Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Kurator Tidak dapat Membebankan Fee Kepailitan kepada Kreditor Separatis

LEGAL OPINION
Question: Apakah kurator dapat memungut imbalan jasa kurator kepada kreditor separatis? Apakah betul, jika kurator berhak memungut fee sebesar 10 %? Apakah jika masa insolvensi lewat, maka otomatis kurator berhak atas agunan kami dan apakah juga otomatis berarti kurator berhak memungut fee dirinya dari agunan kami tersebut?
Answer: Tidak dapat dibenarkan tindakan kurator yang memugut fee kepada kreditor separatis, sebab agunan bukan merupakan bagian dari boedel pailit yang dibereskan oleh sang kurator. Fee kurator, paling besar adalah 8% (delapan persen), tidak boleh lebih besar dari itu. Selama kreditor pemegang Hak Tanggungan telah mulai melaksanakan haknya untuk mengajukan parate eksekusi pada masa insolvensi, maka lelang ulang dapat dilaksanakan meski telah melewati masa insolvensi dua bulan, dengan konsekuensi kurator tidak dapat memungut fee terhadap apa yang bukan menjadi boedel pailit. Hak kreditor separatis adalah terpisah (separated) dari boedel pailit—selama haknya digunakan.
EXPLANATION:
Penjelasan Resmi Pasal 59 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan telah menggariskan: “Yang dimaksud dengan "harus melaksanakan haknya" adalah bahwa Kreditor sudah mulai melaksanakan haknya.”—tidak terdapat klausul dalam UU Kepailitan yang menyatakan harus sudah “laku” terjual dalam masa insolvensi;
Kaidah tersebut dikukuhkan dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 576 K/Pdt.Sus/2011 tanggal 29 Nopember 2011, diputuskan: “Bahwa karena kreditur sudah melaksanakan haknya maka kurator (i.c. Penggugat) tidak dapat menuntut penyerahan agunan tersebut.” ;
Hakim Agung menyatakan bahwa kreditor separatis dapat tetap melelang ulang agunan meski telah melewati masa insolvensi, karena telah memulai melaksanakan haknya dalam masa insolvensi dimana dalam pelelangan sebelumnya dinyatakan tidak ada peminant. Kecuali bila kreditor separatis tidak menggunakan haknya untuk lelang ulang, maka dapat diartikan bahwa kreditor telah menelantarkan agunan.
Adapun bunyi pertimbangan Mahkamah Agung ialah sebagai berikut: “Bahwa Pasal 59 ayat (2) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dihubungkan dengan ayat (1) maka sesuai dengan penjelasan Pasal tersebut yang harus melaksanakan haknya adalah kreditur (i.c. Tegugat).”
Bahwa sesuai dengan sifat karakternya, kreditor separatis (separated creditor) adalah kreditor yang memiliki hak terpisah, dalam artian “jaminan kebendaan” bukanlah merupakan bagian dari boedel pailit (vide Putusan MK Nomor 18/PUU-VI/2008 juncto No. 2/PUU-VI/2008). Disamping itu, perlu kami informasikan, bahwa Kreditor separatis bisa jadi bukanlah pihak pemohon pailit sehingga secara yuridis fee dibebankan kepada para kreditor konkuren atau kepada pemohon pailit yang berkepentingan terhadap piutang mereka yang tidak terjamin oleh agunan.
Merujuk Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Nomor 01 Tahun 2013 Tentang Pedoman Imbalan Bagi Kurator Dan Pengurus (Permenkumham No.01 Tahun 2013) jo. Putusan Mahkamah Agung Nomor 54 P/HUM/2013 tanggal 19 Desember 2013, disebutkan:
Pasal 2 Ayat (1) butir (b): “Banyaknya imbalan bagi Kurator ditentukan sebagai berikut: dalam hal kepailitan berakhir dengan pemberesan, banyaknya imbalan adalah sebanyak persentase dari nilai hasil pemberesan harta pailit di luar utang dengan perhitungan sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini;”
Yang dimaksud dengan “di luar utang”, ialah semata pemberesan harta pailit/boedel pailit, dikarenakan jaminan kebendaan yang masih dilaksanakan haknya oleh kreditor separatis, tidak merupakan bagian dari boedel pailit
Mengingat parate eksekusi yang dikerjakan sendiri oleh kreditor separatis merupakan kewenangan dan pekerjaan yang sepenuhnya ia lakukan sendiri, maka tidak pada tempatnya untuk mewajibkan kreditor separatis untuk dibebani fee kurator. Kurator tidak memiliki kewenangan dan tidak melaksanakan tugas kreditor separatis selama jaminan kebendaan belum jatuh ke dalam boedel pailit.
Mengingat Anda selaku kreditor separatis tidak menelantarkan objek jaminan kebendaan, maka tidak sepatutnya kurator memungut fee atas pekerjaan yang tidak dikerjakannya terhadap pemberesen jaminan kebendaan yang tidak menjadi bagian dari boedel pailit. Kurator hanya berhak atas imbalan pemberesan boedel pailit yang menjadi kepentingan para kreditor konkuren, karena hanya kreditor konkuren yang berkepentingan mempailitkan debitor, bukan kreditor separatis yang pelunasannya telah dijamin dengan jaminan kebendaan.
Pasal (3) Permenkumham No.01 Tahun 2013: “Banyaknya imbalan bagi Kurator Sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf b, ditentukan sebagai berikut :
a. dalam hal permohonan pernyataan pailit dikabulkan, banyaknya imbalan ditetapkan dalam rapat kreditur yang pertama kali; atau
b. dalam hal permohonan pernyataan pailit ditolak, banyaknya imbalan ditetapkan oleh hakim dan dibebankan kepada pemohon pernyataan pailit.”
Pasal 3 Permenkumham No.01 Tahun 2013:
“(1) Selain imbalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Kurator dapat menerima imbalan lain yang berasal dari penjualan harta yang dikuasai kreditur lain atau pihak ketiga yang eksekusinya ditangguhkan.
(2) Imbalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah paling banyak 2½% (dua satu perdua persen) dihitung dari penjualan harta yang dikuasai kreditur lain atau pihak ketiga yang eksekusinya ditangguhkan.”
Pasal 6 Permenkumham No.01 Tahun 2013: “Selain imbalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 4, Kurator dapat melakukan rapat dengan kreditur mengenai imbalan tambahan, yang diperhitungkan dari harta Debitor Pailit.”
Hukum agraria membagi “penguasaan hak atas tanah” menjadi dua: penguasaan secara fisik dan penguasaan secara yuridis. Dikarenakan agunan debitor pailit telah diikat sempurna dengan hak tanggungan, maka penguasaan hak atas tanah secara yuridis telah beralih pada kreditor pemegang hak tanggungan, sehingga bukanlah lagi harta debitor pailit.
Lampiran II Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Nomor 01 Tahun 2013 Tentang Pedoman Imbalan Bagi Kurator Dan Pengurus: “Banyaknya Imbalan Bagi Kurator Dalam Hal Kepailitan Berakhir Dengan Pemberesan Senilai sampai dengan Rp50 miliar = 8 % (delapan persen).”
Pasal 18 Ayat (5) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang: “Biaya dan imbalan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus didahulukan atas semua utang yang tidak dijamin dengan agunan.”
Secara analogi, dapat dikatakan bahwa agunan memang tidak termasuk boedel pailit, sehingga berlaku ketentuan Penjelasan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996: “Ketentuan ini lebih memantapkan kedudukan diutamakan pemegang Hak Tanggungan dengan mengecualikan berlakunya akibat kepailitan pemberi Hak Tanggungan terhadap obyek Hak Tanggungan.”

KESIMPULAN DAN PENUTUP:  
Anda selaku Kreditor Separatis yang sedang atau masih menggunakan haknya untuk melakukan lelang ulang meski telah melewati masa insolvensi, maka penguasaan tetap menjadi hak kreditor separatis—yang artinya pula agunan/jaminan kebendaan tidak jatuh ke dalam penguasaan kurator.
Karena agunan tidak jatuh kedalam penguasaan kurator, maka status kreditor separatis tetap melekat pada sang penerima jaminan kebendaan. Karena itu jugalah, agunan bukan merupakan bagian dari boedel pailit, sementara kurator hanya berwenang mengurus dan memungut fee dari boedel pailit yang dilakukan pemberesan olehnya.
Dengan kata lain, kreditor separatis dapat menolak pungutan fee kurator atas pemberesan agunan yang dilakukan sendiri oleh kreditor separatis. Guna mengatasi efek dramatis oleh kurator yang mungkin berkeberatan dan melakukan segala perlawanan, dapatlah kreditor separatis memberi secara sukarela 0,1% atau kurang dari itu dari nilai agunan yang terjual (meski tidak wajib sama sekali). Namun tolaklah dengan tegas bila kurator tersebut tetap kukuh meminta 10% ataupun 8% dari hasil parate eksekusi Anda terhadap agunan yang memang merupakan hak anda selaku secured and separated creditor.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan