Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Kriteria Cakap Hukum Seseorang dalam Membuat Surat Wasiat

LEGAL OPINION
Question: Saat ini kakek saya dalam keadaan sakit-sakitan dan tampak lemah kesadarannya. Pernyataan saya, apakah beliau perlu ditempatkan dibawah keadaan terampu, mengingat para calon ahli waris Beliau saling tidak akur berhubung harta peninggalan Kakek saya memiliki jumlah yang sangat banyak. Guna menghindari suatu siasat buruk salah satu calon ahli waris, perlukah Beliau dinyatakan terampu?
Answer:  Hukum perdata di Indonesia telah memberi suatu rambu pengaman terhadap suatu subjek hukum (calon pewaris) untuk membentuk suatu surat wasiat—saya mengasumsikan kekhawatiran Saudara adalah terkait surat wasiat yang berpotensi menimbulkan konflik dikemudian hari. Jika memang terdapat kondisi lemah kesadaran, sakit-sakitan, adanya tekanan psikologis, maka itu menjadi bukti yang cukup untuk membatalkan surat wasiat yang melanggar hak mutlak ahli waris berdasarkan hukum.

EXPLANATION:
Kecakapan hukum seorang pemberi warisan, diatur dalam:
-       Pasal 897 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata):Anak-anak di bawah umur yang belum mencapai umur delapan belas tahun penuh, tidak diperkenankan membuat surat wasiat.”
-       Pasal 895 KUHPerdata: “Untuk dapat membuat atau menarik kembali suatu surat wasiat, orang harus mempunyai kemampuan bernalar.”
-       Pasal 898 KUHPerdata: “Kecakapan pewaris dinilai menurut keadaannya pada saat surat wasiat dibuat.”

Sementara mengenai pengampuan (curatele), diatur dalam:
-       Pasal 433 KUHPerdata: “Setiap orang dewasa, yang selalu berada dalam keadaan dungu, gila atau mata gelap, harus ditempatkan di bawah pengampuan, sekalipun ia kadang-kadang cakap menggunakan pikirannya. Seorang dewasa boleh juga ditempatkan di bawah pengampuan karena keborosan.”
-       Pasal 434 KUHPerdata: “Setiap keluarga sedarah berhak minta pengampuan keluarga sedarahnya berdasarkan keadaan dungu, gila atau mata gelap. Disebabkan karena pemborosan, pengampuan hanya dapat diminta oleh para keluarga sedarah dalam garis lurus, dan oleh mereka dalam garis samping sampai derajat keempat. Dalam satu dan lain hal, suami atau istri dapat minta pengampuan bagi istrinya atau suaminya. Barangsiapa, karena lemah akal pikirannya, merasa tidak cakap mengurus kepentingan diri sendiri dengan baik, dapat minta pengampuan bagi diri sendiri.”

Pengadilan Negeri Yogyakarta dalam putusannya No.58/Pdt.G/2011/PN.Yk tanggal 08 Desember 2011, membuat pertimbangan hukum sebagai berikut:
“Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 895 KUHPerdata, dilihat dari subjeknya untuk dapat membuat atau mencabut surat wasiat seseorang harus mempunyai budi-akalnya, yang maksudnya tidak dalam keadaan dungu, sakit otak, atau mata gelap yang menyebabkan seseorang ditaruh dibawah pengampuan, kecuali Pasal 446 ayat (3) KUHPerdata yang menyatakan bahwa seseorang yang ditaruh di bawah pengampuan karena keborosan tetap berhak membuat surat wasiat.”
“Menimbang, bahwa Hermanto pada tanggal 23 April 2010 di hadapan Tergugat II yang merupakan Notaris di Yogyakarta, telah membuat surat wasiat / testament yang isinya mehibah wasiatkan kepada Tergugat I atas dua bidang tanah yang berada di Suryatmajan Kecamatan Danurejan Kota Yogyakarta yaitu masing-masing seluas 52M² dan 109M² yang kesemuanya terletak di Jalan Mataram No. 76 Yogyakarta. Meskipun kondisi Hermanto dalam kesehariannya dari mulai sekitar tahun 2009 mengalami sakit sulit berjalan, yang mana jalannya pelan-pelan dengan langkah pendek karena kondisinya yang sudah tua namun berdasarkan dari keterangan saksi Poniman, saksi Kosasih Setiadi, dan saksi Yohanes Purnomo bahwa waktu itu Alm. Hermanto masih bisa berkomunikasi dengan suara jelas, ketika berbicara pun tetap menjawab dan nyambung.”
“Menimbang bahwa dari peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Alm. Hermanto termasuk cakap melakukan perbuatan hukum dimana akalnya masih sehat untuk dapat membuat surat wasiat;”
“Menimbang, bahwa Berdasarkan Pasal 1328 ayat (2) bahwa penipuan tidak dipersangkakan tetapi harus dibuktikan. Dalil Para Penggugat yang menyatakan surat wasiat No.02 Tanggal 23 April 2010 mengandung unsur penipuan atau akal licik, hanyalah persangkaan saja, tidak secara jelas fakta mana yang menunjukkan jika Hermanto terdorong membuat surat wasiat atas dasar tipu muslihat dan dari keterangan para saksi, tidak ada satu keadaan pun sebagai bukti bahwa adanya unsur penipuan dalam wasiat tersebut.”

REKOMENDASI:  
Meskipun seorang calon pewaris telah lemah dalam kesadarannya, adalah tidak sesuai dengan budaya masyarakat timur untuk menempatkan seorang calon pewaris dalam keadaan terampu. Pengampuan dapat diajukan ke pengadilan setempat berdasarkan permohonan keluarganya, namun tidaklah urgen untuk menempatkan calon pewaris dalam keadaan terampu.
Hal tersebut mengingat calon pewaris, meski kesadarannya telah lemah, tetap secara hukum dibatasi haknya dalam membuat akta hibat wasiat, dimana kewenangannya dibatasi oleh hak mutlak (legitime portie) para ahli warisnya.
Sementara itu yang dimaksud dengan legitime portie ialah sebagaimana diatur dalam Pasal 913 KUHPerdata:
“Legitime portie atau bagian warisan menurut undang-undang ialah suatu bagian dari harta-benda yang harus diberikan kepada para ahli waris dalam garis lurus menurut undang-undang, yang terhadapnya orang yang meninggal dunia tidak boleh menetapkan sesuatu, baik sebagai hibah antara orang-orang yang masih hidup, maupun sebagai wasiat.”
Sehingga, jika suatu ketika Pewaris membuat akta wasiat yang melanggar hak hukum ahli warisnya yang sah, maka dapat diberlakukan ketentuan Pasal 834 KUHPerdata:
“Ahli waris berhak mengajukan gugatan untuk memperoleh warisannya terhadap semua orang yang memegang besit atas seluruh atau sebagian warisan itu dengan alas hak ataupun tanpa alas hak, demikian pula terhadap mereka yang dengan licik telah menghentikan besitnya. Dia boleh mengajukan gugatan itu untuk seluruh warisan bila dia adalah satu-satunya ahli waris, atau hanya untuk sebagian bila ada ahli waris lain. Gugatan itu bertujuan untuk menuntut supaya diserahkan apa saja yang dengan alas hak apa pun ada dalam warisan itu, beserta segala penghasilan, pendapatan dan ganti rugi, menurut peraturanperaturan yang termaktub dalam Bab III buku ini mengenai penuntutan kembali hak milik.”
Pasal 834 KUHPerdata tersebut diataslah  yang perlu diketahui, dipahami, dan diingat oleh para ahli waris dari Pewaris, jika merasa bahwa akta wasiat almarhum tidak dibentuk berdasarkan akal sehat almarhum pewaris semasa hidup. Meskipun, beberapa putusan Mahkamah Agung RI memandang bahwa akta wasiat yang melanggar Legitime Portie ahli waris tetap dinyatakan sah, sepanjang tidak digugat oleh ahli warisnya yang sah, sehingga sifatnya ialah “dapat dibatalkan”.
Namun, bila tujuan utama untuk meletakkan “ampu” terhadap Kakek Saudara bertujuan untuk tidak boros, tidak diperdaya, dari segi hubungan hukum, maka pengampuan dapat ditempuh, sekaligus guna mengamankan calon pewaris tersebut dari potensi menerbitkan surat wasiat yang tidak objektif karena tekanan maupun pengaruh luar.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan