Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Rumah yang Sedang dalam Sengketa Tidak dapat Disewakan

LEGAL OPINION
Question: Katanya jual-beli rumah tak memutus hubungan sewa penyewa terhadap pemilik rumah lama yang tetap berlanjut terhadap pemilik rumah baru sampai masa sewanya berakhir. Nah, ini ada hal terjadi, ketika objek tanah saya persengketakan, dan akhirnya saya menangkan lewat pengadilan yang menjadikan saya sebagai pemilik sah atas rumah, mendadak ada pihak-pihak yang muncul dan mengaku sebagai penyewa. Saya curiga ini orang komplotan pemilik rumah sebelumnya yang kalah melawan saya di pengadilan. Tak tanggung-tanggung, masa sewa yang diklaim 20 tahun. Masa saya musti tunggu selama itu baru dapat menempati rumah yang saya beli?
Brief Answer: Langkah pertama, ialah pihak pemilik baru perlu memberi penegasan bahwa masa sewa tidak akan diperpanjang saat jangka waktu sewanya berakhir, agar tak terbuka celah bagi pihak penyewa untuk mendalilkan “perpanjangan sewa secara diam-diam”—mengingat tren masyarakat saat kini ialah toleransi justru membuat besar kepala pihak-pihak yang diberi toleransi.
Objek rumah yang sedang dipersengketakan, tidak dapat disewakan. Bila tetap disewakan, maka yang keliru ialah pemberi sewa, sehingga yang kemudian wajib bertanggung jawab secara mutlak terhadap penyewa ialah pemberi sewa semula, bukan pemilik baru atas objek rumah.
PEMBAHASAN:
Pasal 28 Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Perumahan Dan Kawasan Permukiman:
(1) Setiap orang berhak untuk bertempat tinggal atau menghuni Rumah.
(2) Penghunian Rumah dapat berupa:
a. hak milik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. cara sewa menyewa; atau
c. cara bukan sewa menyewa.
(3) Penghunian Rumah dengan cara sewa menyewa atau dengan cara bukan sewa menyewa sebagaimana dimaksud. pada ayat (1) huruf b dan huruf c hanya sah apabila ada persetujuan atau izin pemilik Rumah.
(4) Penghunian Rumah dengan cara sewa menyewa atau dengan cara bukan sewa menyewa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c dilakukan berdasarkan perjanjian tertulis antara pemilik dan penyewa.
(5) Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) sekurang-kurangnya mencantumkan ketentuan mengenai hak dan kewajiban, jangka waktu sewa menyewa, dan besarnya harga sewa serta kondisi force majeure.
(6) Rumah yang sedang dalam sengketa tidak dapat disewakan.
Pasal 30 PP No. 14 Tahun 2016:
“Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mengenai penghunian Rumah dengan cara sewa menyewa atau cara bukan sewa menyewa diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri.”
Penegasan oleh pemilik baru bahwasannya penyewa tidak lagi berhak menyewa saat jangka waktu sewa berakhir, diperlukan guna menghindari dalil pihak penyewa yang bisa jadi menggunakan kaedah normatif Pasal 1572 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata):
“Jika pihak yang satu telah memberitahukan kepada pihak yang lain bahwa ia berhak menghentikan sewanya, maka penyewa meskipun ia tetap menikmati barang yang bersangkutan, tidak dapat mengemukakan adanya suatu penyewa ulang secara diam-diam.”
Meski demikian, bila beberapa waktu setelah masa sewa berakhir, pihak pemilik rumah baru merasakan kebutuhan untuk meminta penyewa mengosongkan diri dari objek sewa, maka pemilik rumah tetap berhak sewaktu-waktu meminta agar penyewa mengosongkan diri, sebab sewa-menyewa objek rumah tidak dipersangkakan, namun wajib bersifat perjanjian tertulis yang salah satu komponennya ialah jangka waktu sewa disamping harga sewa, yang mana dengan demikian tidak lagi dapat diberlakukan Pasal 1573 KUHPerdata berikut:
“Jika setelah berakhir suatu penyewaan yang dibuat secara tertulis, penyewa tetap menguasai barang yang disewa dan dibiarkan menguasainya, maka terjadilah suatu sewa baru, yang akibat-akibatnya diatur dalam Pasal-pasal mengenai penyewaan secara lisan.”
[Note SHIETRA & PARTNERS: Meski tetap menjadi pertanyaan besar, dapatkah PP No. 14 Tahun 2016 yang hanya merupakan Peraturan Pemerintah menderogasi/mengesampingkan norma KUHPerdata yang merupakan undang-undang?]
Pasal 1576 KUHPerdata:
Dengan dijualnya barang yang disewa, sewa yang dibuat sebelumnya tidak diputuskan kecuali bila telah diperjanjikan pada waktu menyewakan barang.”
Seperti halnya ketentuan Pasal 1573 KUHPerdata yang tidak lagi dapat diberlakukan, keberlakuan Pasal 1576 KUHPerdata pun telah di-limitasi daya berlakunya, sebab PP No. 14 Tahun 2016 mengatur secara eksplisit, bahwasannya objek sewa yang sedang dipersengketakan, tidak dapat diikat suatu hubungan hukum sewa-menyewa.
Penyewa yang tetap mengikatkan diri dalam hubungan sewa demikian, dapat dikategorikan sebagai penyewa yang beritikad tidak baik, sehingga tidak dilindungi oleh hukum, yang mana oleh karenanya perjanjian sewa antara penyewa dengan pemilik lama tidak mengikat pihak ketiga (dalam hal ini pemilik baru atas objek rumah sewa).
Namun bukankah bisa terjadi, pihak penyewa benar-benar tak tahu-menahu adanya sengketa antara pihak pemberi sewa dengan pihak ketiga, sebagaimana kerap terjadi? Jawab SHIETRA & PARTNERS: Betul, hal demikian cukup logis untuk diakui relevansinya.
Pemilik baru berhak sewaktu-waktu meminta agar penyewa yang beritikad tidak baik tersebut untuk mengosongkan diri, menghentikan perjanjian sewa demikian secara seketika, dimana tanggung jawab hukum yang ada hanyalah sebatas tanggung jawab pribadi antara pemilik lama dengan pihak penyewa—dengan kata lain soal ganti-rugi uang sewa agar dikembalikan secara proporsional, gugatan ganti-rugi, perihal wanprestasi, dsb, bukan menjadi urusan pemilik baru objek sewa.
Terlagi pula, bukankah Pasal 28 Ayat (3) PP No. 14 Tahun 2016 tersebut diatas sudah tegas menyatakan, bahwa Penghunian Rumah dengan cara sewa menyewa hanya sah apabila ada persetujuan atau izin pemilik Rumah ?
Pemilik rumah berubah, berubah pula syarat dan ketentuan sewa-menyewa. Dapat pula ditafsirkan, bila tiada perjanjian sewa-menyewa baru antara penyewa dengan pihak pemilik baru objek sewa, maka seketika itu juga sewa-menyewa rumah terhenti dan terputus.
Dengan demikian beban kewajiban telah bergeser, dari sebelumnya KUHPerdata mengadopsi asas jual-beli rumah tak memutus hubungan sewa-menyewa, berbalik oleh pengaturan PP No. 14 Tahun 2016 dimana pihak penyewalah, yang harus membuat klausul perikatan dalam perjanjian sewa-menyewa dengan pihak pemberi sewa, bahwa “pemberi sewa tak boleh mengalihkan objek rumah sewa kepada pihak ketiga selama masa sewa masih berjalan”, atau dengan rumusan alternatif: “bila pemberi sewa mengalihkan hak atas tanah/rumah kepada pihak ketiga, maka pemberi sewa menjamin bahwa pihak ketiga akan tetap mengikuti dan menghormati perjanjian sewa ini”.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan