07 April, 2018

Evy Susantie, PENGACARA PENIPU

Keliru bila Anda berpikir, bahwa dengan menjadi pengacara, maka Anda berhak untuk menindas masyarakat yang bukan pengacara, karena hukum dan keadilan bukanlah monopoli kalangan pengacara manapun!


Masyarakat di Tanah Air agar hendaknya berhati-hati terhadap seorang advokat / lawyer bernama Evy Susantie, karena pengacara bernama Evy Susantie tersebut adalah seorang penipu, pengacara spesialis menipu yang gemar dan terbiasa untuk memutar-balik fakta.

Agar seluruh anggota masyarakat berhati-hati serta waspada terhadap seorang pengacara bernama Evy Susantie, agar tidak menjadi korban serupa penipuan dan perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh advokat bernama Evy Susantie tersebut.

Awal mulanya, pada permulaan medio April 2018, pengacara bernama Evy Susantie menghubungi kami untuk membeli eBook Hukum Ketenagakerjaan & Hubungan Industrial. Setelah dana pembelian ditransaksikan, file ebook berupa ".pdf", kami kirimkan.

Para pembeli lain, tidak memiliki kendala saat menerima kiriman eBook via email. Meski eBook telah sukses terkirim pada pengacara bernama Evy Susantie, namun pengacara bernama Evy Susantie ini komplain dengan alasan eBook tidak dapat dibuka.

Selama sehari penuh kami harus meladeni pengacara bernama Evy Susantie, yang beralasan eBook tidak dapat dibuka. Berulang kali telah kami kirim ulang file eBook, bahkan hingga kami uji tes terhadap attachment email, hingga proses pembukaan file eBook yang kami telah kirimkan, ternyata pembukaan eBook via handphone maupun komputer, sama sekali tidak bermasalah dan dapat dibuka tanpa kendala apapun. Kesimpulannya: yang bermasalah ialah pengacara bernama Evy Susantie, namun kami masih dapat bersikap sabar selama sehari penuh meladeni sang pengacara yang ternyata berniat jahat untuk menipu ini.

Dengan sabar kami memandu pengacara bernama Evy Susantie untuk membuka eBook. Namun dengan amat menyakitkan hati, pengacara bernama Evy Susantie menyatakan bahwa kami telah berbohong dan menipu yang bersangkutan.

Tidak terima disebut sebagai pembohong dan penipu, kami pada akhirnya menawarkan refund, alias uang pembelian kami kembalikan. Namun pengacara bernama Evy Susantie tetap menyatakan kami telah berbohong ketika kami menyatakan telah mengirim file eBook via WhatsApp setelah berulang kali kami kirim eBook via email dan WhatsApp.

Waktu kami seharian habis hanya untuk harga eBook yang tidak seberapa nilainya. Namun apa balasannya? Pengacara bernama Evy Susantie justru mencemarkan nama baik kami dengan men-share tentang kami seolah sebagai penjual ebook yang tidak jujur kepada grup para pengacara. Sungguh, pengacara bernama Evy Susantie adalah "penipu teriak penipu" alias "maling teriak maling".

Setelah proses testing dan pengiriman ulang, hingga audit terhadap email terkirim dan file eBook lampiran, tidak ada masalah apapun. Dapat dibuka dengan baik via komputer maupun via handphone. Hanya pengacara bernama Evy Susantie yang demikian pandai memutar balik fakta yang sudah ada di depan mata, sebagai cerminan kebiasaan pengacara bernama Evy Susantie untuk berdusta dikesehariannya.

Tidak ada seorang penipu yang tidak terbiasa menipu sebelumnya, tidak terkecuali pengacara penipu bernama Evy Susantie yang sangat berbahaya dan beracun.

Ratusan pembeli eBook kami, tidak pernah memiliki kendala apapun saat proses pembelian dan pembukaan file eBook. Bukan ucapan terimakasih yang kami terima, pengacara bernama Evy Susantie justru menyatakan kami sebagai pembohong dan penipu.

Pengacara bernama Evy Susantie menyatakan bahwa dirinya adalah pengacara, mengancam kami tanpa dasar yang jelas, lalu mencemarkan nama kami yang justru sebenarnya adalah korban penipuan dari pengacara bernama Evy Susantie.

Dua kali kami tawarkan untuk refund, dan meminta nomor rekening yang bersangkutan, namun pengacara bernama Evy Susantie menolak untuk refund dan tetap kukuh menyatakan kami sebagai penipu. Menolak diberikan refund, maka "siapa yang menipu siapa?"

Pengacara bernama Evy Susantie, karena telah mencemarkan nama baik kami, maka dalam media publikasi ini kami mengungkap fakta perihal pengacara bernama Evy Susantie, tidak lebih dari seorang pengacara penipu dan pembohong, yang pandai memutar-balik fakta yang sudah jelas di depan mata.

Kami memiliki rekap email hingga arsip pembicaraan via WhatsApp, sebagai bukti otentik, sehingga kami menyatakan keakuratan dan kebenaran materiil dari publikasi ini, dan dapat kami pertanggung-jawabkan sepenuhnya, bahwa pengacara bernama Evy Susantie adalah pengacara penipu dan pembohong yang pandai mengkriminalisasi dan "maling teriak maling".

STATEMENT KAMI: Pengacara bernama Evy Susantie adalah seorang PENIPU DAN TUKANG TIPU.

Dengan informasi ini, semoga masyarakat dapat waspada terhadap pengacara penipu bernama Evy Susantie, agar tidak lagi menjadi korban penipuan dari pengacara bernama Evy Susantie.

Sungguh, mereka yang berprofesi sebagai pengacara, sama sekali tidak menakutkan bagi kami. Justru sikap "maling teriak maling" semakin mengukuhkan stigma di tengah masyarakat, bahwa kalangan profesi pengacara adalah kaum arogan, sembrono, tidak bermoral, menghalalkan segala cara, premanisme, sok jago, sok kuasa, tukang ancam, tidak punya etika, pendosa, licik, tidak dapat dipercaya, pandai bersilat lidah, penipu, pandai merekayasa kasus, hanya handal dalam aksi suap-menyuap, pembohong, maling teriak maling, tidak dapat dipercaya, dan pandai memutar-balik fakta.

Kalangan advokat mencari uang dari sengketa klien, maka dari itu tidak heran bila kalangan lawyer kerap memperkeruh keadaan sang klien guna mendorong terjadinya sengketa, bukan dari ranah preventif dan mitigasi sang klien yang merupakan domain profesi Konsultan Hukum.

Dari sudut pandang tersebut, jelas bahwa profesi Konsultan Hukum jauh lebih mulia dan jauh lebih kredibel dari kalangan advokat manapun. Sarjana hukum elite tidak pernah berasal dari kalangan pengacara, dan semua pengusaha tahu persis akan kebenaran ini: menang jadi arang, kalah jadi abu. Pengusaha yang cerdas memilih Konsultan Hukum, untuk mencegah terjadinya sengketa, bukan sebaliknya mencari perkara di pengadilan.

Pengacara manakah, yang mau bersikap terbuka dan jujur terhadap klien, dengan mengungkap fakta dimuka bahwa kemenangan dalam gugatan perkara perdata, justru hanya akan membuka lembaran masalah baru, karena perkara perdata selalu terbentur masalah eksekusi putusan.

Bahkan, pada satu waktu pernah seorang pengacara meminta penulis untuk menghapus publikasi hukum yang kebetulan terkait perkara klien sang pengacara, meski sang klien menang dalam gugatannya. Itulah bukti konkret, kebenaran dari adagium: menang jadi arang dan kalah jadi abu.

Bukan hanya kali ini saja para advokat berupaya menipu kami, namun telah berulang-kali terjadi penipuan oleh mereka yang menyandang gelar advokat terhadap kami. Mulai dari berpura-pura sebagai calon klien ketika menghubungi kami, namun sejatinya mencoba mencuri ilmu kami. Belum lagi lawyer yang ingkar janji terhadap kesepakatan yang kami buat bersama. Hingga sikap arogansi dan premanisme, telah pula kami hadapi. Kesimpulannya hanya satu yang kini dapat kami tarik: pengacara adalah kaum yang tidak dapat dipercaya dan tidak dapat diberikan kepercayaan apapun! Tidak pula dapat "dipegang" ucapannya, selalu merasa pandai berkelit dari ikatan komitmen dengan 1001 alasan mengada-ada, seakan sudah "bawaan lahir dan bawaan sejarah kaum pengacara".

Dalam kesempatan ini pula, akan kami ungkap kejahatan terbesar kalangan profesi advokat, yakni: menghapus "pokrol bambu", dimana akses ke lembaga peradilan menjadi sepenuhnya monopoli usaha kalangan advokat. Terbukti, praktik hukum di Tanah Air lebih rusak ketimbang praktik hukum "pokrol bambu" beberapa dekade lampau. Monopoli usaha (alias monopoli mencari nafkah dari beracara di peradilan), adalah cerminan tidak etisnya kalangan profesi advokat yang mencari nafkah dari praktik monopoli kewenangan demikian.

Akhir kata, kami nyatakan bahwa  pengacara bernama Evy Susantie tidak lebih dari sekadar penipu ulung. Entah sudah berapa banyak anggota masyarakat disamping kami yang menjadi korban pelecehan dan penipuan oleh pengacara bernama Evy Susantie.

Singkat kata, pengacara bernama Evy Susantie adalah pengacara spesialis tipu-menipu, berbohong, putar balik fakta, maling teriak maling, dan TIDAK TAHU MALU!!!

Itulah profil singkat pengacara penipu, bernama Evy Susantie. Kami menjamin kebenaran fakta-fakta dalam publikasi ini, berdasarkan bukti-bukti otentik yang telah kami miliki, agar publik terhindar dari penipuan serupa.

Semakin besar kekuatan dan kekuasaan, semakin besar tanggung jawab. Seorang pengacara penipu bernama Evy Susantie, terlampau angkuh dan culas untuk mampu memahami prinsip kemanusiaan paling mendasar demikian.

Masyarakat tidak perlu segan terhadap kalangan advokat. Lihatlah Otto Cornelis Kaligis (OC Kaligis), lihat pula nasib Frederic Yunadi, atau berbagai kasus OTT KPK terhadap pengacara yang menyuap hakim dan panitera, hanya hebat dalam hal suap-menyuap, rekayasa kasus, menipu, berbohong, berkilah, sama sekali tidak pandai soal hukum.

Sama sekali tidak ada yang istimewa dari profesi pengacara, namun yang ada hanyalah arogansi dan kesewenang-wenangan. Semestinya mereka yang berprofesi sebagai lawyer, merasa malu, bukan merasa bangga.

Kini, izinkan kami mengungkap sebuah fakta yang selama ini ditutupi kalangan pengacara di Tanah Air: hanya orang yang tidak memahami hukum, yang takut atau bahkan gentar menghadapi pengacara.

Semua warga negara, sama derajatnya di mata hukum. Mereka yang betul-betul menguasai ilmu hukum, tidak pernah sedikit pun gentar menghadapi kalangan pengacara.

Bercermin dari kejadian dimana Otto Hasibuan, mantan Ketua PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia), dipermalukan dan dipecundangi secara telak oleh Jaksa Penuntut, bahkan disindir oleh Majelis Hakim dalam putusannya sebagai "pengacara tidak beretika" dalam kasus "Jessica Wongso--Kopi Es Vietnam".

Dimana kode etik dan penegakan etiknya, bila PERADI saling mengklaim kekuasaan dan penguasaan hingga terpecah menjadi tiga organisasi bernama PERADI? Kini, bahkan kami kesukaran mengadukan pelanggaran etik yang dilakukan oleh pengacara penipu bernama Evy Susantie. PERADI yang mana?

Juga fakta empirik tidak terbantahkan, bahwa separuh dari jumlah gugatan pengacara di pengadilan, di-TOLAK hakim, membuktikan betapa lemahnya penguasaan hukum kalangan pencara di Tanah Air.

Sehingga, ketika pengacara penipu bernama Evy Susantie mencoba mengintimidasi kami dengan menyebut bahwa dirinya adalah pengacara, adalah ironis, dan layak ditertawai karena sama sekali tidak membuat gentar mereka yang benar-benar memahami hukum.

Mereka yang berprofesi sebagai pengacara, seharusnya merasa malu, bukan bangga. Jangan pula lupakan dosa-dosa Anda, wahai kalangan profesi pengacara, yang telah membuat klien yang membayar mahal jasa Anda, menderita kekalahan di persidangan. Berapa banyak klien yang telah menjadi "korban harapan palsu" Anda?

Sudah bukan zamannya menjual "kecap nomor 1" ataupun memamerkan gelar "pengacara" ke publik, seakan berasumsi dapat membuat orang lain takut. Pengacara yang disegani, ialah mereka yang tidak pernah kalah di persidangan, juga tidak kalah di alam baka menghadapi hakim kematian.

Publikasi ini juga sekaligus somasi bagi pengacara penipu bernama Evy Susantie. Bila sang pengacara yang "sok hebat" ini tidak mampu menggugat atau mempidana kami yang mempublikasi fakta tentang pengacara penipu bernama Evy Susantie, maka itu sudah menjadi bukti konkret betapa "PECUNDANG"-nya pengacara bernama Evy Susantie.

Kepada pengacara penipu bernama Evy Susantie itukah, masyarakat akan menyerahkan nasibnya?

Mungkin saja pengacara penipu bernama Evy Susantie akan meniru langkah OC Kaligis maupun Frederic Yunadi untuk bermanuver lewat rekayasa kasus, menyuap hakim, namun apakah sang "pengacara hebat" ini mampu menyuap hukum karma?

Selama kalangan profesi pengacara masih sama-sama memakan "nasi", bukan makan "bijih besi", tidak ada yang perlu ditakutkan oleh masyarakat.

Izinkan pula kami mengungkap fakta berikut: Keadilan dan kebenaran, bukanlah monopoli kaum pengacara!!!

ADAKAH KALANGAN PROFESI PENGACARA YANG BERANI MENGKLAIM, PERNAH MENANG BERDEBAT PERIHAL HUKUM DAN KEADILAN DENGAN KAMI?

Mungkin kami pernah atau akan kalah beradu argumentasi hukum menghadapi akademisi ataupun sarjana hukum lain, namun tidak terhadap kalangan pengacara.

KONSULTAN HUKUM SHIETRA. Kami LEBIH dari sekadar mengutip bunyi Undang-Undang, Hukum yang REAL.

KONSULTAN HUKUM SHIETRA. Kami LEBIH dari sekadar mengutip bunyi Undang-Undang, Hukum yang REAL.
HR. Rasuna Said. Kawasan Epicentrum Utama, EPIWALK Nomor A529, Kuningan, Jakarta. TEKAN GAMBAR UNTUK MENGHUBUNGI KAMI

Kepastian Hukum Bertopang pada Daya Prediktabilitas Paling Minimum dalam Hukum (PREDICTABILITY)

Foto saya

Trainer & Legal Consultant SHIETRA & PARTNERS didirikan tahun 2013, dengan spesialisasi konsultasi hukum dibidang preseden Perdata dan Pidana. Berkomitmen sebagai profesional dalam setiap layanan jasa hukum, dengan tetap memegang teguh idealisme dan etika profesi.

Bila Anda mengetahui nomor kontak atau email kami, berarti Anda telah menyadari profesi penulis yang mencari nafkah dari "menjual jasa" layanan sebagai Konsultan Hukum, dan menyetujui TARIF KONSULTASI yang berlaku. 

HANYA KLIEN PEMBAYAR TARIF JASA YANG BERHAK MENCERITAKAN MASALAH / MENGAJUKAN PERTANYAAN HUKUM.

Pihak-pihak yang menyalah-gunakan nomor kontak / email kami, dengan berpura-pura tidak mengetahui ketentuan tarif konsultasi maupun berpura-pura tidak menyadari Konsultan Shietra mencari nafkah dari layanan jasa tanya-jawab seputar hukum, ID yang bersangkutan akan dipublish pada laman BLACKLIST.

Bagi yang berminat mengakses ribuan konten artikel kami (akses full database), disediakan layanan MEMBERSHIP. Tersedia untuk bulanan maupun tahunan.

Bagi yang membutuhkan layanan jasa penulisan, kami menyediakan jasa CONTENT WRITER. Sementara yang membutuhkan jasa Training atau layanan Tutorial Hukum bagi klien korporasi, kami menyediakan PELATIHAN.