Cek Kosong, Tindak Pidana Penipuan

Question: Bila kami selaku kreditor mendapati dua buah cek yang diberikan debitor atau rekan bisnis kami ternyata adalah cek kosong, apakah perbuatan rekanan demikian termasuk dalam kategori tindak pidana?
Brief Answer: Perbuatan lahiriah (actus reus) yang disengaja, dengan niat batin (mens rea) memang untuk menipu, bila si pemberi cek sejak semula memang mengetahui cek tersebut kosong atau tidak dapat dicairkan pada waktunya, sehingga membuat penerima cek seolah berasumsi cek tersebut dapat dicairkan, maka terhadap pemberi cek kosong dijerat atas dasar Tindak Pidana Penipuan.
Explanation:
Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana:
“Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Yang menjadi yurisprudensi ialah Putusan Mahkamah Agung No. 133 K/Kr/1973 tanggaI 15-11-1975: “Seseorang yang menyerahkan cek, padahal ia mengetahui bahwa cek itu tidak ada dananya, perbuatannya merupakan tipu muslihat sebagai termaksud dalam Pasal 378 KUHP.”

Hingga saat ini, kaidah demikian masih tetap dipertahankan, sebagaimana dapat kita temui pada Putusan Pengadilan Negeri Ponorogo Nomor 45/Pid.B/2012/PN.PO yang diputus pada tanggal tanggal 9 April 2012, atas tuntutan pidana penipuan dengan menggunakan dua buah cek kosong, menjatuhkan amar putusan: “Menyatakan bahwa terdakwa tersebut diatas terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Penipuan yang dilakukan terus menerus sebagai perbuatan yang dilanjutkan.”

Suatu hubungan perikatan perdata, tidak selamanya memiliki konsekuensi hukum keperdataan semata. Ketika suatu hubungan hukum keperdataan dilandasi adanya itikad tidak baik berupa niat batin hendak menipu sejak semula, maka selain tanggung jawab keperdataan yang dapat digugat secara perdata (wanprestasi), terhadap pelaku juga dapat dijerat secara pidana dengan ancaman penjara.

Kecuali bila sang pemberi cek tidak menyadari bahwa dana dalam rekening tidak mencukupi, dan segera mengambil langkah koreksi ketika diberikan teguran oleh penerima cek, sebagai wujud itikad baik, maka hal tersebut menjadi semata tanggung-jawab keperdataan / kontraktual, tidak masuk dalam ranah hukum pidana.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

[IKLAN] Butuh & Mencari Souvenir Resepsi Pertunangan / Pernikahan? KLIK GAMBAR Temukan Koleksi

Souvenir Impor untuk Resepsi Pernikahan dari Thailand

(Advertisement) KWANG EARRING, Tampil Memukau dengan Harga Terjangkau [KLIK GAMBAR Lihat Koleksi]

KLIK GAMBAR untuk menemukan koleksi asesoris dengan harga terjangkau namun berkualitas, toko online anting Jakarta