SENI PIKIR & TULIS
Misi Misionaris adalah Pendekatan Humanistis, Cinta
Kasih, Perdamaian, Kesejukan, Keteduhan, dan Ahimsa (TANPA KEKERASAN), Bukan
Kekerasan Fisik, Intimidasi, Teror, Ancaman, Paksaan, Aniaya, terlebih
Radikalisme
Agama semestinya membuat Umatnya Lebih Toleran dan
Lebih Humanis, bukan justru Mengubah yang Semula Toleran menjelma Intoleran dan
Radikal, dari Semula Humanis menjadi Premanis dan Hewanis
Sejarah selalu Terulang dengan Pola yang Sama, Lahir
dari Kekerasan, Bertumbuh Lewat Kekerasan, dan Bertahan dengan Kekerasan,
Pola-Pola Kekerasan yang justru Mendukung Catatan Bersejarah dalam Serat Darmogandul
Bayangkan kejadian bersejarah berikut
yang terjadi pada abad ke-15 di Bumi Pertiwi, ketika Kerajaan Majapahit masih
berdiri sebagai kerajaan Buddhist yang dikenal toleran terhadap agama-agama
NON-Buddhisme untuk masuk dan berkembang (kebhinekaan). Maka, para pemuka
“agama I” dapat mendarat dan menyebarkan agamanya kepada penduduk di Pulau
Jawa, Sumatera, dsb. Ketika warga setempat menolak untuk meyakini dan memeluk
“agama I”, bahkan menyebutnya sebagai “agama setan yang sesat”, apakah para
misionaris “agama I” yang diberi nama “sepuluh wali” tersebut akan menanggapi
dengan respon berikut : PUKUL, ANCAM, TEROR, ANIAYA, KEROYOK, BUNUH, PENGGAL,
TAWAN, PENJARAKAN, dan kekerasan fisik maupun intimidasi mental lainnya?