Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Retreat, antara Mundur dan Introspektif

ARTIKEL HUKUM
Hukum dikenal sebagai instrumen yang keras, imperatif, memaksa, dan kadang menyakitkan. Bila melihat dari sudut pandang demikian, akan membuat warga negara frustasi dan merasa terbebani. Ujungnya, hukum akan dipandang sebagai musuh atau “pihak luar”, bukan sebagai kawan ataupun rekan seperjalanan kehidupan peradaban.
Hukum yang tersisihkan.
Negara yang sehat, memiliki warga negara yang memiliki rasa memiliki terhadap hukum negara mereka. Tunduk bukan karena rasa takut belaka, namun karena kesadaran diri berupa budaya “malu” bila sampai melanggar norma hukum, dan baik regulator maupun warganya menyadari bahwa hukum dibentuk demi kebaikan bersama.
Arogansi, karena merasa kebal hukum, atau karena asumsi dan keyakinan keliru lainnya mengenai diri yang “tak dapat salah”, sejatinya telah menjadikan diri sang pelaku tidak akan dapat melakukan introspeksi diri. Jangankan introspeksi diri, terpikirkan untuk berintrospeksi diri pun tidak.
Tidak ada urgensinya. Buat apa introspeksi diri, saya tidak salah dan tidak bisa salah !
Pada gilirannya, akan membuat dirinya meyakini bahwa perilaku dirinya selama ini adalah sudah benar adanya meski senyatanya keliru sama sekali.
Ada waktunya, dimana hukum perlu tampil untuk memaksa mundur seorang pelaku kejahatan atau perilaku buruk lainnya, atau bila perlu dengan dikunci dalam sel tahanan, guna menjadi momen introspeksi diri. Atau, setidaknya menjadi efek jera bagi calon penjahat muda untuk segera menarik diri dari niat buruk mereka.
Namun apa harus terjerat hukum terlebih dahulu, untuk mulai belajar melakukan introspeksi diri? Bukankah akan menjadi harga yang mahal untuk dibayar bila setiap kali masalah muncul, hukum harus tampil dan campur tangan?
Sekalipun harus demikian, pada kenyataannya hukum negara bersifat sangat tidak efesien, bahkan jauh dari efektif. Pernahkah Anda bertanya-tanya, dimanakah polisi ketika warga negara sangat membutuhkan? Dimana hukum dan keadilan tatkala Anda sangat membutuhkan hukum dan keadilan?
Buktikan sendiri, jika Anda kehilangan kendaraan bermotor, atau kediaman Anda kemasukan pencuri, apakah Anda yakin akan melaporkan pada pihak berwajib? Bisa-bisa hilang kambing, melapor akan membuat Anda kehilangan mobil.
Ketika Anda dianiaya di jalan, demi membela kebenaran, menjadi pahlawan kesiangan. Cobalah Anda menelepon pihak berwajib ataupun melapor ke kantor polisi. Apa responnya?
Bunyi: “Tut tut tut ... tulalit !
Atau, sekedar laporan polisi, pungutan liar, dan warga negara menghadapi arogansi petugas berseragam lengkap dengan pistol disandang, rok*k mengepul sehingga asap tembakau memenuhi paru-paru Anda, dan tingkah polah sok kuasa. Penelantaran.
Jadi, apa ada gunanya, mengatakan negara ini negara hukum? Rasanya, seperti membohongi diri ketika mengatakan negara ini negara hukum. Tak heran bila perbuatan main hakim sendiri masih terjadi, karena memang negara ini menyerupai tanpa hukum, karena aparatur penegaknya asyik “tertidur lelap” semua.
Hal tersebut diatas merupakan kejadian yang penulis sendiri alami. Bukan kata orang lain, bukan mitos, bukan dongeng.
Hukum negara tidak efektif dan jauh dari efesien. Inilah faktanya di Indonesia, negara berhukum, katanya.
Saat ini sedang tren-trennya berbagai pemukiman dijadikan pabrik oleh pelaku usaha tak bertanggung-jawab, mengakibatkan para penduduk lain hanya dapat mengelus dada, mendapati ketenangan hidup mereka direnggut demi keuntungan ekonomi sang pelaku usaha sendiri, mengakibatkan lingkungan pemukiman menjadi penuh oleh polusi suara, polusi udara, polusi air, dsb.
Sebenarnya berbagai bentuk pelanggaran hukum, pelanggaran etika, pelanggaran moral, atau pelanggaran kepatutan lainnya tidak perlu terjadi tatkala kita memahami dua konteks makna dari frasa dalam Bahasa Inggris yang bernama “retreat”.
Dalam salah satu definisinya, “retreat” memiliki pengertian sebagai kabur, melarikan diri, atau menarik diri. Terdengar bukan seperti kata yang enak didengar, penuh konflik, dan nista (tidak heroik—tapi memang jagoan mana yang tidak pernah mundur ketika terjatuh dan terluka? Jago dan bodoh adalah berbeda sama sekali).
Namun, frasa “retreat” juga mengandung makna kedua, yakni sebagai upaya diri penuh kesadaran pribadi untuk menarik diri mundur ke belakang, untuk melakukan langkah perenungan dan introspeksi diri. Melihat perilaku diri bukan dari sudut pandang mata diri sendiri, tapi ketika kita menarik diri ke belakang, kita seolah melihat dan menjadi pengamat atas sikap perilaku diri kita sendiri. Disaat bersamaan menghentikan diri, untuk terlebih dahulu menilai dan menimbang, apakah perilaku kita selama ini adalah patut dan telah tepat, atau mungkin bahkan sebaliknya tanpa pernah kita sadari. Mungkin pada titik inilah kita menjadi takut atas diri kita sendiri.
Hendaknya kita tak hanya mengenal dan memahami kata “maju”, “tempur”, “semangat”, “dobrak”, “gempur”, “eskpansi”, “kuasai” atau bunyi sejenisnya. Ada kalanya, kita harus memilih untuk “melepas” agar kita dapat melangkah lebih ringan, atau sekadar menginjak pedal “rem” tatkala kita telah menekan pedal “gas” secara dalam-dalam, dan menepi untuk sejenak.
Introspektif, memiliki makna yang sangat mendalam dan sakral, penuh kewaspadaan dan berkesadaran diri. Mawas diri. Introspektif, artinya membuka ruang bagi diri untuk mengakui diri kita dapat berbuat salah, dan bisa saja salah dalam setiap tindakan dan perilaku kita dikeseharian.
Orang yang paling mengerikan adalah orang yang tidak pernah merasa dirinya perlu menarik diri dan berintrospektif. Tipe manusia jenis ini merasa dirinya selalu benar, sementara orang lain selalu salah. Adalah percuma, berbicara dengan tipe orang satu ini. Anda hanya akan membuang waktu dan tenaga untuk membuat dirinya berkaca. Mungkin, sampai-sampai dewa kematian pun akan diajaknya berdebat dan yakin dapat menang. Atau mungkin meyakini dengan penuh percaya diri bahwa Yama, sang dewa neraka, dapat disogok dan diajak bernegosiasi.
Orang yang introspektif, tak harus menunggu ditegur oleh tuan rumah karena parkir seenaknya dalam bentuk jajaran motor roda dua di depan rumah penduduk setempat sehingga sang tuan rumah tak bisa keluar masuk rumah sendiri. Dan hal ini terus terjadi berulang kali. Kok yang gini saja musti ditegur berulang kali, dan justru lebih beringas dan galak yang ditegur? Negara ini kok, penduduknya memiliki otak yang terbalik? Punya otak, tapi kok, hanya dijadikan sebagai pengganjal isi batok kepala.
Pribadi yang berkesadaran, tidak akan berani mengotori lingkungan hidupnya sendiri, terlebih merusaknya.
Jiwa manusia yang sehat, tidak akan mengambil hak orang lain demi memuaskan ataupun demi kepentingan dirinya sendiri. Meski anehnya, manusia dengan jiwa yang sakit demikian selalu dibalut oleh penampilan luar yang serba sempurna.
Para pakar psikoanalis sudah lama mensinyalir, jiwa yang rusak, akan dikompensasikan dengan tampilan luar yang serba utuh. Manusia adalah pribadi yang penuh kontradiktif sekaligus ironi, lewat berbagai kompensasi diri yang berkebalikan dari apa yang ada dalam dirinya. Orang bodoh akan mencoba dengan segala cara agar tampil meyakinkan sebagai pribadi yang cerdas. Yakin, bahwa menipu diri akan dapat juga menipu orang lain.
Dunia modern bergerak maju. Namun kian terasa ada yang menghilang dan terus melemah. Apakah itu? Apakah yang telah hilang dari peradaban manusia kita?
Benar, kita menjadi lupa untuk sejenak mundur, menarik diri, dan berintrospeksi diri.
Tak perlu malu ataupun antipati untuk mengakui bahwa kita perlu memberi kesempatan diri untuk mengambil langkah mundur, merendahkan diri, menundukkan kepala, dan menarik diri, guna menumbuhkan diri.
Menumbuhkan diri, tak hanya harus dengan cara agresifitas, lari menerjang, bergerak 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu, dengan bangga menyatakan sebagai manusia super sibuk, eksploitasi manusia lain atau lingkungan, atau melahap berbagai ilmu pengetahuan yang dapat meluluh-lantakkan Planet Bumi ini hanya dengan sebuah tombol.
Menumbuhkan diri, tak harus menjadi “pemeran” aktor panggung  kehidupan yang fenomenal, berwajah tampan/cantik, memiliki segenap materi, atau menjadi seorang superhero.
Lihatlah bagaimana Pangeran Sidharta Gaotama justru menarik diri dari gemerlap dunia, melepas takhta, menanggalkan materi maupun ketenaran, tiada lagi melekat pada kenikmatan duniawi, namun memilih untuk bergerak mundur, dan berintrospeksi dalam keheningan. Siddharta Gaotama mencapai penerangan sempurna dengan berhasil menemukan dirinya sendiri, kemudian menjadi guru penuntun para dewa dan manusia yang merasa terasing dengan dirinya sendiri.
Menemukan diri, maka menemukan kebenaran tentang semesta.
Menarik diri, artinya mulai sedikit demi sedikit melepaskan khayalan kita, obsesi kita, ketamakan diri kita.
Menarik diri, berarti mulai untuk belajar untuk tidak menghakimi orang lain, namun mulai untuk menilai dan mengenali perilaku diri sendiri.
Menarik diri, berarti memulai jalinan komunikasi dengan diri sendiri.
Menarik diri, berarti mulai membangun dari sudut yang sebaliknya.
Menarik diri, berarti memulai dari hal baru kembali.
Menarik diri, berarti memberi kesempatan pada diri, untuk pulih dari luka masa lampau.
Menarik diri, berarti membuka kesempatan untuk jujur pada diri sendiri dan mulai memberi uluran tangan bagi diri kita sendiri.
Menarik diri, berarti mulai memahami, bahwa setiap manusia, setiap makhluk, dapat merasakan sakit dan juga memiliki espektasi yang sama dengan kita.
Menarik diri, berarti kita mulai mau mengakui bahwa diri orang lain pun sama berharganya dengan diri kita.
Menarik diri, berarti melepas segenap atribut diri.
Menarik diri, berarti tidak lagi memandang diri kita sebagai manusia yang istimewa daripada manusia lain.
Menarik diri, berarti menjadi pribadi yang lepas dari segala kemelekatan.
Menarik diri, berarti tidak lagi menipu diri dengan fatamorgana dunia yang kita ciptakan sendiri.
Menarik diri, berarti berhenti menyakiti makhluk lain maupun diri sendiri.
Menarik diri, berarti tidak membohongi diri bahwa memiliki tumpukan harta ataupun pengakuan akan membuat mereka bebas dari derita.
Ketika semua itu menjadi kenyataan, setiap pribadi menyadari pentingnya langkah gerakan mundur, hukum negara tidak lagi dibutuhkan. Itulah negara yang paling ideal, yakni bukan negara yang dipenuhi oleh berbagai aturan hukum yang kian menyerupai hutan belantara.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan