Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Syarat Diterimanya Rencana Perdamaian dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, PKPU

LEGAL OPINION
Question: Bagaimana syaratnya nanti saat rapat para kreditor agar rencana perdamaian yang diajukan debitor dalam PKPU dapat diterima dan disahkan hakim Pengadilan Niaga?
Brief Answer: Berdasarkan sistem kuorum yang cukup berat, kumulatif harus disetujui baik oleh kreditor konkuren maupun kreditor separatis dalam kuorum voting jenis kreditor tersebut masing-masing.
PEMBAHASAN:
Dalam putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang mengadili perkara permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sengketa register Nomor 11/PKPU/2012/PN.NIAGA.JKT.PST. tanggal 21 Juni 2012, perkara antara:
- PT. BANK MANDIRI (PERSERO), Tbk., sebagai Pemohon PKPU; terhadap
- PT. TIRTHA RIA, selaku Termohon PKPU.
Pailitnya debitor bermula dari perkara PKPU terhadap debitor tertanggal 3 April 2012, telah diputuskan PT. TIRTHA RIA dalam keadaan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Sementara (PKPUS), untuk waktu selama 45 (empat puluh lima) hari kalender terhitung sejak Putusan PKPUS diucapkan dengan segala akibat hukumnya.
Kemudian pada tanggal 18 Juni 2012 pernah dilakukan Rapat Kreditor yang membahas tentang Rencana Perdamaian yang diajukan oleh Debitor termasuk revisi rencana perdamaian, dimana rencana perdamaian yang diajukan oleh Debitor (dalam PKPU) telah ditolak dalam rapat pemungutan suara tersebut.
Usulan Perdamaian yang disampaikan oleh Debitor (dalam PKPU) tertanggal 16 Mei 2012, yang pada intinya berkehendak melanjutkan kegiatan usahanya dan berusaha mencari investor yang akan mengambil alih saham perseroan, sehingga kemudian dari pihak debitor diajukan skema rencana pembayaran hutang maupun cicilan.
Ternyata dari hasi pemungutan suara (voting) untuk rencana perdamaian pada tanggal 15 Juni 2012 tersebut, dimana dari jumlah Kreditor konkuren sebanyak 85 Kreditor dengan jumlah total tagihan Kreditor konkuren sebesar Rp. 105.458.839.964,38 (10.546 hak suara), telah hadir rapat dan memberikan suara dalam pemungutan sebanyak 46 Kreditor, sedangkan jumlah Kreditor Separatis sebanyak 1 Kreditor dengan jumlah total tagihan Kreditor separatis sebesar Rp. 111.045.000.000,00 (11.105 hak suara), telah hadir rapat dan memberikan suara dalam pemungutan suara sebanyak 1 Kreditor, dimana hasil pemungutan suara untuk menyetujui atau menolak rencana perdamaian tersebut adalah sebagai berikut:
a. dari 46 Kreditor Konkuren yang hadir, sejumlah 45 Kreditor konkuren yang jumlah tagihannya sebesar Rp. 23.036.161.247,79 memberikan suara menyetujui rencana perdamaian yang diajukan oleh Debitor (dalam PKPU), sedangkan 1 Kreditor Konkuren yang jumlah tagihannya Rp. 79.660.032.632,11 memberikan suara tidak menyetujui / menolak rencana perdamaian yang diajukan oleh Debitor;
b. dari 1 Kreditor Separatis yang hadir yang jumlah tagihannya Rp. 111.045.000.000,00 memberikan suara tidak menyetujui rencana perdamaian yang diajukan oleh Debitor (dalam PKPU), suara yang menyetujui kosong (0).
Pasal 281 Ayat (1) UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU, ditentukan sebagai berikut :
Rencana perdamaian dapat diterima berdasarkan:
a. persetujuan lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah kreditor konkuren yang haknya diakui atau sementara diakui yang hadir pada rapat Kreditor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 268 termasuk Kreditor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 280, yang bersama-sama mewakili paling sedikit 2/3 (dua pertiga) bagian dari seluruh tagihan yang diakui atau sementara diakui dari kreditor konkuren atau kuasanya yang hadir dalam rapat tersebut; dan
b. persetujuan lebih dari 1/2 (satu perdua) jumlah Kreditor yang piutangnya dijamin dengan gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya yang hadir dan mewakili paling sedikit 2/3 (dua per tiga) bagian dari seluruh tagihan dari Kreditor tersebut atau kuasanya yang hadir dalam rapat tersebut.
Pasal 289 UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU, ditentukan sebagai berikut:
Apabila rencana perdamaian ditolak maka Hakim Pengawas wajib segera memberitahukan penolakan itu kepada Pengadilan dengan cara menyerahkan kepada Pengadilan tersebut salinan rencana perdamaian serta berita acara rapat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 282, dan dalam hal demikian Pengadilan harus menyatakan Debitor Pailit setelah Pengadilan menerima pemberitahuan penolakan dari Hakim Pengawas, dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 283 Ayat (1).”
Jumlah seluruh Kreditor Konkuren PT. TIRTHA RIA (dalam PKPU) adalah 85 Kreditor dengan jumlah total tagihan Kreditor konkuren sebesar Rp. 105.458.839.964,38 / 10.546 hak suara, sehingga bila didasarkan ketentuan Pasal 281 Ayat (1) Huruf (a) UU No. 37 Tahun 2004, untuk dapat diterimanya persetujuan rencana perdamaian haruslah disetujui oleh ½ (satu perdua) dari jumlah Kreditor Konkuren yang bersama-sama mewakili paling sedikit 2/3 (dua pertiga) bagian dari seluruh tagihan (konkuren) atau dalam hal ini 2/3 (dua pertiga) dari Rp. 105.458.839.964,38 yakni sebesar Rp. 70.305.893.309,59.
Dari hasil pemungutan suara dalam rapat, diketahui bahwa Kreditor Konkuren yang hadir rapat dan memberikan suara dalam pemungutan sebanyak 46 Kreditor Konkuren, dimana 45 Kreditor konkuren menyetujui rencana perdamaian yang diajukan namun jumlah tagihan 45 Kreditor Konkuren tersebut ternyata tidak mewakili 2/3 (dua pertiga) dari total seluruh tagihan Kreditor Konkuren, karena jumlah tagihan dari 45 Kreditor Konkuren tersebut adalah sebesar Rp. 23.036.161.247,79 sehingga persyaratan untuk dapat diterimanya rencana perdamaian PT. TIRTHA RIA (dalam PKPU), tidak terpenuhi.
- Jumlah Kreditor Konkuren yang hadir dan berhak mengeluarkan suara yakni 46 Kreditor, yang menyetujui : 45 Kreditor, dan yang tidak menyetujui : 1 Kreditor, serta abstain 0 Kreditor.
- Jumlah Kreditor Konkuren yang hadir dan berhak mengeluarkan suara serta menyetujui melebihi ½ jumlah Kreditor Konkuren dimaksud, namun tagihan tidak melebihi 2/3 jumlah tagihan konkuren dimaksud yakni Rp. 23.036.161.247,79.
- Jumlah 2/3 tagihan konkuren Rp. 70.305.893.309,59, sedangkan jumlah tagihan konkuren seluruhnya Rp. 105.458.839.964,38.
Jumlah seluruh Kreditor Separatis PT. TIRTHA RIA (dalam PKPU) adalah 1 Kreditor dengan jumlah total tagihan Kreditor Separatis sebesar Rp. 111.045.000.000,00 / 11.105 hak suara, sehingga bila didasarkan ketentuan Pasal 281 ayat (1) huruf b UU No. 37 Tahun 2004, untuk dapat diterimanya persetujuan rencana perdamaian yang diajukan debitor haruslah disetujui oleh ½ (satu perdua) dari jumlah Kreditor Separatis yang mewakili paling sedikit 2/3 (dua pertiga) bagian dari seluruh tagihan Kreditor Separatis atau dalam hal ini 2/3 (dua pertiga) dari Rp. 111.045.000.000,00 yakni sebesar Rp. 74.030.000.000,-.
Dari hasil pemungutan suara, diketahui bahwa Kreditor Separatis yang hadir rapat dan memberikan suara dalam pemungutan sebanyak 1 Kreditor Separatis, di mana 1 Kreditor Separatis tersebut hadir dan menolak / tidak menyetujui rencana perdamaian yang diajukan debitor, sedangkan 1 Kreditor Separatis tersebut adalah merupakan seluruh Kreditor Separatis yang memiliki jumlah tagihan Rp. 111.045.000.000,00 atau dengan kata lain seluruh Kreditor Separatis menolak rencana perdamaian, sehingga persyaratan untuk dapat diterimanya rencana perdamaian, tidak terpenuhi.
- Jumlah Kreditor Separatis yang hadir dan berhak mengeluarkan suara yakni 1 Kreditor, yang menyetujui : 0 Kreditor, dan yang tidak menyetujui : 1 Kreditor, serta abstain : 0 Kreditor.
- Jumlah Kreditor Separatis yang hadir dan berhak mengeluarkan suara menyetujui serta melebihi ½ jumlah Kreditor Separatis dimaksud, dan tagihannya pun melebihi 2/3 jumlah tagihan Separatis dimaksud yakni Rp.111.045.000.000,-.
- Jumlah 2/3 tagihan separatis Rp. 74.030.000.000,- sedangkan tagihan separatis seluruhnya Rp. 111.045.000.000,-.
Kreditor Separatis telah memberikan kelonggaran kepada pihak Debitor PKPU untuk memperlihatkan keseriusan berdamai dengan menyimpan uang sejumlah pelunasan dengan penghapusan bunga dan denda, ke rekening pengurus, namun tidak terealisir oleh debitor.
Sehingga, rencana perdamaian tersebut telah ditolak oleh Para Kreditor baik Kreditor Konkuren ataupun Kreditor Separatis. Atas ditolaknya rencana perdamaian, telah dilaporkan oleh Hakim Pengawas kepada Majelis Hakim, karena itu berdasarkan ketentuan Pasal 289 UU No. 37 Tahun 2004, Debitor (dalam PKPU) dalam hal ini PT. TIRTHA RIA, harus dinyatakan dalam keadaan pailit dengan segala akibat hukumnya, dengan amar putusan:
MENGADILI:
1. Menolak rencana perdamaian yang diajukan PT. TIRTHA RIA (dalam PKPU) dalam proses PKPU sebagaimana dilaksanakan dalam Rapat Pemungutan Suara oleh Kreditor pada hari Jumat, 15 Juni 2012 di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat;
2. Menyatakan Pailit PT. TIRTHA RIA yang berkedudukan di Jl. Leuwigajah KM. 8,7, Kota Cimahi, Jawa Barat, dengan segala akibat hukumnya.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan