Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Perbedaan Kasasi yang Ditolak & Mengabulkan Permohonan Kasasi Namun Kemudian Hakim Agung Menolak Gugatan

LEGAL OPINION
Putusan Kasasi tidak Selalu Meringankan Hukuman Terpidana Meski Menerima Permohonan Kasasi Pihak Terpidana. Selalu Terkandung Resiko di Dalam Setiap Aksi Upaya Hukum.
Question: Apakah perbedaan antara putusan hakim agung dalam putusan kasasinya yang dalam amar putusan menyatakan: “MENGADILI: menolak permohonan kasasi” dengan “MENGADILI: Menerima permohonan kasasi. Mengadili sendiri: menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya.” Keduanya sama-sama menolak, lantas apakah beda konsekuensi hukum atas putusan kasasi semacam itu?
Answer: Model putusan semacam itu bukan hanya dapat ditemukan dalam putusan kasasi, namun juga dalam putusan tingkat banding oleh Pengadilan Tinggi. Singkatnya, kedua putusan tersebut berbeda arti dan maknanya secara bertolak-belakang. Bila upaya hukum berupa banding ataupun kasasi dilancarkan guna strategi "mengulur waktu", maka perlu dipahami bahwa modus demikian dapat menjadi kontraproduktif manakala permohonan kasasi Anda diterima, dengan "hadiah" berupa pemberatan hukuman pidana dari yang sebelumnya diputuskan judex factie.
EXPLANATION:
M E N G A D I L I : Menolak permohonan kasasi dari para Pemohon Kasasi.ß Bunyi amar putusan hakim agung dalam putusan Kasasi memiliki arti bahwa putusan Hakim Pengadilan Tinggi dibenarkan hakim agung, sehingga yang ditolak ialah permohonan kasasi, namun putusan Pengadilan Tinggi itu sendiri tetap sah dan berlaku. Dalam putusan model ini, hakim agung dalam pertimbangan hukumnya pastilah akan menyatakan bahwa pertimbangan hukum pengadilan tinggi telah benar, hakim pengadilan tinggi tidak keliru menerapkan hukum, bahwa majelis tingkat kasasi hanya berwenang memeriksa penerapan hukum yang tidak berwenang memeriksa alat bukti, dsb. Sehingga hakim agung tidak melakukan ambil alih putusan dalam putusan jenis ini.
Bila dalam putusan model ini hakim pengadilan tinggi dalam tingkat banding memutuskan bahwa “gugatan dinyatakan tidak dapat diterima”, maka konsekuensi hukumnya, penggugat dapat kembali mengajukan gugatan baru dengan mengulang dari tingkat pengadilan negeri, meski objek sengketa, subjek, serta pokok perkara sama persis, tanpa resiko dinyatakan nebis in idem.
Sementara bila dalam putusan banding oleh hakim pengadilan tinggi dinyatakan bahwa “gugatan ditolak” atau “gugatan diterima seluruhnya/sebagian”, penggugat tidak dapat kembali menggugat ke hadapan pengadilan negeri, karena akan dinyatakan nebis in idem, oleh sebab putusan tersebut jika tidak diajukan kasasi maka akan memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht).

Sangat bertolak belakang bila amar putusan dalam putusan kasasi berbunyi sebagai berikut: “MENGADILI: Menerima permohonan kasasi para pemohon kasasi. Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi, dan mengambil alih putusan dengan amar sebagai berikut: Menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya.” ß Dalam putusan model ini, permohonan kasasi diterima, sehingga keberatan pemohon kasasi akan dikabulkan oleh hakim agung dengan cara membatalkan putusan pengadilan tinggi dan mengambil alih atau mengoreksi putusan sebelumnya dan membuat amar putusan baru yang menyatakan bahwa gugatan ditolak.
Dalam putusan model kedua ini, putusan akan langsung dinyatakan berkekuatan hukum tetap (inkracht), apapun putusan pengadilan tinggi yang diajukan kasasi.

Terdapat model lain dari putusan kasasi Mahkamah Agung, yakni atas permohonan kasasi yang baik diajukan oleh Terpidana maupun oleh Jaksa Penuntut Umum, Majelis Hakim Agung akan menyatakan menerima permohonan kasasi. Namun, kemudian Majelis akan membuat pernyataan lanjutan, bahwa Mahkamah akan memperbaiki amar putusan judex factie dengan membuat amar putusan sendiri, yang baik dapat berupa mengurangi hukuman ataupun bahkan mungkin akan menambah hukuman, sekalipun permohonan kasasi itu diajukan oleh terpidana.
Hakim Agung yang benar-benar agung ialah Hakim Agung yang disegani para koruptor. Sehingga koruptor yang diputus pidana penjara oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi karena terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana korupsi (tipikor) akan berpikir seribu kali sebelum memutuskan untuk mengajukan upaya hukum. Hakim Agung demikian dikenal tidak toleran terhadap koruptor, dan akan dengan "murah hati" menambah beban hukuman penjara bagi sang terpidana tipikor demi efek jera agar tiada lagi anggota masyarakat yang berani untuk coba-coba menjadi korup. Berani mencoba kasasi guna "menghamburkan" waktu sang Majelis, maka siap-siaplah menghadapi sang Hakim Agung yang disegani tersebut.
Mendengar nama besar sang Hakim Agung tersebut saja sudah membuat para terpidana koruptor berkeringat dingin. Namun terdapat sebuah kejanggalan sebagai fenomena sosial yang unik: calon koruptor tidak segan atas nama besar tersebut, dan baru akan mulai merasa segan dan takut ketika akan berhadapan dengan sang Hakim Agung.
 
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan