Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Debitor dan Pemberi Personal Guarantee Dinyatakan PKPU secara Bersama-Sama

LEGAL OPINION
Question: Bila terhadap hutang debitor, ada pihak-pihak yang menjadi pemberi jaminan perorangan (borgtocht / personal guarantee), apakah artinya hanya debitor dahulu yang dapat di-PKPU, atau debitor bersama-sama pemberi jaminan perseorangan ini dapat sekaligus dijatuhkan ke dalam keadaan PKPU seketika dan sekaligus? Pemberi borgtocht dari pihak perusahaan kami selaku debitor, adalah para pemegang sahamnya sendiri.
Brief Answer: Bila akta Jaminan Perseorangan ini dalam substansinya disepakati bahwa pemberi Jaminan Perseorangan melepas hak istimewa untuk menuntut agar kreditor terlebih dahulu menagih-gugat debitor, maka seketika itu kreditor dapat menagih-gugat baik terhadap debitornya atau terhadap pemberi Jaminan Perseorangan, atau sekaligus terhadap keduanya tanpa terkecuali. Oleh karenanya pemberian borgtocht oleh pemegang saham sama artinya dengan melepas sifat tanggung jawab terbatas seorang pemegang saham suatu perseroan terbatas.
PEMBAHASAN:
Dalam putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat perkara permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) register Nomor 08/Pdt.SUS-PKPU/2015/PN.Niaga.Jkt.Pst tanggal 9 Februari 2015, perkara antara:
- PT. BANK MUTIARA, Tbk., sebagai Pemohon PKPU; terhadap
1. PT. SUHARLI MALAYA LESTARI, sebagai Termohon-I PKPU;
2. INDRA LESMANA SUHARLI, sebagai Termohon II PKPU;
3. HERAWAN SUHARLI., sebagai Termohon-III PKPU; dan
4. INDRIYANI SUHARLI., sebagai Termohon-IV PKPU.
Pemohon PKPU selaku Kreditur dengan Termohon-I PKPU selaku Debitur telah mengikatkan diri dalam beberapa perjanjian pinjaman sebagaimana yang termuat dalam Akta Perjanjian, dengan jaminan pelunasan piutang berupa berbagai jaminan fidusia serta jaminan pribadi dari seluruh pemegang saham PT. SUHARLI MALAYA LESTARI.
Atas kesepakatan untuk memberikan jaminan pribadi dari seluruh pemegang saham PT.SUHARLI MALAYA LESTARI, maka selanjutnya PEMOHON PKPU dengan TERMOHON-II, III dan IV PKPU telah mengikatkan diri sebagai penjamin utang TERMOHON-I PKPU, melalui jaminan pribadi yang termuat dalam Akta Borgtoch (Jaminan Pribadi), dimana TERMOHON-II PKPU hingga TERMOHON-IV PKPU telah mengikatkan diri untuk menjadi pemberi Jaminan Pribadi dan dalam klausul didalamnya dinyatakan melepaskan hak istimewanya sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1837 KUHPerdata, sehingga para TERMOHON PKPU terikat dengan tagihan-tagihan terhadap TERMOHON-I PKPU dan para TERMOHON PKPU tersebut tidak dapat menuntut agar TERMOHON-I PKPU melunasi utangnya terlebih dahulu.
Berdasarkan Akta Borgtoch tersebut, maka kedudukan para TERMOHON-II, III dan IV PKPU menjelma sebagai “debitur tanggung renteng” dari PERMOHON PKPU.
Dengan belum dibayarkannya utang TERMOHON-I PKPU kepada PEMOHON PKPU sebesar Rp19.212.231.862;00 yang telah jatuh tempo, maka TERMOHON-II, III dan IV PKPU selaku pemberi personal guarantee terikat dan berkewajiban secara hukum untuk melunasi utang-utang TERMOHON-I PKPU yang telah jatuh tempo tersebut kepada PEMOHON PKPU, sebagaimana diatur Pasal 1836 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata):
“Jika beberapa orang telah mengikatkan diri sebagai penanggung untuk seorang berutang yang sama, lagipula untuk utang yang sama, maka masing-masing adalah terikat untuk seluruh utang itu.”
Hingga saat ini, baik TERMOHON-II, III maupun IV PKPU belum membayarkan sisa utang TERMOHON-I PKPU yang telah jatuh tempo, dengan demikian TERMOHON-I PKPU bersama-sama dengan TERMOHON-II, III dan IV PKPU telah memiliki utang kepada PEMOHON PKPU yang telah jatuh tempo.
Terhadap permohonan tersebut, Majelis Hakim membuat pertimbangan hukum sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa berdasarkan pemanggilan yang telah dilakukan oleh Jurusita Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sesuai relaas panggilan tertanggal 22 Januari 2015 dan Tanggal 29 Januari 2015 Para Termohon telah dipanggil secara patut tetapi tidak hadir menghadap dipersidangan atau tidak menyuruh orang lain untuk hadir menghadap dipersidangan sebagai kuasanya, dan ketidak hadirannya Termohon tersebut bukan disebabkan oleh suatu halangan yang sah, maka dengan demikian Termohon dalam perkara ini dianggap tidak lagi mempergunakan haknya untuk membela dan mempertahankan kepentingannya atas gugatan Pemohon tersebut;
“Menimbang, bahwa berhubung Para Termohon telah dipanggil dengan patut dan tidak datang menghadap dipersidangan, maka Para Termohon telah dapat dinyatakan berada dalam keadaan tidak hadir dan perkara ini beralasan untuk dapat diputus tanpa hadirnya Termohon;
“Menimbang, bahwa selanjutnya berdasarkan bukti P-9, P-10 dan P-11 diketahui bahwa selain Termohon PKPU-I memberi jaminan kebendaan sebagaimana tersebut diatas, Termohon PKPU-I juga mengajukan Termohon PKPU-II, Termohon PKPU-III dan Termohon PKPU-IV sebagai Personal Guarantee/Penjamin salinan Akta Jaminan Pribadi (Borgtoch), tanggal 6 Oktober 201;
“Menimbang, bahwa selanjutnya dari bukti tersebut dapat diketahui bahwa Termohon PKPU-II, Termohon PKPU-III dan Temohon PKPU-IV sebagai penanggung utang Termohon PKPU-I kepada Pemohon PKPU tersebut secara tegas telah menyatakan melepaskan dan mengesampingkan hak-hak istimewanya sebagai penanggung utang yang diatur dalam Pasal 1430, 1831, 1837, 1843, 1847, 1848, 1849, dan 1850 KUHPerdata sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 2 butir II Perjanjian Pemberian Jaminan Perorangan (Personal Guarantee);
“Menimbang, bahwa berdasarkan uraian tersebut diatas Majelis Hakim berpendapat bahwa Permohonan PKPU yang diajukan kepada para Termohon PKPU dalam perkara aquo dapat dibenarkan, dengan demikian Termohon PKPU-II, Termohon PKPU-III dan Termohon PKPU-IV selaku Penjamin dapat dimintakan pertanggungjawaban atas utang PT SUHARLI MALAYA LESTARI;
“Menimbang, bahwa PKPU sementara ditetapkan untuk paling lama 45 (empat puluh lima) hari terhitung sejak tanggal putusan ini diucapkan dan memerintahkan pengurus untuk memanggil Debitur dan Kreditur untuk menghadap dalam sidang Majelis yang diselenggarakan pada hari ke 45 (empat puluh lima hari) terhitung sejak putusan PKPU Sementara diucapkan, untuk mendengar laporan Pengurus / Hakim Pengawas tentang perkembangan yang dicapai dalam waktu PKPU Sementera berjalan;
M E N G A D I L I :
1. Mengabulkan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU ) yang diajukan oleh Pemohon PKPU Untuk seluruhnya;
2. Menetapkan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Sementara atas Termohon-I PKPU ic PT SUHARLI MALAYA LESTARI dari Pemohon PKPU selama 45 hari terhitung sejak tanggal putusan diucapkan;
3. Menetapkan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Sementara atas Termohon-II PKPU ic INDRA LESMANA SUHARLI dari Pemohon PKPU selama 45 hari terhitung sejak tanggal putusan diucapkan;
4. Menetapkan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Sementara atas Termohon-III PKPU ic HERAWAN SUHARLI dari Pemohon PKPU selama 45 hari terhitung sejak tanggal putusan diucapkan;
5. Menetapkan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Sementara atas Termohon-IV PKPU ic INDRIYANI SUHARLI dari Pemohon PKPU selama 45 hari terhitung sejak tanggal putusan diucapkan;
8. Menetapkan sidang yang merupakan rapat permusyawaratan hakim untuk mendengar laporan hakim pengawas tentang perkembangan yang dicapai selama proses permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sementara, paling lambat pada hari ke 45 terhitung sejak putusan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sementara diucapkan;
9. Memerintahkan Pengurus untuk memanggil Para Termohon Penundaan Kewajiban pembayaran Utang (PKPU) dan Kreditor lainnya yang dikenal dalam surat tercatat atau melalui kurir untuk menghadap sidang–sidang yang ditentukan.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan