sedikit pekerja, sebagaimana dicerminkan dalam putusan Mahkamah Agung RI sengketa PHK register Nomor 255 K/Pdt.Sus-PHI/2016 tanggal 18 Mei 2016, perkara antara:
- PT. BERKAH SEMBILAN NAGA, sebagai Pemohon Kasasi dahulu Tergugat; melawan
- MASAGUS ZAKROWI SONNY, S.E., M.M., selaku Termohon Kasasi dahulu Penggugat.
Tergugat yang merupakan anak usaha PT. Binakarindo Yocoagung, memiliki jenis usaha jasa catering untuk mendukung usaha pertambangan. Hubungan kerja antara Penggugat dengan Tergugat berawal ketika dilakukannya penandatanganan bersama surat Perjanjian Kontrak Kerja tertanggal 5 Maret 2014, yang berakhir masa berlakunya pada 1 September 2014.
Sampai saat akan berakhirnya masa berlaku Perjanjian Kontrak Kerja, Tergugat tidak pernah memberitahukan tentang tindak lanjut Perjanjian Kontrak Kerja berakhir (lewat batas waktu berlaku), tidak ada kejelasan dari Tergugat apakah diperbaharui atau tetap menjalankan kewajibannya seperti biasa.
Timbul masalah pada tanggal 17 November 2014, Penggugat mempertanyakan kejelasan status hubungan kerja setelah berakhirnya masa Perjanjian Kontrak Kerja. Pada tanggal yang sama, Penggugat dipanggil menghadap, Tergugat menyampaikan sikap Perusahaan yang intinya menyatakan bahwa Penggugat sudah tidak disukai lagi dan oleh sebab itu harus di-putus hubungan kerjanya (PHK). Tiada klarifikasi apapun dari pihak pengusaha.
Terhadap gugatan sang mantan pekerja, Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kemudian menjatuhkan putusan Nomor 166/Pdt.Sus-PHI/2015/PN.Jkt.PST tanggal 21 Desember 2015, dengan pertimbangan hukum serta amar sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa meskipun Penggugat menuliskan pokok gugatannya sebagai perselisihan hak, namun berdasarkan dalil-dalil posita dan petitum gugatan Penggugat, Majelis Hakim berpendapat pokok gugatan Penggugat adalah tentang perselisihan pemutusan hubungan kerja (PHK);
“Menimbang, bahwa sebagaimana tertulis dalam perihal gugatan, pokok perselisihan yang diajukan Penggugat adalah tentang perselisihan hak. Dalam hal ini Penggugat mendalilkan hubungan kerjanya dengan Tergugat yang dilakukan berdasarkan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) demi hukum berubah menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) dengan alasanTergugat masih mempekerjakan Penggugat meskipun jangka waktu perjanjian kerja waktu tertentu sudah berakhir;
“Menimbang, bahwa karena PHK yang dilakukan Tergugat terhadap Penggugat terjadi bukan karena adanya kesalahan Penggugat, maka atas terjadinya PHK ini Tergugat wajib membayar kompensasi PHK kepada Penggugat dengan formula uang pesangon sebesar 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2), uang penghargaan masa kerja sebesar 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3), dan uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003;
“Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut kewajiban Tergugat untuk membayar kompensasi PHK kepada Penggugat, dengan memperhatikan masa kerja tetap Penggugat, yakni sejak 2 September 2014 hingga putusan ini diucapkan atau untuk selama lebih dari satu tahun namun kurang dari dua tahun terdiri:
1. Uang pesangon: 2 x 2 x Rp6.400.000,00 = Rp25.600.000,00;
2. Uang penggantian hak atas perumahan, pengobatan serta perawatan = 15% x Rp25.600.000,00 = Rp3.840.000,00;
Keseluruhannya berjumlah sebesar Rp29.440.000,00;
MENGADILI :
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan hubungan kerja antara Penggugat dengan Tergugat putus dan berakhir sejak putusan ini diucapkan;
3. Menghukum Tergugat untuk membayar kompensasi PHK kepada Penggugat yang seluruhnya berjumlah sebesar Rp55.040.000,00 (Lima puluh lima juta empat puluh ribu rupiah);
4. Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya.”
Tergugat mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi tanggal 15 Januari 2016 dan kontra memori kasasi tanggal 16 Februari 2016 dihubungkan dengan pertimbangan judex facti, dalam hal ini Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, ternyata Judex Facti tidak salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut:
“Bahwa terbukti Penggugat masih dipekerjakan oleh Tergugat walaupun sudah habis masa perjanjian sebagaimana Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, oleh karenanya berdasarkan ketentuan Pasal 59 ayat (7) Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003, demi hukum berubah menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu;
“Bahwa dengan demikian Pemutusan Hubungan Kerja terhadap Penggugat harus disertai dengan kompensasi hak berupa pesangon dua kali ketentuan Pasal 156 ayat (2), dan Uang Penggantian Hak sesuai ketentuan pasal 156 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tanpa upah proses karena berakhirnya hubungan kerja dari Perjanjian Kerja Waktu Tertentu berubah demi hukum menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu semata oleh putusan pengadilan;
“Bahwa karena hubungan kerja dalam Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu berlangsung 3 (tiga) bulan atau kurang dari satu tahun, maka Tergugat harus membayar kompensasi Pemutusan Hubungan Kerja kepada Penggugat sebagai berikut:
1. Pesangon 2 x 1 x Rp6.400.000,00 = Rp12.800.000,00.
2. Uang Penggantian Hak 15 % x Rp12.800.000,00 = Rp 1.920.000,00;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, ternyata putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 166/PDT.SUS-PHI/2015/PN.JKT.PST tanggal 21 Desember 2015 dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi : PT. Berkah Sembilan Naga tersebut harus ditolak dengan perbaikan amar putusansebagaimana yang akan disebutkan di bawah ini;
M E N G A D I L I
- Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: PT. BERKAH SEMBILAN NAGA tersebut;
- Memperbaiki amar putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 166/PDT.SUSPHI/2015/PN.JKT.PST.tanggal 21 Desember 2015 sehingga amar selengkapnya berbunyi sebagai berikut:
“MENGADILI SENDIRI :
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan hubungan kerja antara Penggugat dengan Tergugat putus dan berakhir sejak putusan ini diucapkan;
3. Menghukum Tergugat untuk membayar kompensasi Pemutusan Hubungan Kerja kepada Penggugat yang seluruhnya berjumlah sebesar Rp14.720.000,00 (empat belas juta tujuh ratus dua puluh ribu rupiah);
4. Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan