Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Buruh Meng-Eksekusi Pengusaha

LEGAL OPINION
Question: Sudah keluar putusan pengadilan, dan sudah pula berkekuatan hukum tetap, bahwa perusahaan dihukum membayar sejumlah gaji yang menjadi hak saya yang hingga kini belum diberikan pada saya. Nah, apa yang selanjutnya dapat saya lakukan, karena hingga kini pihak pengusaha belum juga mematuhi isi putusan?
Brief Answer: Ajukan permohonan sita eksekusi kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat, yang mudahnya ialah mohonkan sita eksekusi terhadap rekening milik pengusaha lewat pengadilan.
Bila dalam dunia perbankan berlaku prinsip know your costumer, maka dalam dunia hubungan industrial, dikenal prinsip know your employer. Perilaku pengusaha yang memiliki gelagat itikad buruk terhadap pekerja / buruhnya, hendaknya menjadi rambu merah bagi calon pegawai untuk bergabung sebagai pekerja.
Setiap amar putusan pengadilan berupa penghukuman untuk memberikan sesuatu, seperti upah/gaji yang menjadi hak normatif pekerja/buruh, yang mana bila tidak diindahkan oleh pengusaha, maka Ketua Pengadilan berwenang untuk menyita setiap harta kekayaan pengusaha, baik harta bergerak (seperti rekening bank) maupun harta tak bergerak (seperti hak atas tanah) untuk dieksekusi.
PEMBAHASAN:
Contoh kasus berikut perlu dipahmi oleh setiap kalangan pekerja/buruh, sebagai ilustrasi apa yang akan terjadi pada pengusaha yang memungkiri putusan pengadilan, sebagaimana tertuang dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sengketa register Nomor 582/PDT/BTH/2012/PN.Jkt.Pst tanggal 6 November 2013, perkara antara:
- PT. RUKUN PERSADA MAKMUR “PT. RPM”, dalam hal ini diwakili oleh FREDERICK RACHMAT selaku Direktur, sebagai Pembantah; melawan
- YULIA, selaku Terbantah.
Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Jakarta telah menerbitkan Penetapan Eksekusi No. 023/2012 Eks berdasarkan putusan Mahkamah Agung sengketa hubungan industrial yang telah berkekuatan hukum tetap.
Dasar diterbitkan Penetapan Eksekusi didasarkan adanya perkara gugatan pada PHI Jakarta yang diajukan oleh Terbantah (selaku Penggugat) dengan Perkara No. 338/PHI.G/2009/PN.Jkt.Pst jo. No. 862 K/PHI/2010.
Adapun Amar Putusan dari perkara No, 338/PH I. G/2009/PN Jkt.Pst jo. No. 862 K/PHI/2010:
- Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
- Menyatakan pemutusan hubungan kerja kepada Penggugat pada tanggai 30 Juni 2009 adalah batal demi hukum;
- Menyatakan Tergugat untuk membayar kepada Penggugat uang pesangon, uang penghargaan masa kerja, uang penggantian hak THR. tahun 2009 dan upah selama proses PHK dari bulan Juli 2009 sampai dengan Nopember 2009 yang seluruhnya sebesar Rp. 35.997.500,- (tiga puiuh lima juta Sembilan ratus Sembilan puiuh tujuh ribu lima ratus Rupiah).
Putusan tersebut kemudian ditindaklanjuti penetapan teguran (aamaning) dimana Pembantah telah dipanggil oleh Ketua Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat guna menghadap untuk ditegur agar memenuhi Putusan No. 338/PHI.G/2009/PN.Jkt.Pst jo. No. 862 K/PHI/2010 untuk membayar kepada Terbantah apa yang menjadi hak normatinya sebesar Rp. 35.997.500,-.
Dikarenakan Pembantah tidak juga mau menghormati hak pekerja, serta membangkang putusan pengadilan, Pembantah kemudian mendapatkan informasi dari pihak perbankan bahwa rekening pembantah telah di blokir akibat adanya penetapan sita tersebut diatas.
Jurusita Pengadilan Jakarta Pusat tanggai 14 Desember 2012 telah diperintahkan melaksanakan isi Penetapan Eksekusi untuk melakukan sita/pemblokiran terhadap rekenlng miiik Pembantah sebesar Rp. 35.997.500,-.
Terbantah dalam sanggahannya mengungkapkan, bahwa Pembantah hendak mengkriminalisasi Terbantah yang merupakan karyawannya, dengan mengajukan tuduhan tindak pidana penggelapan ke pihak berwajib, ketika Terbantah menggugat Pembantah ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI).
Terhadap dalil Pembantah maupun sanggahan Terbantah, Majelis Hakim membuat  pertimbangan hukum sebelum tiba pada amar putusannya. sebagai berikut:
“Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, ternyata bahwa perlawanan Pembantah adalah terhadap penetapan eksekusi atas putusan hubungan industrial antara Pembantah dengan Terbantah yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap;
“Menimbang bahwa ternyata Pembantah baru melakukan laporan kepada Kepolisian atas sangkaan tindak pidana yang dilakukan oleh Terbantah;
“Menimbang bahwa oleh karena penetapan eksekusi tersebut didasarkan atas putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, dan perlawanan terhadap penetapan eksekusi tersebut didasarkan pada laporan Kepolisian oleh Pembantah terhadap Terbantah yang belum ada putusan pidananya yang telah berkekuatan tetap, disamping itu juga laporan Kepolisian yang dilakukan oleh Pembantah dilakukan setelah perkara hubungan industrialnya diperiksa oleh Pengadilan Hubungan Industrial dan Pengadilan Hubungan Indutrial telah menghukum Pembantah untuk membayar uang pesangon, uang penghargaan masa kerja, uang penggantian hak, THR tahun 2009 dan upah selama proses PHK dari bulan Juli 2009 sampai dengan November 2009 yang seluruhnya sebesar Rp 35.997.500,- (tiga puiuh lima juta sembilan ratus sembilan puiuh tujuh ribu lima ratus rupiah) yang telah berkekuatan hukum tetap, oleh karenanya bantahan Pembantah tidak beralasan dan harus ditolak;
MENGADILI :
Menolak bantahan Pembantah seluruhnya.”
 Dalam tingkat banding, sebagaimana diajukan oleh Pembantah, Pengadilan Tinggi Jakarta dalam putusannya Nomor 551/PDT/2014/PT.DKI. tanggal 27 Oktober 2014, membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Bahwa pertimbangan hukum Majelis Hakim Tingkat Pertama telah memuat dan menguraikan secara tepat dan benar semua keadaan serta alasan-alasan yang menjadi dasar putusannya oleh karenanya pertimbangan tersebut diambil alih sebagai pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Banding sendiri dalam memutus perkara ini di tingkat banding;
M E N G A D I L I
- Menerima permohonan banding dari Pembanding semula Pembantah Tersebut;
- Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor : 582/PDT/BTH/2012/PN.Jkt.Pst., tanggal 6 Nopember 2013 yang dimohonkan banding tersebut.”
Dalam tingkat kasasi, sebagaimana dimohonkan oleh Pembantah, Mahkamah Agung RI telah memutuskan, menolak kasasi yang diajukan oleh Pembantah, sehingga putusan Pengadilan Tinggi serta Pengadilan Negeri telah dikuatkan serta berkekuatan hukum tetap.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan