Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Sewa-Menyewa Tanpa Batas Waktu, Ilegal dan Berkonsekuensi Gugatan Hukum Perdata

LEGAL OPINION
Question: Suatu pihak menyewa rumah kami untuk batas waktu yang belum kami tentukan pada saat penandatanganan perjanjian, apakah kami selaku pemilik rumah berhak memutuskan perjanjian sewa tersebut sewaktu-waktu? Untuk kasus lainnya, apakah dapat dibenarkan bila penyewa memperpanjang sewa secara sepihak dengan cara menyetorkan atau mentransfer sejumlah dana yang diklaimnya sebagai uang sewa ke rekening pemilik rumah sebagai dalil perpanjangan sewa secara sepihak?
Answer: Sewa tanpa batasan jangka waktu sewa yang tegas, hanya berlaku hingga tahun 1995. Artinya, lewat tahun 1995, maka perjanjian sewa tanpa batas waktu dinyatakan telah berakhir, dan kepada penghuni ilegal tersebut dapat digugat untuk membayar sejumlah ganti rugi karena telah menempati rumah Anda hingga saat ini. Untuk kasus kedua, sekalipun penyewa yang memaksakan perjanjangan masa sewa dengan cara menitipkan uang sewa ke pengadilan sekalipun, karena pada dasarnya tiada perjanjian yang menyepakati perpanjangan masa sewa dengan pemilik rumah, ataupun besaran harga sewa periode sewa berikutnya, maka penitipan uang sewa ke pengadilan atau ke nomor rekening pihak pemilik rumah tersebut tidaklah sah.
EXPLANATION:
Yurisprudensi putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 3280 K/PDT/1995, kaidah hukumnya sebagai berikut: “Sewa-menyewa rumah baik dengan perjanjian tertulis maupun dengan perjanjian tidak tertulis yang tidak menetapkan batas waktu dan telah berlangsung sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992, dinyatakan berakhir dalam jangka waktu 3 tahun sejak berlakunya Undang-Undang tersebut.”
Pasal 4 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1994 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1994 (PP No.44/1994)
(1) Penghunian rumah dengan cara sewa menyewa didasarkan kepada suatu perjanjian tertulis antara pemilik dan penyewa.
(2) Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya mencantumkan ketentuan mengenai hak dan kewajiban, jangka waktu sewa, dan besarnya harga sewa.
Karena salah satu syarat sah perjanjian ialah “causa yang sahih”, maka tidak terpenuhinya “causa yang sahih” tentang pencantuman jangka waktu sewa maupun tiadanya “objek yang spesifik” sebagai unsur objektif syarat sah perjanjian Pasal 1320 KUHPerdata, konsekuensi hukumnya perjanjian demikian menjadi batal demi hukum (null and void).
Putusan kasasi Mahkamah Agung No 3667 K/Pdt/2001 tanggal 23 Desember 2004 menegaskan, sekalipun terjadi perjanjian sewa tanpa batas waktu, dan penyewa menitipkan uang sewa kepada pengadilan karena pemilik rumah tidak bersedia memperpanjang masa sewa sejak tahun 1995 yang telah berakhir secara hukum, maka konsekuensinya penyewa (lebih tepatnya disebut penghuni tidak sah) akan digugat oleh pemilik rumah, dan terbitlah putusan Mahkamah Agung sebagai berikut:
1.   Mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian;
2.   Menyatakan Penggugat adalah pemilik bangunan rumah sengketa yang terletak di Jalan Mojopahit No.14 Sidoarjo ;
3.   Menyatakan Tergugat telah menghuni rumah sengketa tanpa hak dan Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum ;
4.   Menghukum Tergugat untuk membayar ganti rugi pengganti uang sewa kepada Penggugat sebesar Rp.1.000.000 (satu juta rupiah) setiap tahun sejak Maret 1995 hingga putusan ini dapat dilaksanakan dan memperoleh kekuatan hukum yang tetap;
5.   Menghukum Tergugat atau siapa saja yang memperoleh hak dari padanya untuk menyerahkan kembali bagunan rumah sengketa kepada Penggugat dalam keadaan kosong, tanpa beban dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sejak putusan diucapkan;
6.   Menyatakan sah dan berharga sita jaminan yang diletakkan atas tanah sengketa;”
Pasal 21 PP No.44/1994
(1)  Sewa menyewa rumah baik dengan perjanjian tertulis maupun dengan perjanjian tidak tertulis yang tidak menetapkan batas waktu dan telah berlangsung sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992, dinyatakan berakhir dalam jangka waktu 3 tahun sejak berlakunya undang-undang tersebut.

(2)  Dengan berakhirnya sewa menyewa rumah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), penghuni rumah atau penyewa dapat memperbaharui sewa menyewa berdasarkan perjanjian sewa menyewa yang baru dengan pemilik
Maka dapat disimpulkan, tindakan penyewa atas kedua kasus tersebut, termasuk dalam kategori Perbuatan Melawan Hukum.
Bila sekalipun harus melalui tahap gugatan perdata, maka dalil paling kuat ialah tidak disepakatinya harga sewa untuk periode berikutnya, karena memang belum pernah ada perbincangan ataupun kesepakatan besaran nilai sewa untuk periode sewa berikutnya.
Bila Nilai Jual Objek Pajak maupun Pajak Bumi dan Bangunan setiap tahun diadakan penyesuaian dan kenaikan, adalah tidak dibenarkan penyewa seumur hidup memperpanjang sewa dengan besaran harga sewa puluhan tahun lampau.
Konstrak sewa tanpa batas waktu dan tanpa nilai harga sewa spesifik, merupakan bentuk "cacat kehendak" sekaligus tiadanya "objek yang spesifik, sehingga kontrak demikian dapat dibatalkan juga batal demi hukum bila hendak dikatakan demikian.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan