Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Pencabutan Surat Kuasa, Hak Prerogatif Pemberi Kuasa

LEGAL OPINION
Question: Apa sajakah hal-hal penting yang harus dicantumkan pada suatu pencabutan surat kuasa? Apakah didalamnya harus disebutkan alasan pencabutan? Apa saja tips dan kiat yang dapat dilakukan untuk mencabut surat kuasa? Apakah surat kuasa dapat dicabut tanpa syarat dan kapan saja?
Answer: Surat kuasa dapat dicabut kapan saja, selama surat kuasa tersebut tidak bersifat dan berisi klausul bahwa surat kuasa tersebut tidak dapat dicabut kembali, semisal SKMHT yang bersifat kuasa mutlak (tidak dapat dicabut kembali). Namun, surat kuasa yang bukan berupa kuasa mutlak, dapat dicabut sewaktu-waktu dan tanpa alasan apapun. Hal yang paling penting, ialah agar penerima kuasa seketika menyerahkan kembali berkas atau dokumen atau hal lain yang sebelumnya dipercayakan kepada penerima kuasa, agar dikembalikan.
EXPLANATION:
Perlu juga diingat, bahwa seorang pemberi kuasa, semisal pemberian kuasa kepada pengacara/lawyer untuk mewakilinya beracara di pengadilan, dapat mencabut surat kuasanya pada tingkat proses apapun dalam jalannya persidangan. Sehingga dapat terjadi Anda menarik kuasa Anda saat sidang pembacaan putusan atau bahkan sejak saat terjadi mediasi.
Anda dapat mencabut surat kuasa dengan cara mengirim tembusan surat kuasa baru yang Anda berikan kepada pihak ketiga, dimana menurut hukum perdata, otomatis surat kuasa lama menjadi gugur. Namun tentunya hal demikian akan menimbulkan sinisme tersendiri secara moral.
Yang ideal, adalah membuat surat pencabutan kuasa. Bentuk surat adalah surat pada umumnya, hanya saja perlu dibubuhi beberapa kalimat penting. Contoh:
“Bahwa, sejak surat pencabutan kuasa ini Anda terima, maka kuasa yang kami berikan berakhir dengan sendirinya, dan segala tindakan yang Anda lakukan untuk selanjutnya menjadi tanggung jawab pribadi Anda, dan dengan ini kami perintahkan Anda sesuai hak perdata kami untuk mengembalikan asli maupun fotokopi berlegalisir surat kuasa yang sebelumnya kami berikan. Kami pun memerintahkan agar segala dokumen atau berkas atau benda lain yang terkait dengan hak dan merupakan kepemilikan kami agar diserahkan kembali kepada pihak kami, dengan segala rahasia pribadi kami untuk tetap melekat pada pihak Anda sekalipun dengan pencabutan kuasa ini.” Terdengar keras dan frontal, namun dapat diperhalus sesuai kebutuhan, kecuali tingkat keparahan/kerusakan yang ditimbulkan penerima kuasa tidak lagi dapat ditolerir.
Mengenai cara mencabut surat kuasa, dapat ditujukan langsung pada penerima kuasa, disertai dengan fotokopinya, dimana fotokopi itu dapat menjadi bukti otentik pencabutan, dengan cara meminta agar penerima kuasa yang dicabut kuasanya mencatumkan cap logo mereka, tanda tangan, nama penerima serta tanggal penerimaan surat pencabutan.
Dari fotokopi surat pencabutan tersebut, barulah kita serahkan pada panitera pengganti pengadilan maupun pada bagian hukum umum, sebagai pemberitahuan bahwa kuasa tersebut telah dicabut dan oleh karenanya tidak lagi berwenang mewakili principilnya untuk urusan apapun baik di dalam maupun di luar pengadilan.

Dalam praktik, timbul pula pertanyaan berikut: Bagaimana jika dalam surat kuasa tercantum kuasa "mutlak" yang artinya "tidak dapat dicabut kembali"?
Terhadap hal tersebut, jawabannya mungkin terdengar filosofis. John Stuart Mill dalam bukunya berjudul On Liberty memberikan sebuah analogi yang tepat: jika seorang budak menjual kebebasannya, apakah benar disebut adanya kebebasan untuk menjadi tidak bebas? Bukan ini justru bertentangan dengan hakiki tujuan kebebasan itu sendiri. 
Sehingga, benarkah adanya kebebasan bersepakat untuk tunduk pada klausul "mutlak" demikian, ataukah mengandung adanya "cacat kehendak" diatasnya?
Bila para pembaca mencoba mencermati kaidah dalam Pasal 1813 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, akan dijumpai klausul hukum negara yang mengatur bahwa bila pemberi kuasa meninggal, mencabutnya dengan pemberitahuan, pailit, atau di-ampu, maka pemberian kuasa berakhir.
Pertanyaannya, terdapat seorang penerima kuasa dengan klausa "mutlak", ketika kemudian pemberi kuasa di-ampu, atau jatuh pailit, siapakah yang kemudian berwenang bertindak untuk dan atas nama si ter-ampu/pailit, sang penerima kuasa ataukah kurator/pengampu?
Sama halnya dengan peristiwa meninggalnya pemberi kuasa, atau dicabutnya kuasa oleh pemberi kuasa, sama-sama tunduk pada satu Pasal KUHPerdata yang sama dengan ketentuan pailit atau di-ampu-nya pemberi kuasa.
Dengan sudut pandang ini, surat kuasa menjadi tidak diperkenankan bersifat "mutlak", dalam artian bila sekalipun tetap dicantumkan maka hal tersebut tidak berlaku adanya.
Berbeda dengan kuasa mutlak yang diamanatkan Undang-Undang, semisal Undang-Undang tentang Hak Tanggungan (UU HT) memberikan amanat bahwa Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) bersifat mutlak, maka barulah dapat dibenarkan.
Logikanya, jika ketentuan dalam KUHPerdata membolehkan kuasa mutlak, untuk apa kemudian UU HT kemudian mengatur bahwa SKMHT bersifat mutlak? Jika KUHPerdata membenarkan kuasa mutlak, dimana letak urgensi pengaturan khusus dalam UU HT terhadap SKMHT tersebut?
Jikalau pun kemudian pemberi kuasa beritikad buruk mencabut kuasa sehingga merugikan penerima kuasa karena berbagai pengeluaran telah diderita penerima kuasa, KUHPerdata telah meng-cover kejadian tersebut dengan memberi hak ganti-rugi bagi penerima kuasa selama menjalankan kuasa yang diberikan. Terkecuali potensi keuntungan yang hilang tentunya, masih perlu diperjuangkan lewat mekanisme jalur gugatan dengan proses pembuktian ke hadapan hakim.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan