Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Ada Hak, Maka Ada Kewajiban, ASAS RESIPROSITAS

PRESS RELEASE
Berani Bermain Api, Berani Terbakar
Question: Mengapa SHIETRA & PARTNERS tidak lagi menyediakan jasa konsultasi hukum tanpa dibebani tarif?
Answer: Hal tersebut telah menjadi kebijakan kami, dimana setiap permasalahan hukum yang disampaikan pada kami, baik via telepon, email, SMS, YM, maupun pertemuan langsung tatap muka, akan dikenakan charge maupun fee dan success fee. Mayoritas klien berasal dari kalangan mampu, namun selalu mengaku "tidak punya uang" namun mengharap dilayani secara profesional. Masyarakat (klien) perlu dididik, bahwa waktu serta talenta adalah hal yang sangat bernilai, oleh sebab itu memiliki harga tersendiri untuk itu.
EXPLANATION:
Banyak pertanyaan masuk pada kami, seputar mengapa kami tidak lagi menyediakan konsultasi hukum gratis. Banyak diantara mereka yang dengan mudahnya melontarkan pertanyaan terkait permasalahan hukum, namun sangat kikir dengan menyatakan bahwa diri mereka tidak mampu.
Mereka tidak mencoba menghargai kami, dengan menyadari bahwa konsultasi hukum merupakan profesi yang juga menjadi mata pencaharian kami. Kami harus menempuh pendidikan tinggi hukum dan mendalami ilmu dan berbagai regulasi hukum yang demikian banyak dan kompleks untuk memberikan solusi serta mitigasi. Persiapan selalu lebih panjang prosesnya ketimbang "aksi saat naik panggung". Kami pun berhak untuk bertanya, mengapa kami perlu merasa berkewajiban untuk berkerja sukarela bagi mereka? Bukanlah tanggung jawab kami atas permasalahan hukum mereka yang hanya tahu "take" sementara prinsip hidup ialah "take and give".
Dari segi psikologis, saya pribadi bosan menghadapi masyarakat Indonesia yang tampaknya penuh sopan-santun, bahu-membahu, ramah, tapi dibalik itu terdapat tabiat buruk yang sangat mengerikan. Lihatlah bagaimana aparatur pengadilan yang tampaknya ramah, namun berujung pada pemerasan berupa pungli yang luar biasa dibalik senyum ramah mereka.
Saya pribadi bosan menghadapi pengendara yang serampangan, mau menang sendiri, dan egois. Saya bosan menghadapi pedagang yang gemar menipu dan culas. Saya bosan menghadapi sikap masyarakat yang kikir dan hanya memikirkan diri mereka sendiri.
Sampai akhirnya saya pun berkata pada diri saya sendiri, “APAKAH ORANG-ORANG SEMACAM ITU LAYAK UNTUK MENDAPAT BANTUAN HUKUM CUMA-CUMA? JANGAN-JANGAN YANG SAYA TOLONG DAN BANTU SECARA GRATIS ADALAH ORANG-ORANG YANG PERNAH MENYAKITI SAYA BAIK DI JALAN MAUPUN DI TENGAH MASYARAKAT. APAKAH MEREKA BENAR-BENAR LAYAK DI TOLONG DAN DIBANTU SECARA SUKARELA?”
Mengapa juga penulis bersikap "kepo" dengan menolong seorang maling yang berteriak maling? Kerap penulis jumpai, seorang penipu yang mengaku tertipu. Jadi, ketika Anda yang demikian kikirnya mencoba meminta konsultasi hukum gratis dari kami, cobalah Anda untuk bercermin terlebih dahulu, apakah Anda layak mendapat bantuan, terlebih secara cuma-cuma dari kami?
Terlebih bila masalah hukum yang menjerat Anda berasal dari perbuatan buruk Anda sendiri, tentunyalah wajar bila kami memasang tarif tinggi. Semakin kronis penyakit hukum Anda, maka tentunya semakin berat masalah yang yang harus diatasi.
Kami pun tidak habis pikir ketika calon klien mencoba negosiasi fee sebagai jasa kami, mereka menganggap fee yang kami ajukan terlampau tinggi. Padahal, dibanding fee yang dibebankan oleh konsultan hukum lain, fee yang kami tawarkan kadang kala tidak sampai 1/10 dari standart tarif yang berlaku di kalangan konsultan hukum profesional lainnya. Adalah wajar penulis menarik tarif yang disesuaikan dengan standar para konsultan hukum profesional demi memberikan layanan secara optimal dan juga profesional.
Bila Anda mencari pelayanan konsultasi hukum yang murah meriah, tentunya Anda tak dapat berharap banyak dari kualitas yang mereka tawarkan. Sekali lagi, kami adalah konsultan hukum profesional yang berangkat dari itu sangatlah wajar bila kita memasang tarif konsultasi maupun layanan jasa hukum yang juga profesional.
Demikian kami sampaikan untuk menjadi bahan pertimbangan Anda dan atas pengertian dan perhatiannya, harap maklum. Sekian dan terimakasih.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan