Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Upaya Unifikasi Praktik / Pedoman Beracara di Pengadilan terkait Keberatan terhadap Besaran dan/atau Bentuk Ganti-Rugi akibat Proyek Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum

LEGAL OPINION
Question: Apakah benar, bila kami selaku pemilik tanah yang terkena gusur akibat proyek pembebasan lahan oleh pemerintah, lantas jika tidak mengajukan gugatan atas besaran nilai ganti rugi maka ganti rugi akan dititipkan tim pemerintah dan kami dianggap telah menerima ganti-rugi tersebut?
Brief Answer: Secara yuridis memang demikian adanya. Hanya saja hingga Legal Opinion ini dibentuk, belum terdapat unifikasi / kodifikasi hukum terkait praktik pedoman beracara di pengadilan bagi pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh besaran nilai ganti-rugi tim pembebasan lahan bagi kepentingan umum.
PEMBAHASAN :
Pada prinsipnya, penetapan bentuk dan/atau besarnya nilai ganti-kerugian pada proyek pengadaan tanah untuk kepentingan umum yang diadakan pemerintah, didasarkan pada musyawarah antara Lembaga Pertanahan dengan Pihak yang Berhak atas tanah tersebut.
Jika musyawarah penetapan besarnya nilai atau bentuk ganti-kerugian tidak mencapai kesepakatan, Pihak yang Berhak dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan negeri maupun pengadilan tata usaha negara setempat dalam bentuk gugatan ataupun verzet, untuk memutus bentuk dan/atau besarnya ganti-kerugian. Masih rancu pula yurisdiksi pengadilan yang berwenang memutus sengketa Surat Keputusan Penetapan Ganti Rugi, apakah menjadi kewenangan/kompetensi absolut Pengadilan Tata Usaha Negara ataukah Pengadilan Negeri, mengingat regulasi perihal pembebasan lahan saling tumpang tindih (overlaping)
Bila Pihak yang Berhak menolak bentuk dan/atau besarnya ganti-kerugian berdasarkan hasil musyawarah, tetapi tidak mengajukan keberatan ke pengadilan negeri setempat, ataupun bila pihak tersebut tetap menolak amar putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, ganti-kerugian dititipkan tim pembebasan lahan di pengadilan negeri setempat.
Untuk itu Mahkamah Agung merasa perlu untuk mengatur prosedur penitipan ganti-kerugian tersebut, lewat Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 07/KMA/SK/I/2016 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Pemberian Ganti Kerugian Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, meski SHIETRA & PARTNERS menilai sudah jauh terlambat sejak Undang-Undang tentang Pembebasan Lahan terbit tiga tahun lampau. Tampaknya legislatif yang gagal untuk mengantisipasi kekosongan hukum sehingga MA RI terdesak untuk membentuk hukum otonom melalui lembaganya yudikatif sendiri.
Tujuan dari pembentukan Kelompok Kerja binaan Mahkamah Agung tersebut, ialah guna menyusun pedoman beracara mengajukan keberatan atas musyawarah penetapan bentuk dan/atau besarnya ganti-kerugian dalam pengadaan tanah untuk kepentingan umum dan penitipan ganti-kerugian di pengadilan.
Dalam pengamatan penulis, masih terdapat kesimpang-siuran praktik pengadilan tentang yurisdiksi atau kompetensi absolut pengadilan yang berwenang memeriksa dan memutus sengketa nilai atau bentuk ganti-rugi atas pengadaan tanah bagi kepentingan umum. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum sendiri menyatakan pengadilan yang berwenang ialah PTUN, sementara dalam praktik kerap kali Pengadilan Negeri yang memutus sebagaimana disebutkan oleh Peraturan Pemerintah selaku peraturan pelaksana undang-undang pembebasan lahan.
Kerancuan ini tampaknya juga ditangkap oleh Mahkamah Agung, dengan membentuk Kelompok Kerja dengan susunan dari hakim Pengadilan Negeri serta hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) guna mempersiapkan kebijakan Ketua Mahkamah Agung dalam rangka pengkajian, penelitian, dan pengembangan pedoman beracara mengajukan keberatan atas penetapan bentuk dan/atau besarnya ganti-kerugian penetapan tim pengadaan tanah untuk kepentingan umum.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan