Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

CV maupun Firma Bukanlah Badan Hukum, namun Badan Usaha

LEGAL OPINION
Question: Bila kami selaku pengurus ataupun pendiri CV atau firma, dapatkah CV atau firma kami sebagai pemilik SHM ataupun SHGB?
Answer: CV maupun firma bukanlah badan hukum, melainkan badan usaha semata, yang mana tidak memiliki status sebagai rechtspersoon atau “fiksi personifikasi manusia” layaknya badan hukum seperti Koperasi, Yayasan,  maupun Perseroan Terbatas, sehingga sekalipun inbreng kedalam CV ataupun firma dapat berupa tanah dan bangunan maupun mesin pabrik disamping modal dana tunai, kesemua inbreng tersebut tetap saja tercatat dengan nama perorangan sebagai pemilik yuridis dalam sertifikat kepemilikannya.
EXPLANATION:
Ciri-ciri dari badan hukum, ialah memiliki suatu legal entity atau entitas hukum yang berdiri sendiri, tunggal, yang terpisah dari para pendiri maupun pengurusnya. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh suatu badan usaha seperti CV maupun firma.
Ciri-ciri badan hukum lainnya, karena ia adalah fiksi dari manusia khayali, maka ia dapat memiliki kekayaan sendiri yang terpisah dari para pendiri maupun pengurusnya (kekayaan mana tercatat atas nama badan hukum itu sendiri), dapat melakukan perbuatan hukum atas nama badan hukum, serta dapat menggugat dan digugat di muka pengadilan atas nama badan hukum.
Namun perlu diketahui pula, sekalipun itu badan hukum seperti PT, yang dapat memiliki SHM atas nama PT, pada saat legal opini ini disusun, hanyalah PT berupa bank persero ataupun yayasan keagamaan dan/atau sosial. Sehingga tidak akan dimungkinkan badan usaha yang bukan badan hukum seperti CV ataupun firma untuk memiliki SHM ataupun SHGB. Namun untuk badan hukum, SHGB, HGU, maupun hak pakai atas nama badan hukum tersebut dimungkinkan oleh hukum agraria.
Untuk melakukan upaya perbankan, seperti fasilitas kredit dengan agunan berupa tanah atau mesin yang kemudian diikat dengan jaminan fiducia maupun hak tanggungan, pastilah CV ataupun firma tersebut akan menampilkan sosok penjamin dengan aset tanah atau mesin miliknya yang dijaminkan, jadi bukan aset CV tersebut yang ditampilkan dalam akta kredit dan APHT. Anggaran Dasar CV maupun firma hanya berlaku internal antar pengurus/persero, karena CV dan firma bukan legal entity.
Kesimpulannya, inbreng tetap dapat memasukkan mesin maupun hak atas tanah sebagai modal, guna mekanisme pembagian keuntungan dan beban kewajiban tanggung jawab antar persero, namun tidak berlaku ataupun mengikat pihak ketiga. ketika badan usaha akan melangsungkan perikatan dengan pihak ketiga, maupun digugat dan menggugat ke hadapan pengadilan, maka yang akan tampil adalah orang pribadi persero yang bersangkutan, bukan CV ataupun firma tersebut, sehingga tanggung jawab persero demikian menjadi renteng, kecuali sekutu pasif dalam CV  yang hanya menyetor inbreng tanpa terlibat dalam kepengurusan.
Inilah mengapa, jika Anda menggugat suatu badan usaha, yang Anda gugat adalah persero aktif (CV) dan seluruh persero (firma) atas nama pribadi mereka secara renteng. Berbeda halnya bila Anda menggugat suatu PT selaku badan hukum, ataupun koperasi dan yayasan, yang Anda gugat bukanlah direksi atau komisaris ataupun pemegang saham, namun yang Anda gugat HARUSLAH nama badan hukum tersebut.

Berangkat dari konsepsi pembeda antara badan usaha dengan badan hukum, suatu mekanisme Sistem Informasi Debitor (SID) alias Daftar Hitam Nasional (DHN) debitor dengan status kredit macet perlu dibedakan pula secara tegas. Ketika badan hukum berupa PT atau Koperasi dinyatakan kredit macet ataupun wanprestasi kepada kreditornya, maka tidak dapat dibenarkan bila para pengurusnya dimasukkan pula dalam SID / DHN, karena sesuai namanya "Perseroan Terbatas", maka kekayaan PT maupun Koperasi dan Yayasan terpisah dari kekayaan para pengurusnya.

Bila badan usaha seperti firma atau CV mengalami kredit macet, maka baik nama badan usaha maupun para sekutu aktifnya masuk dalam SID/ DHN.
SHIETRA & PARTNERS sempat memperdebatkan hal ini dengan otoritas Bank Indonesia, namun tampaknya BI sendiri rancu dengan sistem yang dibuatnya.
Bila Anda adalah direksi sebuah Perseroan Terbatas yang nama pribadi Anda dimasukkan dalam "blacklist BI Cheking" alias SID/DHN, hanya karena nama Anda tercatat sebagai salah satu anggota Direksi suatu PT yang kredit macet, maka Anda dapat menggugat otoritas (dalam hal ini BI atau OJK) ke PTUN dengan alasan telah mem-blacklist nama Anda secara melawan hukum.
Perbankan pun hanya berhak mem-blacklist / memasukkan nama pengurus badan usaha yang kredit macet, sementara bila kalangan perbankan tetap memasukkan nama pengurus PT atau Koperaasi dan Yayasan pada SID/DHN, maka pribadi orang tersebut dapat menggugat bank tersebut secara perdata sekaligus tuntutan pidana "pencemaran nama baik".
 
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan