Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Akibat Perusahaan Outsource Tidak Berbadan Hukum

LEGAL OPINION
Question: Apa boleh, saya buka perusahaan outsource namun bentuknya CV?
Brief Answer: Perusahaan penyedia tenaga alih daya (outsourcing), hanya dimungkinkan sepanjang dalam bentuk badan hukum seperti Perseroan Terbatas atau Koperasi. CV adalah “badan usaha”, bukan “badan hukum”.
Sebenarnya, ini bukanlah keharusan bagi perusahaan penyedia tenaga kerja alih daya, namun menjadi beban bagi pengguna jasa outsourcing untuk memerhatikan secara cermat perusahaan outsource rekanan mereka. Lalai untuk memerhatikan aspek yuridis formil ini, mengakibatkan tenaga kerja outsource beralih demi hukum menjadi pekerja tetap pihak pengguna jasa.
PEMBAHASAN:
Terdapat sebuah kasus serupa, diilustrasikan dalam putusan Mahkamah Agung RI sengketa hubungan industrial register Nomor 440 K/Pdt.Sus-PHI/2016 tanggal 23 Juni 2016, perkara antara:
- PT. PANIN BANK, sebagai Para Pemohon Kasasi dahulu Tergugat II; melawan
- MAKMUR HAMENDRA, selaku Termohon Kasasi dahulu Penggugat; dan
- CV. NASINDO cq. RUDDY HARYANTO sebagai Turut Termohon Kasasi dahulu Tergugat I.
Penggugat mulai bekerja di perusahaan Tergugat I sebagai jasa tenaga kerja sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2005, sebelum kemudian Tergugat berganti nama menjadi CV. Nasindo dan Penggugat ditempatkan oleh Tergugat I untuk bekerja di Perusahaan Tergugat II (Bank Panin) sejak tanggal 12 Januari 2003 sebagai tenaga keamanan.
Selama bekerja, hubungan Penggugat dengan Tergugat I dan Tergugat II tidak ada pernah ada masalah selama 9 (sembilan) tahun bekerja. Namun pada tanggal 1 Mei 2012, tanpa alasan yang jelas, Penggugat diputus hubungan kerjanya.
Penggugat telah melakukan perundingan dengan upaya mediasi secara Bipartit maupun Tripartit melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Manado, namun upaya tersebut gagal karena Tergugat I dan Tergugat II tidak mau membayar hak-hak Penggugat.
Tergugat I dan Tergugat II adalah mitra kerja, dimana terdapat pertentangan dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 101/Men/VI/2004 Tentang Tata Cara Perjanjian Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja/Buruh, dimana Pasal 2 ayat (2) mengatur: untuk mendapat ijin operasional perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh Perusahaan menyampaikan permohonan dengan melampirkan:
a. Copy pengesahan sebagai badan hukum berbentuk perseroan terbatas (PT) atau Koperasi;
b. Copy anggaran dasar yang didalamnya memuat kegiatan usaha penyedia jasa pekerja/buruh;
c. Copy SIUP;
d. Copy wajib lapor ketenagakerjaan yang masih berlaku.
Sehingga Tergugat II patut untuk turut bertanggungjawab membayar hak normatif Penggugat, dikarenakan Tergugat II sendiri yang membayar upah kepada Penggugat selama bertahun-tahun via ATM PT. Bank Panin.
Terhadap gugatan tersebut Pengadilan Hubungan Industrial Manado telah memberikan putusan Nomor 8/G/2012/PHI/MDO., tanggal 9 Juli 2013 yang amarnya sebagai berikut
MENGADILI :
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan sah menurut hukum putus hubungan kerja antara Penggugat dengan Tergugat II;
3. Menghukum Tergugat II untuk membayar uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak kepada Penggugat sebesar Rp34.914.000,00 (tiga puluh empat juta sembilan ratus empat belas ribu rupiah);
4. Menghukum Tergugat I untuk tunduk dan taat kepada putusan ini;
5. Menolak gugatan Penggugat selain dan selebihnya.”
Tergugat II merasa keberatan sehingga mengajukan upaya hukum kasasi, yang terhadapnya Mahkamah Agung kemudian membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :
“Bahwa keberatan-keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, karena setelah meneliti dengan saksama memori kasasi tanggal 23 Oktober 2013 dan kontra memori kasasi tanggal 7 Februari 2014 dihubungkan dengan pertimbangan putusan Judex Facti, dalam hal ini Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Manado ternyata Judex Facti sudah tepat dan benar serta tidak salah dalam menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Hubungan kerja dengan CV Nasindo sebagai penyedia jasa tenaga kerja tidak memenuhi ketentuan Pasal 66 ayat (3) Undang-Undang 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, bahwa CV. Nasindo tidak merupakan badan hukum dan tidak memiliki izin dari intansi ketenagakerjaan, sehingga demi hukum hubungan kerja sebagaimana ketentuan Pasal 66 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 beralih ke pemberi kerja (Tergugat II/Pemohon Kasasi);
2. Bahwa namun demikian putusan Judex Facti harus diperbaiki karena hubungan kerja dengan CV. Nasindo sesuai dalil gugatan dan jawaban/berlangsung sejak tahun 2006, karena sejak tahun 2003-2005 hubungan kerja pekerja dengan Primkopau sehingga sah secara hukum. Oleh karenanya dengan mengambil alih sebagian pertimbangan Judex Facti sebatas alasan Pemutusan Hubungan Kerja dan tanggung jawab pembayaran uang kompensasi, maka dengan masa kerja 6 tahun, upah Rp2.340.000,00 perhitungan hak kompensasi adalah :
- Uang Pesangon 7 x Rp2.340.000,00 Rp16.380.000,00;
- Uang Penghargaan Masa Kerja 3 x Rp2.340.000,00 Rp 7.020.000,00;
- Uang Penggantian Hak 15% x Rp23.400.000,00 Rp 3.510.000,00 +
Jumlah Rp26.910.000,00
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, ternyata putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Manado dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau Undang Undang, sehingga permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi CV. Nasindo cq. Ruddy Haryanto dan kawan tersebut harus ditolak, dengan perbaikan amar Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Manado Nomor 08/G/2012/ PHI/MDO., tanggal 9 Juli 2013 tentang uang kompensasi sehingga amar selengkapnya sebagaimana tersebut dibawah ini:
M E N G A D I L I
1. Menolak permohonan kasasi Para Pemohon Kasasi: PT. PANIN BANK tersebut;
2. Memperbaiki putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Manado 08/G/2012/ PHI/MDO., tanggal 9 Juli 2013 sehingga amar lengkapnya menjadi sebagai berikut:
MENGADILI SENDIRI :
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan sah menurut hukum putus hubungan kerja antara Penggugat dengan Tergugat II;
3. Menghukum Tergugat II untuk membayar Uang Pesangon, Uang Penghargaan Masa Kerja dan Uang Penggantian Hak kepada Penggugat sebesar Rp26.910.000,00 (dua puluh enam juta sembilan ratus sepuluh ribu rupiah);
4. Menghukum Tergugat I untuk tunduk dan taat kepada putusan ini;
5. Menolak gugatan Penggugat selain dan selebihnya.”
Yang melanggar ketentuan formil ialah perusahaan penyedia tenaga alih daya, namun yang terkena getahnya ialah perusahaan pengguna jasa tenaga alih  daya. Itulah yang terjadi tatkala perusahaan pengguna jasa tidak menerapkan asas kecermatan dalam proses tender pengadaan jasa. Dalam hal ini, due legal dilligence menjadi penting untuk diperhatikan.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan