Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Mendebet Rekening Debitor Kredit Macet oleh Kredtor

LEGAL OPINION
Question: Dapatkan kreditor (bank) berhak untuk seketika mendebet deposito debitor bila dikemudian hari terjadi wanprestasi?
Answer: Dalam Akta Kredit, dapat dibuat klausul khusus mengenai hal itu, biasanya dengan judul “Pemberian Kuasa dan Kewenangan”.
EXPLANATION:
Biasanya dalam Akta Kredit akan tercantum klausul berbunyi sebagai berikut: “Kuasa dan wewenang mendebet rekening Debitor:
-        Debitor dengan ini memberi kuasa dan wewenang penuh dengan hak substitusi kepada Bank untuk dari waktu ke waktu, mendebet/memotong rekening Debitor dan menggunakan/memakai jumlah-jumlah uang tersebut untuk membayar dan membayar kembali semua semua dan setiap jumlah yang telah jatuh tempo dan wajib dibayar oleh Debitor berdasarkan perjanjian ini, maupun instrumen dan lain-lain dokumen yang diharuskan, akta-akta atau perjanjian-perjanjian lainnya berupa apapun juga baik terhadap hutang pokok, bunga, denda bunga, biaya-biaya dalam lain-lain yang terhutang oleh Debitor.
-        Debitor dengan ini pula (sekarang dan untuk dikemudian hari) melepaskan semua dan setiap haknya untuk mengajukan keberatan atau perlawanan berupa dan dengan alasan apapun juga terhadap pemotongan/pendebetan atas rekening Debitor yang dilakukan oleh Bank sebagaimana diuraikan di atas, kecuali dapat dibuktikan oleh Debitor bahwa terjadi kesalahan pada bank dalam melakukan pemotongan/pendebetan rekening Debitor dengan menyertakan dokumentasi hukum.
-        Seluruh kuasa dan kewenangan yang diberikan Debitor kepada Bank dalam perjanjian ini merupakan kegiatan-kegiatan yang terpenting dan tidak dapat dipisahkan dari perjanjian ini, yang tidak akan ditarik atau dicabut kembali serta tidak akan berakhir bilamana Debitor dibubarkan/dilikuidasi atau karena sebab atau peristiwa apapun juga dan para pihak dengan ini melepaskan ketentuan yang termaktub dalam pasal 1813, 1814, dan Pasal 1816 KUHPerdata.
-        Debitor dengan ini memberikan kuasa dan wewenang kepada Bank untuk nanti pada waktunya melakukan pendebetan/pemotongan terhadap rekening Debitor baik berupa rekening giro, rekening tabungan, rekening deposito atau rekening-rekening lainnya yang ada pada bank, baik dalam mata uang Rupiah maupun mata uang lainnya yang ada di kantor pusat maupun kantor cabang bank dimanapun juga, sejumlah uang yang besarnya akan ditetapkan oleh Bank dan selanjutnya menggunakan sejumlah uang tersebut untuk membayar dan/atau membayar kembali semua dan setiap jumlah uang yang sekarang telah dan/atau dikemudian hari akan terhutang dan wajib dibayar oLeh Debitor berdasarkan perjanjian ini, Perjanjian jaminan, dan dokumen-dokumen lainnya yang berkaitan dengan perjanjian ini maupun berkaitan dengan Perjanjian Jaminan.
-        Debitor dengan ini untuk nanti pada waktunya melepaskan hak-haknya untuk mengajukan keberatan atau perlawanan kepada Bank dalam bentuk apapun juga serta berdasarkan alasan apapun juga berkaitan dengan pendebetan/pemotongan atas rekening Debitor yang dilakukan oleh Bank sebagaimana dimaksud pada ayat-ayat tersebut diatas.
Apapun dapat terjadi bila disepakati dalam perjanjaian, karena perjanjian berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang menandatanganinya (vide Pasal 1338 KUHPerdata). Namun, itu berlaku selama tidak bertentangan dengan undang-undang maupun kepatutan yang tidak dapat disimpangi oleh perjanjian sekalipun.
Hal ketiga yang menjadi elemen krusial, ialah pemahaman akan konsep perjanjian "bersyarat tangguh/tunda", dalam arti untuk mendebet rekening deditor bila terjadi kredit macet atau wanprestasinya pihak debitor. Sebenarnya hal ini bukanlah surat kuasa mutlak, namun perjanjian "bersyarat tangguh/tunda".
Bersyarat "tangguh/tunda", memiliki makna bahwa perikatan tersebut baru menjadi aktif dan efektif saat debitor wanprestasi. Debitor pada prinsipnya dapat sewaktu-waktu mencabut kuasa tersebut dengan cara membayar hutangnya alias melunasi fasilitas kredit yang telah diberikan.
Untuk itu perlu kita pahami bersama, bahwa antara surat kuasa "mutlak" dengan perjanjian bersyarat "tangguh/tunda" adalah dua konsepsi hukum yang saling berbeda satu sama lainnya.
Dengan demikian, pihak kreditor tidak berwenang mendebet rekening lain milik debitor bila debitor sejauh ini patuh terhadap kewajibannya atas cicilan dan pelunasan fasilitas kredit.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan